NTTSatu.ID – Semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Hal itu dibuktikan oleh warga RT 006/RW 002, Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, yang bergotong royong memperbaiki akses jalan rusak di kawasan kali mati yang menjadi penghubung menuju Jalan Jalur Dua Petuk.
Akses jalan tersebut selama ini menjadi jalur alternatif yang banyak digunakan masyarakat karena lebih dekat menuju jalan utama. Selain warga sekitar, jalan itu juga dimanfaatkan oleh mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat dari berbagai wilayah yang melintas setiap hari.
Namun, kondisi jalan yang rusak dan keberadaan sebuah kali kecil yang memutus akses membuat mobilitas warga menjadi terganggu dan membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim hujan.
Berangkat dari kepedulian bersama, warga RT 006 memutuskan untuk tidak tinggal diam. Dengan semangat kebersamaan, mereka bergandengan tangan memperbaiki jalan menggunakan dana dan material hasil swadaya masyarakat.
Kegiatan gotong royong tersebut dipimpin langsung oleh Ketua RT 006 Kelurahan Naimata, Karel Mau, dan diikuti oleh puluhan warga komplek yang dengan sukarela menyumbangkan tenaga maupun material berupa pasir, batu, semen, tanah putih, air, serta kebutuhan lainnya.
“Kami masyarakat merintis dan memperbaiki jalan ini dengan swadaya sendiri. Semua material seperti pasir, batu, semen, tanah putih, air dan lainnya berasal dari warga. Kami bekerja bersama dengan semangat persatuan, meskipun masih banyak kekurangan yang harus kami hadapi,” ujar Karel Mau di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, perbaikan jalan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap fasilitas umum yang setiap hari digunakan oleh banyak orang. Namun, karena keterbatasan dana, pekerjaan belum dapat diselesaikan secara maksimal.
Ia berharap Pemerintah Kota Kupang dapat memberikan perhatian dan dukungan agar pembangunan jalan tersebut bisa segera dituntaskan.
“Harapan kami pemerintah bisa membantu kami dalam berbagai bentuk sehingga pekerjaan ini dapat dipercepat. Jalan ini dipakai oleh masyarakat banyak, termasuk anak-anak kampus, warga sekitar, hingga masyarakat dari luar Kelurahan Naimata. Kami sangat membutuhkan bantuan pemerintah agar akses transportasi menjadi lebih lancar dan aman,” katanya.
Karel juga mengungkapkan bahwa pekerjaan perbaikan jalan masih akan terus berlanjut. Ia mengajak seluruh warga RT 006 untuk tetap menjaga kekompakan dan terus bergotong royong menyelesaikan persoalan akses jalan yang selama ini menjadi kebutuhan bersama.
“Masih ada pekerjaan lanjutan. Kami berharap seluruh warga mengambil bagian agar persoalan jalan ini bisa diselesaikan bersama. Ada sebuah kali kecil yang menghambat akses dan beberapa bagian jalan masih mengalami kerusakan. Karena itu, kami akan terus saling bahu-membahu agar jalan ini dapat digunakan dengan baik oleh masyarakat luas,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang warga RT 006 yang ikut bekerja dalam kegiatan tersebut, Yason Nifu, menegaskan bahwa seluruh biaya perbaikan jalan berasal dari swadaya masyarakat tanpa bantuan pihak lain.
“Kegiatan hari ini murni menggunakan dana swadaya masyarakat RT 006. Kontribusi warga diberikan dalam bentuk material seperti batu, pasir, semen, tanah putih, air, dan kebutuhan lainnya. Semua disumbangkan secara sukarela oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi perbaikan,” jelasnya.
Yason berharap semangat gotong royong yang telah ditunjukkan warga RT 006 dapat menginspirasi masyarakat lainnya, khususnya di wilayah Sungkaen dan Kelurahan Naimata, untuk bersama-sama menjaga dan membangun fasilitas umum yang menjadi kebutuhan bersama.
“Ke depan kami berharap masyarakat Sungkaen, khususnya Naimata, jika ada kegiatan seperti ini lagi mari kita bergabung bersama. Jalan ini bukan hanya untuk warga RT 006, tetapi untuk seluruh masyarakat yang melintas di kawasan ini. Dengan kebersamaan, pekerjaan yang berat akan menjadi ringan,” ungkapnya.
Aksi gotong royong tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian dan solidaritas masyarakat masih sangat kuat. Di tengah keterbatasan, warga memilih bergerak bersama memperbaiki infrastruktur yang menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.
Kini, harapan besar masyarakat tertuju kepada pemerintah agar dapat memberikan perhatian melalui pembangunan yang lebih permanen. Dengan demikian, akses jalan penghubung menuju Jalur Dua Petuk dapat menjadi lebih aman, nyaman, dan layak digunakan oleh seluruh masyarakat.(*)



Komentar