NTTSatu.ID – Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar tahapan wawancara bagi calon mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) angkatan perdana untuk Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Obsgin). Seleksi ini menjadi bagian penting dalam menjaring dokter-dokter terbaik yang siap mengabdi dan memperkuat layanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
PPDS yang dibuka FKKH Undana merupakan program pendidikan dokter spesialis pertama di Provinsi NTT. Kehadiran program ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan dokter umum asal NTT yang selama ini harus melanjutkan pendidikan spesialis di luar daerah. Program tersebut resmi dibuka pada 2026 sebagai bagian dari upaya pemerataan tenaga dokter spesialis di wilayah timur Indonesia.
Direktur Utama RSUP dr. Ben Mboi Kupang, dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Sp.An, mengatakan antusiasme dokter-dokter asal NTT untuk mengikuti pendidikan spesialis sangat tinggi. Menurutnya, pembukaan PPDS di Undana merupakan momentum besar bagi pengembangan sumber daya manusia kesehatan di daerah.
“Anak-anak NTT sekarang memiliki kesempatan menjadi dokter spesialis tanpa harus keluar daerah. Ini merupakan wujud komitmen kami menghadirkan pendidikan dokter spesialis di Kupang sehingga kebutuhan tenaga dokter spesialis di NTT dapat dipenuhi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa wawancara bukan sekadar mengukur kemampuan akademik peserta, tetapi lebih jauh menggali kesiapan mental dan komitmen mereka menjalani pendidikan yang dikenal memiliki tingkat kesulitan dan tekanan tinggi.
Tim penguji, lanjutnya, menilai berbagai aspek mulai dari motivasi memilih program spesialis, dukungan keluarga, kesiapan pasangan dan anak, hingga komitmen menyelesaikan pendidikan sampai tuntas.
“Dukungan keluarga sangat penting. Kami ingin memastikan ketika mereka mulai pendidikan, mereka tidak berhenti di tengah jalan. Karena itu kami menggali komitmen mereka melalui berbagai pertanyaan selama wawancara,” jelasnya.
Salah satu peserta Program Studi Obstetri dan Ginekologi, dr. Elias Warnanta Syahputra Ginting, mengaku wawancara berlangsung sekitar satu jam. Menurutnya, pertanyaan yang diajukan lebih banyak menggali motivasi pribadi, pengalaman selama menjadi dokter umum, pelatihan yang pernah diikuti, hingga rencana pengabdian setelah menjadi dokter spesialis.
Ia mengatakan dirinya juga diminta menjelaskan rencana kembali mengabdi di Kabupaten Alor setelah menyelesaikan pendidikan.
“Selain menjawab pertanyaan, kami juga mendapatkan banyak masukan dan arahan dari para penguji mengenai tanggung jawab seorang dokter spesialis dan tantangan yang akan dihadapi selama pendidikan maupun saat bertugas nanti,” katanya.
Hal senada disampaikan peserta Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. Yongki Gusario. Ia menyebut wawancara lebih menitikberatkan pada komitmen pengabdian setelah lulus, termasuk kesiapan menjadi tenaga pendidik apabila dibutuhkan.
Selain itu, peserta juga diminta berbagi pengalaman menangani berbagai kasus medis serta bagaimana menghadapi dilema yang mungkin muncul selama menjalani pendidikan spesialis.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Obstetri dan Ginekologi, dr. Kristian Ratu, menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan sangat ketat demi memastikan calon dokter spesialis memiliki ketangguhan mental dan integritas yang tinggi.
Dari empat peserta yang mengikuti tahapan wawancara pada Program Studi Obstetri dan Ginekologi, hanya dua orang yang dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima. Hasil tersebut diperoleh setelah seluruh tahapan seleksi, mulai dari tes awal hingga wawancara, digabungkan dan dibahas dalam rapat penentuan kelulusan.
Menurutnya, pendidikan dokter spesialis memiliki tekanan yang sangat besar sehingga hanya peserta yang benar-benar siap secara akademik maupun psikologis yang layak diterima.
“Kami benar-benar melakukan penyaringan secara ketat. Menjadi dokter spesialis membutuhkan ketahanan mental yang kuat. Tekanan dari pekerjaan, masyarakat, hingga media sosial semakin besar. Karena itu kami ingin memastikan mereka yang diterima benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut,” tegasnya.
Pelaksanaan seleksi PPDS ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Undana dan dunia kesehatan di NTT. Dengan hadirnya pendidikan dokter spesialis di Kupang, diharapkan semakin banyak dokter asal NTT yang dapat meningkatkan kompetensi tanpa meninggalkan daerah, sekaligus mempercepat pemerataan layanan kesehatan berkualitas hingga ke wilayah terpencil di provinsi kepulauan tersebut.(*)



Komentar