NTTSatu.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat yang terdampak bencana gempa di Pulau Flores.
Kali ini, melalui Fakultas Sains dan Teknik (FST), Undana menerjunkan mahasiswa pada Jumat 4 September 2026 untuk membantu penanganan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah terdampak.
Mahasiswa FST Undana akan menjalankan misi kemanusiaan melalui program Magang Berdampak Peduli Bencana Gempa Flores. Mereka akan fokus melakukan identifikasi dan inventarisasi berbagai kerusakan infrastruktur, mulai dari keretakan bendungan, jalan rusak dan terputus, longsoran, hingga persoalan penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Pelepasan mahasiswa relawan berlangsung di Lobi Rektorat Universitas Nusa Cendana, Kamis (3/9/2026).
Para mahasiswa secara resmi dilepas oleh Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng.
Turut hadir mendampingi Rektor, Wakil Rektor III Undana, Dr. Rudi Rohi, M.Si., serta Wakil Rektor IV sekaligus Plt Dekan FST, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D.
Dari lingkungan FST hadir Wakil Dekan II, Fakultas Sains dan Teknik, Dr. Ir. Erich Umbu Kondi Maliwemu, S.T., M.Eng., Ketua Program Studi Teknik Pertambangan, Noni Banunaek, S.T., M.T., sejumlah dosen, serta mahasiswa yang akan diberangkatkan sebagai relawan.
Penerjunan mahasiswa FST ini merupakan kloter keempat relawan yang dikirim Undana untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Flores.
Jika pada tiga kloter sebelumnya Undana mengirim relawan dengan fokus pada distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dan pendampingan masyarakat, maka kloter keempat memiliki tugas berbeda.
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknik diterjunkan secara khusus untuk membantu mengidentifikasi dan menangani persoalan infrastruktur yang terdampak akibat gempa.
Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng. memberikan sejumlah pesan penting kepada mahasiswa sebelum diberangkatkan.
Ia mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan Fakultas Sains dan Teknik dalam membantu masyarakat Flores yang sedang berada dalam masa pemulihan.
Menurutnya, kepedulian tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab seluruh elemen masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk saling membantu ketika terjadi bencana.
“Saya mengapresiasi dan berterima kasih atas kontribusi kita semua. Kehadiran adik-adik di lapangan merupakan hal yang baik dan menjadi bentuk kepedulian kita sebagai bagian dari masyarakat Nusa Tenggara Timur,” ujar Rektor.
Namun demikian, Prof. Jefri mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan selama menjalankan tugas di daerah terdampak.
Mahasiswa diminta mempersiapkan kebutuhan pribadi, termasuk obat-obatan dan perlengkapan kesehatan yang mungkin dibutuhkan selama berada di lokasi.
Ia mengingatkan bahwa kondisi daerah terdampak bencana tentu berbeda dengan situasi normal.
Akses terhadap kebutuhan tertentu yang mudah diperoleh di Kupang belum tentu tersedia dengan mudah di lokasi penugasan.
“Yang pertama, adik-adik harus tetap menjaga kesehatan. Jangan sampai sudah tiba di sana kemudian sakit atau terganggu kesehatannya. Semua kebutuhan yang diperlukan harus dipersiapkan dengan baik karena daerah tujuan kita sedang berada dalam kondisi pemulihan,” pesannya.
Rektor juga menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak di lokasi penugasan.
Mahasiswa diminta untuk selalu membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait, masyarakat, serta dosen pembimbing.
Menurutnya, mahasiswa Undana hadir bukan sebagai pihak utama dalam penanganan bencana, tetapi sebagai bagian dari kekuatan masyarakat yang memberikan dukungan sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya.
Karena itu, setiap aktivitas harus dikoordinasikan dengan lembaga resmi yang memiliki kewenangan di lapangan.
“Kita bukan memiliki fungsi utama untuk menangani seluruh persoalan di sana. Tetapi kehadiran kita tentunya untuk memberikan dukungan. Karena itu koordinasi dan komunikasi dengan dosen maupun instansi di tempat kalian bertugas sangat penting,” tegasnya.
Ia berharap kehadiran mahasiswa Undana benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung kerja pemerintah dan lembaga resmi dalam proses pemulihan.
“Minimal kehadiran adik-adik di sana benar-benar dapat memberikan support atau bantuan bagi instansi, lembaga resmi maupun masyarakat yang terkena dampak gempa,” katanya.
Selain menjalankan misi kemanusiaan, Prof. Jefri Bale mengingatkan mahasiswa agar tetap memperhatikan kewajiban akademik.
Program yang dijalankan mahasiswa merupakan bagian dari kegiatan magang yang akan direkognisi dalam mata kuliah hingga 20 SKS.
Karena itu, seluruh aktivitas selama berada di lapangan harus tetap dikomunikasikan dengan dosen pembimbing dan pendamping.
Mahasiswa diminta memastikan seluruh capaian pembelajaran dapat terpenuhi selama menjalankan tugas kemanusiaan.
“Tugas utama adik-adik ketika berada di sana adalah menyelesaikan mata kuliah melalui program magang. Jadi jangan sampai kewajiban akademik dilupakan. Semua aktivitas harus tetap dikomunikasikan dengan pembimbing dan pendamping,” pesan Rektor.
Ia berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan tugas akademik dengan kegiatan kemanusiaan sehingga keduanya dapat berjalan secara seimbang.
Pesan lain yang disampaikan Rektor adalah pentingnya membangun empati terhadap masyarakat terdampak bencana.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berharap masyarakat akan memberikan respons seperti dalam situasi normal.
Masyarakat yang sedang menghadapi bencana bisa saja berada dalam kondisi trauma, kehilangan anggota keluarga, kehilangan harta benda, atau sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Karena itu, mahasiswa diminta memahami situasi tersebut dan membangun komunikasi dengan penuh kesabaran.
“Kita jangan mengharapkan orang memberikan respons seperti pada saat kondisi normal. Bisa jadi mereka sedang mengalami kesulitan dan tidak fokus pada hal-hal lain. Karena itu, kita yang harus menjaga komunikasi dan memahami kondisi mereka,” ujarnya.
Rektor juga meminta seluruh mahasiswa untuk saling menjaga dan tidak bekerja secara individual selama berada di lokasi.
Kebersamaan dan solidaritas menjadi modal penting dalam menjalankan tugas di daerah terdampak bencana.
Ia secara khusus meminta mahasiswa laki-laki dan perempuan untuk saling menjaga sebagai satu tim selama menjalankan penugasan.
Penerjunan mahasiswa FST ke Flores menjadi bukti bahwa semangat Undana Berdampak tidak hanya berhenti pada slogan.
Perguruan tinggi didorong untuk hadir dan memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Wakil Dekan II FST Undana, Dr. Erich Umbu Kondi Maliwemu, mengatakan keterlibatan fakultasnya merupakan bagian dari gerakan besar Undana Peduli Bencana Gempa Flores.
Menurutnya, sebagai bagian dari Universitas Nusa Cendana, FST memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk ikut memberikan kontribusi kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki.
“FST tentunya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Universitas Nusa Cendana dan memiliki kepedulian yang sama untuk turut membantu dalam penanganan bencana sesuai dengan kapasitas ataupun porsi yang dimiliki oleh Fakultas Sains dan Teknik,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa yang diberangkatkan kali ini menggunakan skema berbeda dari relawan Undana sebelumnya.
Jika tiga kloter terdahulu menggunakan skema KKN Tematik, mahasiswa FST diterjunkan melalui program Magang Berdampak Peduli Bencana Gempa Flores.
Program tersebut tidak hanya memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menangani persoalan nyata di masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik yang dapat direkognisi menjadi Satuan Kredit Semester atau SKS.
Menurut Erich, fokus utama mahasiswa FST pada penugasan kali ini adalah penanganan infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Mahasiswa akan melakukan identifikasi dan inventarisasi terhadap sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan.
Salah satu perhatian utama adalah keretakan yang terjadi pada sejumlah infrastruktur, termasuk bendungan yang terdampak guncangan gempa.
Selain itu, mahasiswa juga akan melakukan pendataan terhadap jalan dan sarana transportasi yang mengalami keretakan, kerusakan, bahkan terputus akibat bencana.
Titik-titik longsor yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat juga menjadi bagian dari perhatian tim relawan.
“Mahasiswa kami kali ini fokus kepada penanganan infrastruktur yang rusak pascagempa Flores. Misalnya mencoba menginventarisir keretakan-keretakan yang terjadi di bendungan akibat gempa, kemudian sarana transportasi dan jalan yang terputus, retak maupun rusak akibat gempa, serta longsoran yang terjadi,” jelas Erich.
Tidak hanya melakukan pendataan kerusakan, mahasiswa juga akan terlibat dalam upaya mitigasi bencana.
Hal tersebut penting untuk membantu memetakan potensi risiko dan mencegah dampak yang lebih besar apabila bencana serupa kembali terjadi.
Persoalan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak juga menjadi salah satu bagian dari perhatian mahasiswa FST selama menjalankan tugas di lapangan.
“Kemudian juga untuk mitigasi apabila bencana serupa terjadi, termasuk berkaitan dengan penyediaan air bersih yang tentunya sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak bencana,” tambahnya.
Mahasiswa FST Undana akan menjalankan tugas di dua wilayah di Pulau Flores, yakni Maumere dan Ende.
Penempatan tersebut disesuaikan dengan karakteristik persoalan kebencanaan yang terjadi di wilayah Flores.
Erich menjelaskan, kondisi kebencanaan di Flores tidak hanya berkaitan dengan gempa tektonik.
Sejumlah wilayah juga menghadapi ancaman aktivitas gunung api dan gempa vulkanik.
Karena itu, mahasiswa akan bekerja sama dengan sejumlah instansi dan lembaga teknis yang memiliki kompetensi di bidang kebencanaan dan infrastruktur.
Mahasiswa yang diterjunkan akan bermitra dengan instansi terkait di bidang geologi dan kebencanaan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Nusra, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTT.
“Bencana yang dialami di Flores bukan hanya gempa yang disebabkan oleh gempa tektonik saja, tetapi di sana juga ada aktivitas gunung berapi dan aktivitas gempa vulkanik,” ujarnya.
Kolaborasi dengan berbagai mitra tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman profesional kepada mahasiswa sekaligus memastikan aktivitas relawan berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Mahasiswa FST Undana direncanakan fokus pada kegiatan penanganan dampak bencana selama kurang lebih satu bulan.
Namun karena kegiatan tersebut menggunakan skema magang, mahasiswa tetap harus melanjutkan program bersama mitra hingga memenuhi durasi magang yang dipersyaratkan.
Hal ini dilakukan agar seluruh aktivitas dapat direkognisi menjadi 20 SKS.
“Untuk bisa direkognisi menjadi 20 SKS, mahasiswa harus magang paling tidak sekitar tiga sampai empat bulan. Jadi setelah fokus penanganan bencana selama satu bulan, mereka tetap akan melanjutkan magang dengan mitra yang sama,” jelas Erich.
Menurutnya, skema tersebut menjadi cara untuk mengintegrasikan kegiatan kemanusiaan dengan proses pendidikan mahasiswa.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga belajar langsung menghadapi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Program tersebut sekaligus menjadi implementasi konsep pembelajaran berdampak yang mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan sosial dan kemanusiaan.
tiga kloter relawan Undana sebelumnya yang telah lebih dahulu membantu masyarakat Flores melalui distribusi logistik dan pelayanan kesehatan.
Kini, pada kloter keempat, Undana mengerahkan sumber daya dari Fakultas Sains dan Teknik untuk membantu pemulihan sektor infrastruktur.
“Ini merupakan Undana Berdampak yang terintegrasi sampai ke tingkat fakultas. Fakultas Sains dan Teknik turut mengambil bagian dalam membantu masyarakat terdampak bencana melalui skema Magang Berdampak Peduli Bencana Gempa Flores,” pungkas Erich.
Dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan teknis dan semangat kemanusiaan, para mahasiswa FST Undana kini bersiap menjalankan tugas di Flores.
Mereka tidak hanya membawa nama Universitas Nusa Cendana, tetapi juga membawa harapan bahwa kehadiran dunia pendidikan dapat menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sedang bangkit dari bencana.(*)



Komentar