GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » IAKN Kupang Perkuat Pelayanan Gereja Antar Generasi Lewat PKM di GPdI Torsina Ekam

IAKN Kupang Perkuat Pelayanan Gereja Antar Generasi Lewat PKM di GPdI Torsina Ekam

Ket: Dokumentasi Tim Pengabdian Kepada Masyarakat di GPdI Torsina Ekam. (NTTSatu)

NTTSatu.ID – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar di GPdI Torsina Ekam, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang , Nusa Tenggara Timur, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan yang diikuti para pelayan gereja, tokoh jemaat, dan masyarakat ini merupakan bagian dari PKM Mandiri IAKN Kupang yang dipadukan dengan program Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pelatihan Interdenominasi. 

Pada kesempatan yang sama, tim juga melaksanakan sosialisasi Program Pascasarjana IAKN Kupang sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi para pelayan gereja dan masyarakat.

Ketua tim PKM, Dr. Ezra Tari, mengatakan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat, terutama menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, gereja membutuhkan kesiapan untuk membangun kolaborasi antar generasi sehingga pelayanan tetap relevan tanpa kehilangan nilai-nilai iman yang menjadi dasar kehidupan bergereja.

Kolaborasi FKIP Undana dan Pemkab TTS Hadirkan PLP Domisili Berdampak

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ezra Tari membawakan materi bertajuk “Membangun Gereja Antar Generasi di Era Digital.” 

Ia menekankan bahwa era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi gereja. Karena itu, setiap generasi perlu membangun komunikasi, saling memahami, dan memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperluas pelayanan serta memperkuat pembinaan jemaat.

Sementara itu, Erasmus Toudengga, M.Pd, menyampaikan materi “Membangun Fondasi Spiritual bagi Pelayan Tuhan.” 

Ia mengingatkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau pengetahuan, tetapi juga oleh kehidupan rohani yang kuat, integritas, serta komitmen untuk melayani dengan rendah hati.

Materi berikutnya disampaikan oleh Nurhayati dengan tema “Membangun Jembatan Antar Generasi Melalui Pembinaan Jemaat.” 

Kolaborasi Empat Kampus Ternama Bersatu, Hadirkan Solusi Air Bersih dan Kesehatan Hewan bagi Warga Fatukoko – TTS

Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya pembinaan yang mampu menyatukan generasi tua dan generasi muda sehingga tercipta gereja yang harmonis, saling melengkapi, dan mampu melahirkan kader-kader pelayanan yang berkualitas.

Sedangkan Dr. Fenetson Pairikas membawakan materi “Menuju Gereja Elastis Intergenerasional.” 

Ia menjelaskan bahwa gereja perlu menjadi organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Alkitabiah. 

Gereja yang elastis, menurutnya, adalah gereja yang mampu merangkul seluruh kelompok usia, membuka ruang dialog, serta menciptakan pelayanan yang inklusif bagi semua generasi.

Selain menjadi wadah berbagi pengetahuan dan penguatan kapasitas pelayanan, kegiatan PKM ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai program studi di Program Pascasarjana IAKN Kupang. 

Resmob Jatanras Satreskrim Polres TTS Berhasil Menangkap DPO Kasus Pencurian Ternak Sapi

Sosialisasi tersebut diharapkan dapat mendorong para pelayan gereja, guru agama, maupun masyarakat umum untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi guna meningkatkan kompetensi dalam pelayanan dan pengabdian.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai tantangan pelayanan gereja di era digital, pola pembinaan jemaat, hingga strategi membangun kolaborasi lintas generasi dalam kehidupan bergereja.

Melalui kegiatan PKM ini, Dr. Ezra Tari berharap dapat terus memperkuat kemitraan dengan gereja dan masyarakat, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkokoh kehidupan spiritual, serta membangun gereja yang adaptif, inklusif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement