NTTSatu.ID – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan melalui pelaksanaan kegiatan revisi dan pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digelar pada Rabu, 1 April 2026.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Hotel Sasando, Kupang, dan menjadi momentum penting dalam memperkuat arah pendidikan yang berorientasi pada hasil sekaligus nilai-nilai spiritual.
Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th, serta dihadiri jajaran pimpinan kampus, di antaranya Wakil Rektor I Maryon D. Pattinaja, Ph.D, Wakil Rektor II Sance Tameon, M.Pd.K, dan Wakil Rektor III Dr. Kristian E. Y. M. Afi, M.Pd.K, para kepala biro dan unit, serta dosen.
Kehadiran para pimpinan ini menegaskan keseriusan institusi dalam melakukan transformasi kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Untuk memperkaya perspektif akademik, IAKN Kupang menghadirkan narasumber kompeten, Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang memberikan pemaparan mendalam terkait implementasi kurikulum berbasis OBE.
Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa OBE merupakan pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada capaian hasil (outcome), bukan sekadar proses pembelajaran.
Menurut Prof. Abdul, pendidikan tinggi saat ini harus mampu menghasilkan produk nyata dari proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lulusan diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga kompetensi yang siap digunakan di dunia kerja.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa orientasi tersebut tidak boleh semata-mata berfokus pada aspek ekonomi, melainkan harus diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan spiritual.
Prof. Abdul juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter, sikap, dan integritas sebagai indikator utama keberhasilan lulusan.
Dalam konteks perguruan tinggi keagamaan seperti IAKN Kupang, kekuatan iman dan landasan teologi dinilai menjadi faktor penting yang membentuk perilaku serta etos kerja lulusan di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Guru Besar bidang Psikologi itu mengapresiasi perkembangan signifikan IAKN Kupang dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyebut adanya peningkatan jumlah dosen lektor kepala, perbaikan akreditasi institusi menjadi “Baik Sekali”, serta bertambahnya dosen tersertifikasi dan dosen yang melanjutkan studi melalui program beasiswa sebagai capaian yang patut diapresiasi.
Dalam workshop ini, salah satu fokus utama yang dibahas adalah penguatan konsep “kurikulum cinta”. Konsep ini hadir sebagai jawaban atas kompleksitas kehidupan masyarakat yang majemuk, di mana perbedaan sering kali menjadi potensi konflik apabila tidak dikelola dengan baik.
Melalui kurikulum ini, perbedaan justru dibingkai sebagai kekuatan yang menyatukan, layaknya arus listrik yang menghasilkan energi karena adanya perbedaan kutub.
Kurikulum cinta yang dikembangkan mencakup empat aspek utama, yakni cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama tanpa memandang latar belakang, kemampuan hidup dalam keberagaman sebagai bangsa Indonesia, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Keempat aspek ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam seluruh proses pembelajaran di IAKN Kupang.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan program Kementerian Agama dalam menghadirkan kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai kasih dan kemanusiaan.
Melalui desain kurikulum yang baru, ruang belajar diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang pembentukan ketakwaan, penghargaan terhadap sesama, serta kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, IAKN Kupang optimistis dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, spiritualitas yang mendalam, serta kepedulian sosial yang tinggi.(*)


Komentar