NTTSatu.ID – Setelah mengabdi selama 13 tahun 4 bulan tanpa kepastian status, seorang guru di wilayah pedalaman Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Dalmaris Sanbein, akhirnya menerima SK Paruh Waktu.
Dalmaris diketahui telah mengajar di SMP Bian, Kecamatan Biboki Anleu, sejak 11 Januari 2013.
Selama lebih dari satu dekade, ia tetap setia menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik, meski belum memiliki kejelasan administrasi.
Perjalanan panjang tersebut bahkan melewati masa kepemimpinan dua bupati di Kabupaten TTU. Meski demikian, hingga pergantian kepemimpinan itu, SK yang dinantikan belum juga diterima.
Baru pada masa kepemimpinan Bupati TTU saat ini, Yoseph Falentinus Delasalle Kebo, harapan tersebut akhirnya terwujud. Dalmaris resmi menerima SK Paruh Waktu, yang menjadi bentuk pengakuan atas pengabdiannya selama ini.
Ia mengaku bersyukur dan terharu atas perhatian pemerintah daerah yang akhirnya memberikan kepastian bagi dirinya sebagai tenaga pendidik.
“Terima kasih banyak kepada Bupati TTU. Hari ini saya akhirnya menerima SK setelah sekian lama mengabdi,” ungkap Dalmaris.
Menurutnya, pengabdian sebagai guru di daerah bukanlah hal mudah. Berbagai keterbatasan harus dihadapi setiap hari, namun semangat untuk mendidik anak-anak tidak pernah surut.
Penerimaan SK ini menjadi momentum penting, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi banyak tenaga honorer lain yang masih menantikan nasib serupa.
Dalmaris berharap, ke depan pemerintah daerah terus memperhatikan para guru yang telah lama mengabdi, khususnya di wilayah terpencil.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tersebut juga mendapat tanggapan dari salah satu guru honorer lainnya, Yuliana Tenis.
Melalui akun Facebook pribadinya, Yuliana menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah daerah terhadap para guru honorer yang telah lama mengabdi di dunia pendidikan.
Ia menilai kebijakan tersebut menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap perjuangan panjang para pendidik honorer yang selama ini tetap setia menjalankan tugas meski dengan berbagai keterbatasan.
Dalam unggahannya, Yuliana menuliskan ungkapan terima kasih kepada Bupati TTU atas perhatian terhadap pengabdian para guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi di daerah.
“Terima kasih Bapak Bupati TTU yang telah peduli dengan pengabdian kami guru honorer yang sudah 20 tahun mengabdi,” tulis Yuliana Tenis dalam postingannya di Facebook.
Sebelumnya diberitakan, Ribuan nasib Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di pundak Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara akhirnya terwujud. Setelah penantian panjang, mereka resmi diangkat oleh Pemerintah Kabupaten TTU dalam penyerahan Surat Keputusan (SK), Selasa (21/4/2026).
Sebanyak 1.323 PPPK tahap II dan PPPK paruh waktu menerima SK pengangkatan yang diserahkan langsung oleh Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.I.P., M.A.
Dalam kegiatan itu, juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja bagi 1.411 PPPK, yang terdiri dari 1.206 PPPK paruh waktu, 156 PPPK tahap II, dan 49 PPPK tahun 2021.
Bupati TTU dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan PPPK ini bukan hanya sekadar kegiatan administratif, tetapi merupakan jawaban atas harapan panjang ribuan tenaga yang selama ini mengabdi di daerah.
Ia menegaskan bahwa menjadi aparatur pemerintah adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan komitmen untuk melayani masyarakat.
Bupati juga mengingatkan bahwa setelah diangkat, tantangan yang dihadapi tidak semakin ringan. Pendiri Ormas Beta Timor itu meminta para P3K untuk bekerja dengan disiplin, profesional, dan sungguh-sungguh dalam melayani masyarakat.
Dalam kegiatan itu, juga digelar prosesi penyiraman air kepada para PPPK. Bupati menjelaskan bahwa air memiliki makna filosofis sebagai sumber kehidupan, kesucian, dan kesejukan.
“Air mengajarkan kita untuk rendah hati, mengalir ke tempat yang membutuhkan, dan memberi manfaat tanpa banyak suara,” ungkapnya. (*)


Komentar