NTTSatu.ID- SMA Katolik Giovanni Kupang menerapkan sistem subsidi silang dalam pembiayaan pendidikan pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.
Kebijakan itu dilakukan agar seluruh calon siswa dari berbagai latar belakang ekonomi tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di pusat Kota Provinsi NTT itu.
Kepala Sekolah SMA Katolik Giovanni Kupang, RD. Drs. Stefanus Mau mengatakan sistem subsidi silang menjadi bagian dari komitmen sekolah menghadirkan pendidikan yang terbuka bagi semua kalangan masyarakat.
Menurut RD Stefanus, orang tua siswa dikelompokkan dalam beberapa kategori ekonomi berdasarkan kemampuan masing-masing keluarga.
“Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik membantu menopang siswa yang kurang mampu. Ini bagian dari semangat kebersamaan dan pendidikan untuk semua,” kata Stefanus saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, sekolah tidak ingin persoalan biaya menjadi hambatan bagi siswa yang memiliki keinginan belajar dan potensi akademik yang baik.
Karena itu, lanjutnya, dalam proses penerimaan siswa baru, pihak sekolah juga melakukan wawancara bersama orang tua untuk mengetahui kondisi keluarga calon siswa.
“Selain sistem subsidi silang, sekolah juga memberikan potongan biaya pendidikan bagi siswa yang memiliki prestasi akademik maupun non akademik,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa potongan biaya tersebut diberikan mulai dari 10 persen, 15 persen hingga 20 persen sesuai tingkat prestasi yang dimiliki calon siswa.
Menurut Stefanus, kebijakan tersebut bertujuan memberi ruang bagi siswa berprestasi agar tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya yang terlalu besar.
Ia mengatakan, sekolah juga tetap memperhatikan pembinaan karakter dan disiplin siswa sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
“Sekolah tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan dan tanggung jawab siswa,” ujarnya.
Ia mengaku, pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah pendaftar di SMA Katolik Giovanni Kupang terus meningkat. Dimana, hingga pertengahan Mei, jumlah pendaftar online tercatat mendekati 400 orang.
Sementara kuota yang disiapkan sekolah hanya sebanyak 345 siswa yang akan dibagi dalam 10 rombongan belajar.
Senada dengan RD Stefanus, Ketua Panitia SPMB, Wilhelmina Goma, S.Si mengatakan lonjakan pendaftar terjadi sejak awal pembukaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Panitia bahkan harus menambah sesi pelayanan untuk melayani verifikasi administrasi calon siswa.
“Target sekolah tahun ini 345 siswa, tetapi pendaftar online sudah mendekati 400 orang sehingga kami membuka beberapa sesi tambahan untuk pelayanan administrasi,” kata Wilhelmina.
Menurut dia, panitia awalnya hanya menargetkan pelayanan sekitar 30 calon siswa per hari. Namun dalam pelaksanaannya jumlah yang datang hampir mencapai 60 orang setiap hari.
“Kondisi itu membuat kami menambah petugas di bagian administrasi dan bendahara agar pelayanan kepada orang tua dan calon siswa tetap berjalan lancar,” tandasnya. (*)


Komentar