NTTSatu.ID — Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), menggelar kegiatan Pengabdian Desa Mitra Mahasiswa (PDMM) di Desa Oelnaineno, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang pada 8–10 Mei 2026.
Kegiatan ini melibatkan ratusan mahasiswa, dosen, serta alumni sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus memperingati sejumlah momentum penting di lingkungan Program Studi Pendidikan Kimia.
Koordinator Program Studi Pendidikan Kimia, Lolita A. M. Parera, S.Si., M.Pkim, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian perayaan Hari Pendidikan Nasional, ulang tahun ke-33 Program Studi Pendidikan Kimia, serta ulang tahun ke-23 Ikatan Mahasiswa Pendidikan Kimia Undana.
Menurut Lolita, kegiatan pengabdian masyarakat ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.
“Kami ingin masyarakat menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu mereka. Kalau hanya belajar di ruang kuliah, ketika terjun langsung ke masyarakat mereka bisa kaget karena persoalan di lapangan berbeda dengan teori,” ujarnya.
Ia mengatakan, melalui kegiatan PDMM mahasiswa diajak membangun empati sosial, belajar menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung, sekaligus melatih kemampuan berkolaborasi dan bersosialisasi dengan warga.
Pada hari pertama kegiatan, tim dosen dan mahasiswa menggelar berbagai pelatihan keterampilan bagi masyarakat Desa Oelnaineno. Sebelum pelaksanaan, tim terlebih dahulu melakukan observasi lapangan untuk mengetahui kebutuhan dan potensi sumber daya lokal yang dimiliki masyarakat.
Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa desa memiliki hasil kunyit, kelapa, singkong, pisang, dan jagung yang melimpah, namun mengalami kendala pemasaran akibat akses transportasi yang terbatas. Akibatnya, hasil bumi dijual dengan harga sangat murah.
“Kelapa tua di sana dijual hanya sekitar Rp1.000 per buah, padahal di Kota Kupang bisa mencapai Rp10.000. Karena itu kami berpikir bagaimana sumber daya lokal ini bisa diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi,” jelas Lolita.
Melalui pelatihan tersebut, masyarakat diajarkan mengolah kunyit menjadi jamu kunyit asam, memproduksi virgin coconut oil (VCO), membuat aneka olahan singkong, hingga minuman fermentasi berbahan dasar pisang.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, terutama saat pelatihan pembuatan VCO. Warga mengaku baru mengetahui bahwa bahan baku yang selama ini tersedia melimpah di desa ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Pada hari kedua, tim pengabdian bergerak ke sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA di wilayah Kecamatan Takari. Di sekolah-sekolah tersebut mahasiswa menampilkan berbagai demo kimia interaktif yang menarik perhatian siswa.
Salah satu atraksi yang paling diminati adalah demonstrasi “tangan api”, yaitu percobaan membakar tangan tanpa menyebabkan luka bakar. Atraksi tersebut membuat siswa antusias sekaligus penasaran terhadap dunia sains dan kimia.
Selain demo kimia, tim dosen dan mahasiswa juga memberikan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis PowerPoint kepada para guru.
Pemilihan media berbasis PowerPoint dilakukan karena keterbatasan akses internet dan jaringan di wilayah tersebut. Dengan demikian, media pembelajaran yang dibuat dapat digunakan secara praktis oleh guru tanpa bergantung pada koneksi internet.
“Media yang kami latihkan sederhana dan mudah diterapkan. Tidak hanya untuk pelajaran kimia, tetapi juga bisa dikembangkan untuk mata pelajaran lain seperti matematika, sejarah, bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris,” katanya.
Kegiatan PDMM tahun ini melibatkan sekitar 200 mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP Undana, lebih dari 20 alumni, serta sekitar 12 dosen pendamping.
Lolita menjelaskan, kegiatan pengabdian tersebut telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2012 dan kini memasuki tahun ke-12 pelaksanaan.
Setiap perayaan ulang tahun Program Studi Pendidikan Kimia dan organisasi mahasiswa selalu dirayakan melalui kegiatan pengabdian di masyarakat, bukan seremoni di kampus.
“Kami ingin membawa dampak nyata bagi masyarakat sekaligus belajar dari kearifan lokal yang mereka miliki. Apa yang kami lihat di masyarakat juga menjadi pembelajaran yang nantinya bisa dibawa kembali ke ruang kuliah,” ujarnya.(*)


Komentar