NTTSatu.ID — Semangat kolaborasi untuk membangun pendidikan dan mempercepat pembangunan daerah di Nusa Tenggara Timur kembali diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, dan Universitas Nusa Lontar yang berlangsung di ruang rapat Rektor Undana, lantai II Rektorat Undana, Rabu, 13 Mei 2026.
Momentum penting tersebut dihadiri langsung oleh Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H, Rektor Unstar Daniel Babu, S.H, M.Hum, jajaran pimpinan Undana, pejabat Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, serta unsur akademisi dari kedua perguruan tinggi.
Penandatanganan MoU tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi guna mendukung pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas pendidikan, riset, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat di wilayah Rote Ndao.
Dalam sambutannya, Rektor Undana, Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa kerja sama yang dibangun bukan sekadar penandatanganan dokumen administratif, tetapi merupakan bentuk nyata komitmen bersama untuk menghadirkan solusi bagi pembangunan daerah.
Sebagai bentuk konkret dari komitmen tersebut, Undana pada tahun 2026 mengalokasikan bantuan dana riset sebesar Rp1 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao melalui program “Riset Berdampak”.
Dana riset tersebut akan diarahkan untuk mendukung penelitian dan pengembangan berbagai potensi unggulan daerah, termasuk pengembangan komoditas lokal seperti Domba Rote serta sektor strategis lainnya yang dimiliki Kabupaten Rote Ndao.
“Kami berharap riset yang dilakukan nantinya tidak hanya menghasilkan kajian akademik, tetapi benar-benar mampu menjadi solusi nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, dan mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan,” ujar Prof. Jefri.
Ia menegaskan, sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Nusa Tenggara Timur, Undana memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat.
“Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat jejaring kemitraan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, khususnya di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Rote Ndao,” tambahnya.
Prof. Jefri juga menyampaikan bahwa Kabupaten Rote Ndao memiliki potensi besar di berbagai sektor seperti pariwisata, pertanian, kelautan, budaya, hingga pengembangan sumber daya manusia yang membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi agar berkembang secara berkelanjutan.
Melalui kerja sama tersebut, ia berharap lahir berbagai program konkret seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia, riset bersama, pendidikan lanjutan, serta pendampingan masyarakat desa melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Dalam suasana penuh keakraban, Prof. Jefri bahkan menyampaikan keterbukaannya dalam membangun komunikasi demi kemajuan pendidikan di Rote Ndao. “Saya sangat terbuka 24 jam bagi siapa saja, termasuk Bapak Rektor Unstar,” katanya.
Sementara itu, Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk menyambut baik kerja sama tersebut dan menegaskan pentingnya kolaborasi bersama Undana dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.
“Karena itu kita harus bersama Undana. Saya juga pernah menyampaikan kepada Pak Gubernur bahwa seluruh kabupaten/kota harus berkolaborasi dengan Undana, khususnya dalam bidang pendidikan,” ujar Paulus Henuk.
Ia mengakui bahwa kebutuhan masyarakat saat ini semakin kompleks, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan, sehingga pemerintah daerah membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang berkualitas.
Karena itu, Bupati Paulus mendorong seluruh kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao yang belum menempuh pendidikan S2 agar melanjutkan studi di Undana, termasuk pejabat eselon II dan III.
Bahkan, Direktur PDAM Rote Ndao disebut akan mengikuti program magister di Undana tahun ini. Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao juga berencana memberikan hibah pembangunan perpustakaan bagi Universitas Nusa Lontar sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan tinggi di daerah.
Menurut Paulus Henuk, Unstar sebagai kampus paling selatan di Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia potensial yang perlu terus didorong dan diperkuat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Undana atas bantuan dana “Riset Berdampak” sebesar Rp1 miliar bagi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.
“Ini menjadi momentum yang sangat baik bagi kami. Sekali lagi kami menyampaikan terima kasih,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor Unstar, Daniel Babu mengungkapkan bahwa sejak berdiri pada tahun 2001, Universitas Nusa Lontar menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia dan pengembangan institusi.
Namun sejak dipercaya memimpin pada tahun 2020, ia memiliki mimpi besar untuk membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki komitmen sama dalam membangun pendidikan di daerah.
“Kami memilih untuk membuka diri dan membangun kerja sama dengan pemerintah serta perguruan tinggi negeri agar bersama-sama mengangkat kualitas pendidikan di daerah,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dukungan dan keterbukaan Undana menjadi motivasi besar bagi Unstar untuk terus berkembang.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Rektor Undana yang telah menerima kami dan membuka ruang kerja sama yang luas,” tambah Daniel Babu.
Di sisi lain, Direktur Pascasarjana Undana Dr. Hamza Wulakada menegaskan komitmen Pascasarjana Undana dalam mendukung peningkatan kapasitas ASN Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.
“Kami berkomitmen nantinya membuka satu kelas khusus bagi ASN dari Pemda Rote Ndao,” ujar Rektor Unstar.
Direktur Pascasarjana Undana, Dr. Hamza Wulakada, M.Si menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya melanjutkan visi besar Rektor Undana dalam menghadirkan perguruan tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pemerintah daerah di Nusa Tenggara Timur.
“Ini sebenarnya lanjutan dari apa yang sudah dibangun oleh pimpinan Undana. Rote Ndao menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan perhatian serius karena ada komitmen bersama untuk memperkuat sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahan daerah,” ujarnya.
Dr. Hamza menjelaskan, kerja sama tersebut tidak hanya ditujukan bagi ASN, tetapi juga membuka peluang bagi berbagai elemen masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana.
Pascasarjana Undana, kata dia, siap mendukung penguatan kelembagaan dan sistem birokrasi melalui peningkatan kualitas pendidikan.
Ia menilai studi lanjut di Undana merupakan pilihan strategis bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan SDM unggul yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah ke depan.
“Kami menyediakan beberapa program studi yang relevan dengan kebutuhan daerah. Penentuan peserta tetap menjadi kewenangan pemerintah daerah, sementara kami siap memberikan layanan pendidikan terbaik,” jelasnya.
Dalam implementasinya, Pascasarjana Undana menawarkan sejumlah skema pembelajaran yang lebih fleksibel, di antaranya Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Pembelajaran Tatap Campuran (PTC), dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Melalui sistem RPL, pengalaman kerja dan kompetensi peserta dapat diakui sebagai bagian dari capaian pembelajaran akademik.
Sementara sistem PTC memadukan pembelajaran daring dan luring sesuai ketentuan akademik yang berlaku. Adapun layanan PJJ saat ini terus dipersiapkan melalui penguatan sistem informasi dan administrasi akademik.
Dr. Hamza menyebutkan bahwa beberapa program studi Pascasarjana Undana telah memenuhi syarat untuk menyelenggarakan layanan pembelajaran jarak jauh.
Meski sistemnya masih terus disempurnakan, pihaknya telah menyampaikan berbagai pilihan program studi kepada Pemerintah Daerah Rote Ndao agar peserta dapat segera bergabung.
Pada tahap awal, program ini direncanakan dapat melibatkan sekitar 30 peserta. Namun jumlah tersebut masih bergantung pada kesiapan dukungan dan komitmen pemerintah daerah.
“Kami berharap dua tahun ke depan sumber daya manusia yang mengikuti program ini bisa lulus tepat waktu dan kembali memperkuat birokrasi serta pembangunan daerah,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kualitas pendidikan tetap menjadi prioritas utama meskipun menggunakan sistem RPL maupun pembelajaran jarak jauh.
“Pascasarjana tentu berbeda dengan program sarjana. Karena itu, kualitas akademik tetap kami jaga agar lulusan benar-benar memiliki kompetensi yang baik,” tambahnya.
Tidak hanya berhenti di Rote Ndao, Pascasarjana Undana juga berencana memperluas kerja sama serupa ke sejumlah daerah lain di NTT, termasuk Kabupaten Kupang.
Bahkan, jika suatu daerah mampu memenuhi kuota tertentu untuk satu kelas atau program studi, maka Undana siap memberikan layanan khusus bagi daerah tersebut.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Rote Ndao Drs. Jonas M. Selly, M.Si, Kepala Baperida Rote Ndao Adi Patola, Kabag Hukum Nyongki Ndolu.
Sementara pihak Undana, Wakil Rektor I sekaligus Plt. Wakil Rektor IV Undana Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si, Wakil Rektor II Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si, Wakil Direktur Pascasarjana Undana, serta Kepala BPKS Undana Yefri C. Adoe, S.E., M.AP.(*)


Komentar