NTTSatu.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui pimpinan universitas dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait kasus mahasiswi Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat yang videonya viral di media sosial karena diduga mengalami tekanan setelah proses ujian skripsi.
Keterangan resmi tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana, Kamis (30/7/2026), oleh Wakil Rektor IV Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., didampingi Dekan FKM Prof. Dr. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., serta Wakil Dekan I FKM Dr. Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes.
Mahasiswi yang menjadi perhatian publik tersebut diketahui bernama Jessica Sofia Tunardjo (NIM 2107010089), mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat FKM Undana.
Kasus ini menjadi sorotan luas setelah beredar foto dan video yang memperlihatkan Jessica menangis histeris. Dalam narasi yang tersebar di media sosial disebutkan bahwa ujian skripsinya diduga berulang kali dibatalkan oleh seorang oknum dosen penguji, bahkan disebut mencapai 12 kali. Hingga kini, informasi tersebut masih dalam proses pendalaman oleh pihak universitas.
Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menegaskan bahwa Universitas Nusa Cendana memiliki komitmen kuat untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Ia mengatakan, pihak universitas saat ini sedang melakukan investigasi secara menyeluruh agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar berdasarkan fakta.
“Pada prinsipnya, Universitas Nusa Cendana tidak menoleransi adanya kekerasan dalam bentuk apa pun di lingkungan kampus. Saat ini kami masih berada pada tahap pendalaman sehingga masyarakat diharapkan bersabar menunggu hasil investigasi yang objektif,” ujarnya.
Menurutnya, Undana ingin memastikan seluruh informasi yang berkembang di masyarakat dapat diluruskan melalui proses klarifikasi terhadap semua pihak yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof. Apris A. Adu, mengaku sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa mahasiswinya. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh seluruh sivitas akademika FKM.
Ia menjelaskan bahwa sejak menerima informasi mengenai viralnya kasus tersebut pada Rabu pagi, pihak fakultas langsung menggelar rapat koordinasi bersama seluruh unsur pimpinan, mulai dari wakil dekan, kepala tata usaha, ketua program studi, operator akademik hingga pihak-pihak terkait.
“Hasil rapat kami satu, yaitu persoalan ini harus segera diselesaikan. Jessica adalah keluarga besar FKM Undana, demikian pula seluruh dosen yang terlibat. Karena itu kami ingin persoalan ini ditangani secara baik dan tuntas,” jelasnya.
Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral, Prof. Apris bersama jajaran pimpinan fakultas langsung mengunjungi Jessica yang saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit.
Dalam kunjungan tersebut, pimpinan fakultas bertemu dengan orang tua angkat Jessica yang selama ini mendampinginya sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Menurut Prof. Apris, kedatangan mereka semata-mata untuk memberikan dukungan moral agar Jessica dapat segera pulih dari kondisi yang dialaminya.
“Kami datang sebagai orang tua. Kami ingin memberikan semangat kepada Jessica agar cepat pulih, baik secara fisik maupun mental, sehingga nantinya dapat kembali menjalani aktivitas akademiknya dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pihak fakultas akan terus melakukan kunjungan sebagai bentuk perhatian kepada mahasiswi tersebut selama menjalani masa pemulihan.
FKM Undana juga memastikan bahwa Jessica tidak akan menghadapi persoalan ini seorang diri. Setelah kondisi kesehatannya dinyatakan membaik oleh tim medis, universitas akan memberikan pendampingan psikologis melalui kolaborasi dengan tenaga profesional, termasuk dari Program Studi Psikologi.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi mental Jessica sehingga siap kembali mengikuti proses akademik.
“Kami akan melihat perkembangan kesehatannya terlebih dahulu. Setelah dokter menyatakan kondisinya memungkinkan, kami akan memberikan pendampingan psikologis agar ia dapat kembali melanjutkan studinya dengan baik,” ujar Prof. Apris.
Mengenai dugaan pembatalan ujian skripsi yang ramai dibicarakan masyarakat, pimpinan fakultas menjelaskan bahwa proses klarifikasi masih berlangsung.
Pihak fakultas telah berupaya berkoordinasi dengan dosen pembimbing maupun dosen penguji. Namun salah satu dosen penguji disebut sedang berada dalam suasana duka, sementara dosen pembimbing masih berada di luar daerah sehingga belum seluruh keterangan dapat diperoleh.
Karena itu, FKM Undana meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses investigasi selesai dilakukan.
“Kami ingin memperoleh gambaran yang utuh dari seluruh pihak yang terlibat. Setelah semua data terkumpul, kami akan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada masyarakat,” tegasnya.
Di akhir konferensi pers, Prof. Philiphi kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki sistem pelayanan akademik agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Undana juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan kepada institusi pendidikan tersebut dalam menyelesaikan persoalan secara profesional, objektif, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Universitas Nusa Cendana menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus. Kami berkomitmen menciptakan lingkungan akademik yang aman dan nyaman bagi seluruh mahasiswa serta akan terus melakukan evaluasi agar pelayanan kepada mahasiswa semakin baik di masa mendatang,” tutur Wakil Rektor IV.(*)



Komentar