NTTSatu.ID- Universitas Nusa Cendana (Undana) terus memperkuat barisan akademiknya dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4).
Pengukuhan tersebut menambah jumlah profesor di Undana menjadi 79 orang. Rektor menyebut capaian ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat “benteng akademik” kampus di tengah dinamika global.
Tiga guru besar yang dikukuhkan yakni Linda W. Fanggidae sebagai pakar Arsitektur dan Perilaku, Wiliam Djani sebagai pakar Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan, serta Zakaria Seba Ngara sebagai pakar Fisika Material.
Rektor Undana, Jefri S. Bale, dalam sambutannya menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa.
Ia menyebut, saat ini mahasiswa cenderung lebih nyaman “menyewa kecerdasan” AI dibandingkan berdiskusi langsung dengan dosen di ruang kelas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran mendasar seorang guru besar dalam proses pendidikan.
Menurutnya, AI memang unggul dalam mengolah data secara cepat, tetapi tidak memiliki hati nurani, emosi, serta kepekaan terhadap konteks lokal.
“Guru besar adalah konstruktor manusia yang membantu mahasiswa merangkai data menjadi pemikiran kritis dan bermakna. AI memang punya data tapi guru besar lebih bermakna,” ujarnya.
“Melalui pengukuhan ini, kami akan terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan bagi masyarakat Indonesia khususnya di NTT,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut baik pengukuhan tersebut sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia di daerah.
Ia menilai kepakaran para profesor sangat relevan untuk mendukung pembangunan di NTT, terutama di sektor infrastruktur, kesehatan, dan pengembangan energi baru.
Prosesi pengukuhan turut diwarnai dengan penyampaian orasi ilmiah yang mengangkat berbagai persoalan nyata di masyarakat NTT.
Dalam orasinya, Prof. Linda W. Fanggidae menegaskan pentingnya pendekatan arsitektur berbasis perilaku manusia dalam perencanaan pembangunan.
Ia menilai banyak desain modern gagal karena mengabaikan aspek sosial, dengan mencontohkan kegagalan proyek Pruitt-Igoe di Amerika Serikat.
Sebaliknya, ia mengangkat fenomena “Kios Angalai” di NTT yang dinilai berhasil menjadi ruang interaksi sosial karena selaras dengan perilaku masyarakat setempat.
Di bidang kesehatan, Prof. Wiliam Djani menyoroti persoalan stunting yang menurutnya lebih disebabkan oleh lemahnya koordinasi lintas lembaga dibandingkan keterbatasan anggaran.
Ia mendorong perubahan paradigma dari pendekatan pelayanan publik menjadi pemberdayaan masyarakat, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator.
Sementara itu, Prof. Zakaria Seba Ngara memperkenalkan inovasi karbon nanodots yang dihasilkan dari bahan organik lokal seperti kulit buah naga dan lengkuas.
Inovasi tersebut, kata dia, efektif sebagai sumber nutrisi tanaman serta memiliki potensi dalam menjawab tantangan krisis energi dan pangan.
Dalam momen tersebut, Prof. Zakaria juga mengungkapkan bahwa pengukuhan dirinya sebagai guru besar memiliki makna emosional mendalam di tengah perjuangannya melawan masalah kesehatan.
Ia menyebut pencapaian itu sebagai “mukjizat” yang memotivasinya untuk terus berkarya dan mengembangkan teknologi bagi kemanusiaan. (*)



Komentar