NTTSatu.ID – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) mencatat sejarah dengan menjadi tuan rumah Pertemuan Sela Forum Komunikasi (Forkom) Pimpinan FKIP Negeri Se-Indonesia Tahun 2026 yang berlangsung pada 4-7 Juni 2026 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Forum nasional tersebut mempertemukan para dekan dan pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia untuk membahas berbagai isu strategis pendidikan, khususnya transformasi pendidikan calon guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan dihadiri Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T, M.Eng, Wakil Rektor I sekaligus Plt. Wakil Rektor IV Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., Wakil Rektor III Dr. Siprianus S. Garak, M.Sc., jajaran pimpinan FKIP Undana, para dosen, serta delegasi perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan Timor-Leste.
Dalam sambutannya, Rektor Undana Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa dunia pendidikan global saat ini sedang mengalami perubahan besar akibat perkembangan teknologi, transformasi sosial, dan digitalisasi yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan calon guru mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
“Kita berkumpul dengan satu kesadaran kolektif bahwa pendidikan global sedang mengalami transformasi yang sangat besar. Institusi yang bertanggung jawab mencetak guru tidak boleh sekadar menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku utama dalam perubahan itu,” tegas Prof. Jefri.
Ia menyebut forum tersebut sebagai momentum penting untuk mengonsolidasikan pemikiran lebih dari 50 FKIP negeri di Indonesia dalam merumuskan arah pembangunan pendidikan nasional ke depan.
Rektor juga menegaskan komitmen Undana untuk mengawal seluruh rekomendasi strategis yang dihasilkan selama forum berlangsung, terutama yang berkaitan dengan penguatan jejaring kerja sama antarlembaga pendidikan tenaga kependidikan.
“Kita tidak boleh membiarkan kesenjangan mutu pendidikan terjadi antarwilayah. Kolaborasi melalui publikasi bersama, pertukaran mahasiswa, penelitian, dan berbagai bentuk kemitraan harus terus diperkuat,” ujarnya.
Prof. Jefri juga menilai kehadiran delegasi dari Timor-Leste menjadi simbol semakin kuatnya kerja sama internasional di kawasan timur Indonesia.
Selain itu, ia menyinggung program nasional Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto sebagai peluang sekaligus tantangan bagi daerah seperti NTT dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul.
“Kita tidak boleh terjebak dalam narasi keterbatasan. Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa harus menjadi motor penggerak untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi masa depan,” katanya.
Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, menjelaskan bahwa Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia merupakan wadah komunikasi dan kolaborasi para pimpinan FKIP dalam merespons berbagai persoalan pendidikan nasional.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan Indonesia membutuhkan kerja sama lintas perguruan tinggi karena tidak mungkin diselesaikan secara individual.
“Forkom hadir sebagai ruang bersama untuk membahas pengembangan kurikulum, kebijakan pendidikan, kualitas lulusan calon guru, hingga berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan tenaga kependidikan di Indonesia,” jelasnya.
Prof. Taneo mengungkapkan bahwa sebanyak 32 universitas telah mengonfirmasi kehadiran dalam kegiatan tersebut dan jumlah peserta diperkirakan terus bertambah.
Ia menyebut kepercayaan menjadi tuan rumah merupakan kebanggaan tersendiri bagi FKIP Undana dan Nusa Tenggara Timur.
“Ini merupakan momentum besar untuk memperkuat jejaring kerja sama sekaligus berbagi praktik baik dalam pengelolaan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Ia juga menilai pelaksanaan forum di Kupang menjadi bukti bahwa kegiatan akademik nasional kini semakin merata dan tidak hanya terpusat di wilayah barat Indonesia.
Agenda utama forum berlangsung pada Jumat (5/6/2026) melalui Diskusi Nasional yang menghadirkan Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. dr. Ardi Findyartini, Ph.D.
Dalam forum tersebut, Prof. Ardi membawakan materi bertajuk:
“Paradigma Pembelajaran di Era Digital dan Society 5.0: Urgensi Deep Thinking Skills dan Deep Learning Approach dalam Transformasi Pendidikan Calon Guru.”
Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini yang ditandai oleh kemajuan kecerdasan buatan, big data, dan teknologi digital yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi.
Selain diskusi nasional, peserta juga mengikuti sidang komisi yang membahas penguatan kelembagaan FKIP, kebijakan pendidikan tinggi, sistem akreditasi program studi, pengembangan kurikulum, peningkatan mutu lulusan, hingga strategi peningkatan prestasi mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu agenda penting dalam forum tersebut adalah penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara para dekan anggota Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia dengan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL), Timor-Leste.
Kerja sama tersebut mencakup pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran mahasiswa, serta mobilitas dosen antarnegara.
Langkah ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan internasionalisasi perguruan tinggi Indonesia, khususnya FKIP di kawasan timur Indonesia yang memiliki kedekatan geografis dan historis dengan Timor-Leste.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini sedang berada di persimpangan penting akibat percepatan perkembangan teknologi.
Ia menilai pengalaman selama pandemi Covid-19 telah membuktikan bahwa perubahan dapat terjadi secara cepat dan memaksa seluruh sektor, termasuk pendidikan, untuk beradaptasi.
“Kita pernah dipaksa oleh pandemi untuk belajar menggunakan teknologi. Sekarang tantangannya jauh lebih besar karena perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital berlangsung sangat cepat,” katanya.
Menurut Melki, transformasi pendidikan harus mampu memadukan kemajuan teknologi dengan penguatan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Ia mengajak seluruh insan pendidikan untuk menjadikan momentum forum tersebut sebagai langkah bersama membangun Indonesia dan Nusa Tenggara Timur melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ayo bangun Indonesia, ayo bangun NTT,” serunya.
Sementara itu, Ketua Forkom FKIP Negeri Se-Indonesia, Dr. Imam Sujadi, M.Si., menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi atau pertemuan rutin para pimpinan fakultas.
Menurutnya, berbagai rekomendasi yang dihasilkan akan disampaikan kepada pemerintah, kementerian terkait, hingga lembaga akreditasi sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan pendidikan nasional.
“Forum ini menjadi ruang untuk bertukar gagasan, berbagi praktik baik, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan calon guru di Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan mampu menghasilkan rekomendasi konkret terkait transformasi pendidikan guru, tata kelola Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), penguatan sistem akreditasi, serta peningkatan kualitas pendidikan tinggi kependidikan.
Melalui forum yang mempertemukan pemimpin-pemimpin pendidikan dari seluruh Indonesia ini, FKIP Undana tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upaya merumuskan arah baru pendidikan guru Indonesia yang lebih adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi tantangan era digital serta Society 5.0.(*)



Komentar