GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » FKIP Undana Bekali Mahasiswa Literasi AI, Tekankan Etika dan Integritas Akademik di Era Kecerdasan Buatan

FKIP Undana Bekali Mahasiswa Literasi AI, Tekankan Etika dan Integritas Akademik di Era Kecerdasan Buatan

Ket: Tampak para mahasiswa FKIP Undana sedang mengikuti kegiatan literasi Artificial Intelligence (Dok: NTTSatu)

NTTSatu.ID – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) terus menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi digital. Salah satunya melalui kegiatan Literasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang digelar pada Rabu (10/6/2026) dan diikuti oleh lebih dari 300 mahasiswa serta para Ketua Koordinator Program Studi di lingkungan FKIP Undana.

Kegiatan ini menghadirkan pakar kecerdasan buatan nasional, Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPU, Chairman of Atma Jaya AI Center sekaligus Co-founder Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), yang memberikan pemahaman mendalam mengenai pemanfaatan AI secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab dalam dunia pendidikan.

Dekan FKIP Undana, Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M.Si, mengatakan bahwa perkembangan Artificial Intelligence saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik. AI telah banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan dalam berbagai aktivitas pembelajaran dan pekerjaan sehari-hari.

Menurutnya, kehadiran AI tidak dapat dihindari sehingga yang terpenting adalah bagaimana civitas akademika memahami teknologi tersebut secara benar, termasuk mengetahui kekuatan dan keterbatasannya.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa AI bukanlah teknologi yang sempurna. Apa yang diberikan AI tidak selalu benar dan tidak selalu dapat digunakan begitu saja. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi hal utama yang harus dimiliki mahasiswa,” ujar Prof. Taneo.

Sekda Kupang: Hak PPPK Belum Terbayar Akibat Kekurangan Anggaran Rp130 Miliar

Ia menjelaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna dalam proses pembelajaran, seperti membantu menyusun kerangka tulisan, mengembangkan ide, mencari referensi, hingga melakukan koreksi terhadap tulisan. Namun, AI tidak boleh menggantikan proses belajar yang sesungguhnya.

“Tujuan utama pendidikan adalah membangun kemampuan berpikir mahasiswa. Jika mahasiswa hanya mengandalkan AI untuk menjawab seluruh tugas tanpa memahami isinya, maka mereka kehilangan kesempatan untuk belajar. Ketika diminta menjelaskan atau mempresentasikan hasil pekerjaannya, mereka akan kesulitan karena tidak memahami apa yang telah ditulis,” jelas Prof. Taneo.

Lebih lanjut, Dekan menegaskan bahwa penggunaan AI harus tetap menjunjung tinggi integritas akademik. Mahasiswa harus bertanggung jawab terhadap setiap karya yang dihasilkan dan tidak menjadikan teknologi sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.

“Kita tidak lagi memperdebatkan apakah AI boleh digunakan atau tidak. Teknologi ini sudah hadir dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Yang paling penting adalah memahami kapan AI digunakan, bagaimana menggunakannya, dan bagaimana mempertanggungjawabkan penggunaannya secara akademik,” tegas Prof. Taneo.

Sementara itu, narasumber kegiatan, Dr. Ir. Lukas, MAI, CISA, IPU, menyampaikan bahwa AI merupakan salah satu inovasi teknologi yang dapat membantu mahasiswa memperlancar proses belajar. Namun, pemanfaatannya harus didasarkan pada prinsip literasi digital, etika, dan integritas akademik.

Didampingi Kuasa Hukum, Tiga Korban Pengeroyokan Pencari Madu di TTU Jalani Pemeriksaan Polisi

Menurut Dr. Lukas, terdapat tiga kata kunci utama yang harus menjadi pegangan mahasiswa dalam menggunakan AI, yakni literasi, etika, dan integritas.

“AI adalah sumber belajar yang sangat baik. Mahasiswa dapat berdiskusi dengan AI kapan saja dan di mana saja. Namun, ketika menggunakan AI sebagai sumber belajar, mahasiswa tetap harus memahami norma-norma akademik dan menjaga kejujuran ilmiah,” katanya.

Dr. Lukas menjelaskan bahwa mahasiswa diperbolehkan memanfaatkan AI untuk membantu proses pembelajaran, menyusun tugas, mencari referensi, hingga mengembangkan ide penelitian. Namun, setiap informasi yang diperoleh harus diverifikasi kembali dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Jika menggunakan informasi yang diperoleh dari AI, mahasiswa harus memahami sumbernya, memeriksa kebenarannya, dan memastikan bahwa informasi tersebut relevan dengan tugas atau penelitian yang sedang dikerjakan,” ujarnya.

Dr. Lukas juga mengingatkan bahwa AI menghasilkan informasi dalam jumlah sangat besar sehingga mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk memilih dan menyaring informasi yang benar serta sesuai dengan kebutuhan akademik.

Prof. Yantus Neolaka Kembali Harumkan Nama Undana, Masuk Top 5% Scientist Worldwide 2026

“AI memberikan akses ke berbagai informasi dari seluruh dunia. Tetapi mahasiswa harus mampu menyeleksi mana informasi yang relevan, mana yang dapat dipertanggungjawabkan, dan mana yang sesuai dengan konteks pembelajaran yang sedang dijalani,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Undana berharap mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi AI secara optimal, tetapi juga memiliki kesadaran etis dalam penggunaannya. Dengan demikian, kehadiran AI dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran yang efektif tanpa mengurangi nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas akademik.

Kegiatan literasi AI ini menjadi salah satu langkah strategis FKIP Undana dalam mempersiapkan calon guru dan tenaga pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu menjaga kualitas dan integritas pendidikan di era transformasi digital yang terus berkembang pesat.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement