NTTSatu.ID — Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menggelar rapat senat pemilihan Dekan periode 2026–2030 pada Kamis 9 April 2026, yang menjadi momen penting bagi keberlanjutan arah pembangunan fakultas.
Kegiatan berlangsung di aula Faperta Undana dan dipimpin langsung oleh Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng, serta dihadiri Dekan Faperta periode 2022–2026, Dr. Ir. Muhammad S. M. Nur, M.Si, bersama seluruh anggota senat fakultas.
Pada rapat tersebut, tiga kandidat resmi ditetapkan sebagai calon Dekan Faperta Undana, yakni: Dr. Tomycho Olviana, SP., MMA, Dr. Ir. Mayavira Veronica Hahuly, MCP, dan Dr. Lusia S. Marimpan, S.Hut., M.Sc.
Ketiga calon akan bersaing untuk memimpin Faperta selama empat tahun ke depan, melanjutkan berbagai program, penelitian, dan pengembangan akademik yang telah menjadi pijakan fakultas.
Dalam sambutannya, Rektor Undana, Prof. Jefri Bale, memberikan apresiasi mendalam terhadap kinerja Dekan dan jajaran Faperta periode sebelumnya.
Menurutnya, banyak prestasi signifikan telah diraih selama empat tahun terakhir yang menempatkan Fakultas Pertanian sebagai salah satu unit kerja dengan perkembangan paling pesat di lingkungan Undana.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran kepemimpinan periode 2022–2026 yang telah membawa Fakultas Pertanian mencapai kinerja luar biasa. Banyak hal baik yang menjadi fondasi penting untuk dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya,” ujarnya.
Rektor menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan tidak boleh memutus kesinambungan program yang telah berjalan optimal.
Para calon dekan diharapkan memiliki visi yang sejalan dengan rencana pengembangan universitas.
“Visi dan program kerja para calon harus memiliki makna keberlanjutan dan selaras dengan arah pengembangan universitas hingga tahun 2029. Fakultas adalah bagian penting dari institusi, dan kita harus bergerak ke arah yang sama untuk masa depan Undana,” tegasnya.
Dalam arahannya, Rektor menekankan bahwa siapapun yang terpilih harus segera menyesuaikan pola kerja karena Fakultas Pertanian telah memasuki trimester kedua tahun berjalan.
“Jika terpilih, jangan berlama-lama beradaptasi. Pemimpin harus langsung bergerak. Fakultas membutuhkan dekan yang cepat menyesuaikan diri dan mampu mengambil langkah strategis,” ujar Prof. Jefri.
Rektor juga menyoroti pentingnya komunikasi intensif antara dekan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
“Kepemimpinan yang baik bukan hanya soal instruksi, tetapi kemampuan mendengar. SDM kita sudah sangat kompeten, dan yang dibutuhkan adalah telinga yang mau mendengar serta tangan yang mau bekerja,” katanya.
Dalam bagian penutup, Rektor mengingatkan agar proses suksesi tidak menimbulkan perpecahan ataupun kelompok-kelompok pendukung yang berkelanjutan.
“Setelah hari ini, tidak ada lagi istilah menang atau kalah. Dekan terpilih nanti adalah pemimpin bagi semua. Jangan ada narasi calon A, B, atau C setelah rapat ini,” tegasnya.
Prof. Jefri juga menggarisbawahi bahwa jabatan dekan merupakan amanah besar yang menuntut pengorbanan dan integritas tinggi.
“Menjadi pemimpin pasti ada harga yang harus dibayar—waktu pribadi, energi, bahkan mungkin materi. Namun jangan pernah menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan institusi. Itu prinsip utama dalam kepemimpinan akademik,” tutupnya.(*)


Komentar