GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » Uly Jonathan Riwu Kaho Antar UPG 1945 NTT Kian Kompetitif

Uly Jonathan Riwu Kaho Antar UPG 1945 NTT Kian Kompetitif

Dok: Foto bersama Rektor, Wakil Rektor, Dekan, dan Para Koorprodi UPG 1945 NTT dalam acara refleksi satu tahun kepemimpinan di Aula Sasando Hotel Kupang. (Dok: NTTSatu)

NTTSatu.ID — Di tengah persaingan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjalankan rutinitas akademik. Kampus dituntut mampu menghasilkan lulusan berkualitas, riset yang berdampak, serta pengabdian kepada masyarakat yang benar-benar menjawab kebutuhan zaman. 

Tantangan inilah yang tampaknya sedang dijawab oleh Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Nusa Tenggara Timur di bawah kepemimpinan Rektor, Dr. (C) Uly Jonathan Riwu Kaho, S.P., M.Si.

Refleksi satu tahun kepemimpinan yang digelar di Hotel Sasando Kupang, Jumat (10/7/2026), bukan sekadar seremoni atau penyampaian laporan tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penegasan arah baru UPG 1945 NTT sebagai perguruan tinggi yang ingin tumbuh melalui kolaborasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset, pembangunan infrastruktur, serta keterbukaan kepada publik.

Salah satu gagasan yang paling menonjol dalam refleksi tersebut adalah keyakinan bahwa kemajuan kampus tidak mungkin dibangun secara sendiri. Menurut Rektor, keberhasilan memenuhi indikator kinerja utama, standar akreditasi, maupun peningkatan mutu pendidikan hanya dapat dicapai melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Pandangan tersebut patut diapresiasi. Selama ini, banyak hasil penelitian, inovasi, maupun pengabdian masyarakat yang lahir dari perguruan tinggi hanya berhenti di ruang seminar atau tersimpan dalam jurnal ilmiah. Padahal, masyarakat membutuhkan informasi yang mudah dipahami mengenai manfaat nyata dari aktivitas akademik.

Kuasa Hukum RCD Tempuh Praperadilan, Uji Keabsahan Penetapan Tersangka di PN Kefamenanu

Karena itu, langkah UPG 1945 NTT membangun kemitraan dengan media massa menjadi strategi yang relevan. Media bukan hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi jembatan yang menerjemahkan bahasa akademik menjadi pengetahuan yang dapat dipahami masyarakat luas. Ketika hasil riset diketahui publik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, barulah Tri Dharma Perguruan Tinggi benar-benar memberi dampak nyata.

Tidak kalah penting adalah perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia. Dalam satu tahun terakhir, jumlah dosen yang menempuh studi doktor terus bertambah. Jabatan fungsional dosen meningkat dari Asisten Ahli menuju Lektor, bahkan beberapa dipersiapkan menjadi Lektor Kepala. Harapan untuk melahirkan profesor-profesor baru dari UPG 1945 NTT menunjukkan bahwa investasi terbesar sebuah universitas memang terletak pada kualitas tenaga pendidiknya.

Peningkatan jumlah dosen bersertifikasi juga menjadi indikator bahwa kualitas pembelajaran terus diperkuat. Sertifikasi bukan hanya menyangkut kesejahteraan dosen, tetapi juga merupakan pengakuan atas kompetensi profesional yang berdampak langsung pada mutu pendidikan mahasiswa.

Di bidang penelitian, kebijakan kampus menanggung seluruh biaya publikasi ilmiah dosen layak mendapat perhatian. Selama ini, biaya publikasi sering menjadi hambatan bagi dosen untuk mempublikasikan hasil risetnya, terutama di jurnal bereputasi. 

Dengan menghapus hambatan tersebut, UPG 1945 NTT sedang membangun budaya akademik yang sehat—budaya meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya ilmiah secara berkelanjutan.

Kolaborasi IAKN Kupang dan Kecamatan Maulafa Diperkuat, 93 Mahasiswa KKN Mulai Pengabdian

Langkah ini bukan sekadar mengejar angka publikasi atau indikator kinerja. Lebih dari itu, kebijakan tersebut menciptakan ekosistem yang mendorong lahirnya inovasi dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Komitmen pengembangan kampus juga terlihat melalui pembangunan infrastruktur dan perluasan akses pendidikan. Di tengah berbagai keterbatasan, UPG 1945 NTT berhasil memperkuat fasilitas pendidikan sekaligus memperluas jaringan kerja sama untuk menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa.

Salah satu capaian yang cukup membanggakan adalah keberhasilan UPG 1945 NTT menjadi perguruan tinggi swasta dengan penerima Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah terbanyak di Flobamorata.

Capaian ini menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu semakin terbuka, sehingga kesempatan meraih pendidikan berkualitas tidak lagi ditentukan oleh kondisi ekonomi semata.

Meski demikian, capaian selama satu tahun ini tentu bukan akhir perjalanan. Tantangan pendidikan tinggi akan semakin kompleks, mulai dari digitalisasi, persaingan global, hingga kebutuhan menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dunia kerja. Karena itu, konsistensi dalam menjaga kualitas, memperkuat kolaborasi, dan membangun budaya akademik harus terus menjadi prioritas.

Keadilan Pendidikan Dimulai dari Keadilan bagi Guru dan Dosen di NTT

Visi menuju Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang unggul, inovatif, dan berintegritas. Refleksi satu tahun kepemimpinan Rektor UPG 1945 NTT menunjukkan adanya fondasi ke arah tersebut. 

Kini, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan berbagai program agar manfaatnya semakin dirasakan oleh mahasiswa, masyarakat, dan pembangunan daerah.

Jika semangat kolaborasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset, serta keberpihakan terhadap akses pendidikan terus dipertahankan, maka UPG 1945 NTT memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang semakin diperhitungkan, tidak hanya di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga di tingkat nasional.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement