NTTSatu.ID– Gabriel Pakaenoni, ayah kandung Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, mengungkapkan duka mendalam usai misa requiem dan pemberkatan jenazah putrinya di rumah duka, Perumahan RSS Baumata, Kota Kupang, Sabtu (27/6/2026) dini hari.
Di hadapan keluarga, kerabat, dan para pelayat yang memenuhi rumah duka sekitar pukul 01.33 WITA, Gabriel menyampaikan pernyataan itu.
Ia meyakini kepergian anak sulungnya itu tidak terlepas dari peristiwa yang dialami dr. Icha setelah diduga mendapat intimidasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Sebelumnya, dr. Icha disebut mengalami trauma berat dan depresi setelah insiden di Rumah Sakit Leona Kefamenanu. Tiga anggota DPRD TTU yang disebut keluarga yakni Therensius Lazakar, Norbertus Tubani, dan Veronika Lake.
Mengawali pernyataannya, Gabriel menyampaikan terima kasih kepada seluruh pelayat yang hadir memberikan dukungan kepada keluarga. Namun, di tengah suasana duka, ia menyampaikan pernyataan yang menyita perhatian para pelayat.
“Sekali lagi, terima kasih buat Bapak, Mama. Saya barusan menelepon Ketua DPRD Kabupaten TTU bahwa tiga anggota dewan itu telah mengakhiri hidup anak saya,” ujar Gabriel.
Usai menyampaikan kalimat tersebut, Gabriel memeluk jasad putrinya sambil menangis. Ia juga merangkul dua anaknya yang lain sebelum akhirnya dipapah sejumlah kerabat menuju kamar untuk beristirahat.
Keluarga menyebut Gabriel dan istrinya beberapa kali kehilangan kesadaran sejak mengabarkan meninggalnya dr. Icha kepada keluarga besar pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.30 WITA.
Sebelum dibawa ke rumah duka, jenazah dr. Icha sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang setelah ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumah orang tuanya di Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang.Gabriel mengaku tidak sanggup mengantar putrinya ke rumah sakit karena masih terguncang.
Jenazah kemudian diberangkatkan menggunakan mobil jenazah menuju rumah duka sekitar pukul 23.20 WITA setelah proses pemandian jenazah selesai. Setibanya di rumah duka sekitar pukul 00.18 WITA, Sabtu dini hari, isak tangis keluarga dan para pelayat pecah menyambut kedatangan almarhumah.
Peristiwa yang disebut keluarga menjadi awal persoalan bermula pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 12.50 WITA. Saat itu dr. Icha yang bertugas sebagai dokter jaga menangani seorang anak, keponakan Therensius Lazakar, yang mengalami patukan ular.
Pasien tersebut sebelumnya mendapat penanganan awal di RSUD Kefamenanu. Namun karena rumah sakit tidak memiliki persediaan anti-venom, pasien kemudian dirujuk ke RS Leona Kefamenanu untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Keluarga dr. Icha menilai rangkaian peristiwa setelah penanganan pasien tersebut berdampak serius terhadap kondisi psikologis almarhumah.
Sementara itu, paman korban, Fabianus Banase mengaku berdasarkan keterangan para saksi yang berada di rumah sakit saat kejadian, anggota DPRD TTU Veronika Lake disebut menjadi pihak yang paling aktif mempersoalkan tindakan medis korban.
Ia mengklaim Veronika seolah memahami regulasi dan standar operasional prosedur pelayanan kesehatan serta mengoreksi tindakan dokter yang sedang bertugas.
Robertus Tubani disebut memperkenalkan diri sebagai anggota Komisi III DPRD TTU dan mempertanyakan penanganan korban terhadap pasien.
Adapun Therensius Lazakar, menurut keluarga, berulang kali menyampaikan bahwa korban telah memberikan obat yang keliru kepada pasien, sehingga membuat korban semakin tertekan.
Fabianus juga mengaku memperoleh keterangan dari sejumlah saksi yang menyebut Robertus Tubani dan Therensius Lazakar diduga berada di bawah pengaruh minuman keras saat mendatangi rumah sakit.
“Menurut saksi-saksi yang ada saat itu di Rumah Sakit Leona, dua anggota DPRD, Robertus Tubani dan Therensius Lazakar, mengonsumsi minuman keras. Saat berbicara dengan dokter dan tenaga medis lainnya, mulut mereka berbau alkohol,” ujarnya. (*)



Komentar