NTTSatu.ID — Aksi demonstrasi jilid II yang berlangsung di lingkungan IAKN Kupang pada Rabu, 20 Mei 2026, berlangsung panas dan memicu perhatian publik setelah sejumlah peserta aksi diduga melontarkan pernyataan bernada menghujat terhadap pimpinan kampus, yakni Rektor Dr. I Made Suardana, M.Th.
Berdasarkan video amatir yang diperoleh media ini, massa aksi yang terdiri dari sejumlah mahasiswa dan alumni terdengar meneriakkan beberapa kalimat yang diarahkan kepada pimpinan kampus. Di antaranya terdengar ucapan:
“Lebih baik mundur dari rektor”
“Memangnya dia raja di sini”
“Tidak mengerti kalian semua tentang organisasi”
“Hari ini rektor tidak paham mekanisme organisasi”
Suasana demonstrasi semakin memanas ketika massa membakar ban di depan Gedung Pascasarjana kampus sebagai bentuk protes terhadap sikap pihak rektorat.
Aksi tersebut berkaitan dengan tuntutan mahasiswa terhadap penanganan oknum dosen berinisial J.S yang belakangan menjadi sorotan publik usai viralnya proses perkuliahan daring. Massa mendesak agar dosen tersebut diberhentikan dari statusnya sebagai dosen ASN.
Namun demikian, pihak kampus menegaskan bahwa rektor tidak memiliki kewenangan langsung untuk memecat Aparatur Sipil Negara (ASN).
Salah satu pegawai Rektorat menjelaskan bahwa pemberhentian dosen ASN harus melalui mekanisme dan prosedur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ia menegaskan bahwa proses disiplin ASN mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.
Dalam aturan tersebut, proses pemberhentian harus melewati tahapan pemeriksaan, telaah laporan, hingga keputusan dari pihak berwenang di tingkat kementerian.
Di tengah aksi yang berlangsung, muncul pula dugaan bahwa demonstrasi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah oknum di lingkungan kampus. Meski demikian, hingga kini belum terdapat pernyataan resmi terkait dugaan tersebut.
Selain itu, kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) BEM IAKN Kupang juga menjadi sorotan. Berdasarkan penelusuran media ini, kepengurusan mahasiswa yang terlibat dalam aksi disebut belum dilantik secara resmi hingga saat ini.*


Komentar