GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hiburan
Beranda » Berita » Mbah Dragon Kembali Berbagi Berkat di NTT, Guru dan Pemuda Gereja Antusias Belajar Gospel Magic

Mbah Dragon Kembali Berbagi Berkat di NTT, Guru dan Pemuda Gereja Antusias Belajar Gospel Magic

Ket: Mbah Dragon tampak foto bersama para guru PAR dan pemuda gereja di GMIT Kefas (NTTSatu)

NTTSatu.ID – Herry Budijanto Dragono atau yang akrab disapa Mbah Dragon kembali menggelar kegiatan pelatihan Experiential Public Speaking di GMIT Kefas Oetete, Kota Kupang, Minggu (14/6/2026).

Sebanyak 57 guru Pelayanan Anak dan Remaja (PAR), pemuda gereja, serta pelayan jemaat mengikuti pelatihan Experiential Public Speaking yang dipandu oleh praktisi pendidikan dan motivator nasional itu.

Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 15.00 WITA tersebut menghadirkan metode komunikasi yang unik dan kreatif melalui perpaduan antara teknik berbicara di depan umum (public speaking) dengan penggunaan alat peraga berupa trik-trik sulap edukatif yang dikenal sebagai Gospel Magic.

Kehadiran Mbah Dragon di Kota Kupang merupakan bagian dari rangkaian pelayanan dan pengabdian yang kembali dilakukannya di Nusa Tenggara Timur pada bulan Juni ini. Kegiatan tersebut digagas oleh Dekan FKIPK IAKN Kupang, Delsylia Tresnawati Ufi, M.Si, yang sebelumnya mengikuti sesi berbagi keterampilan Gospel Magic bersama 40 mahasiswa IAKN Kupang.

Menurut Delsylia, metode yang diperkenalkan Mbah Dragon dinilai sangat relevan untuk dunia pendidikan maupun pelayanan gereja karena mampu menyampaikan pesan secara kreatif, menarik, dan mudah dipahami peserta didik maupun jemaat.

Apel dan Ibadah Pagi IAKN Kupang Perkuat Semangat Syukur, Integritas, dan Peningkatan Mutu Pelayanan

“Setelah melihat langsung manfaatnya bagi mahasiswa, saya merasa guru-guru PAR dan kaum muda gereja juga perlu dibekali keterampilan serupa agar proses pelayanan dan pendidikan semakin efektif,” ujarnya.

Untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut, berbagai alat peraga Gospel Magic harus dipersiapkan secara khusus. Sebagian alat bahkan harus didatangkan dari luar negeri dan sebagian lainnya dicetak terlebih dahulu di Yogyakarta.

Namun di tengah keterbatasan waktu, terjadi hal yang dianggap sebagai penyertaan Tuhan. Paket perlengkapan yang dikirim menggunakan jasa pengiriman laut dari Yogyakarta ke Kupang tiba jauh lebih cepat dari perkiraan.

“Biasanya pengiriman membutuhkan waktu sekitar 14 hari, tetapi kali ini hanya empat hari sudah sampai di Kupang. Ini benar-benar menjadi berkat Tuhan sehingga seluruh alat yang dibutuhkan dapat digunakan tepat waktu,” ungkap Mbah Dragon.

Panitia sebenarnya hanya membuka kuota bagi 50 peserta. Namun tingginya minat membuat jumlah peserta yang hadir mencapai 57 orang.

Prof. Jefri Bale Bersinar di Pulau Dewata, Bawa Pulang Trofi Juara III Kejurnas Tenis ATPI 2026

Sepanjang pelatihan, peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi yang disampaikan. Mereka tidak hanya belajar teknik berbicara di depan umum, tetapi juga diajak mempraktikkan penggunaan alat peraga yang dapat memperkuat penyampaian pesan.

Sebanyak 11 keterampilan dan trik Gospel Magic diajarkan dalam pelatihan tersebut. Setiap trik memiliki pesan rohani yang menggambarkan perjalanan sejarah keselamatan dalam Alkitab, mulai dari kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, pelayanan Tuhan Yesus Kristus, kenaikan-Nya ke surga, hingga turunnya Roh Kudus beserta buah-buah Roh yang menyertainya.

Kombinasi antara visualisasi, cerita, dan teknik komunikasi membuat peserta merasa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari pelatihan-pelatihan pada umumnya.

Salah satu peserta, Hendrik Taedini, yang merupakan guru Sekolah Luar Biasa (SLB), mengaku sangat terberkati dengan materi yang diberikan.

Menurutnya, teknik-teknik yang diajarkan dapat menjadi alat bantu pembelajaran yang efektif bagi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama anak autisme yang sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan fokus belajar.

UPG 1945 NTT Gandeng ACER Indonesia, Percepat Transformasi Menuju Smart Campus Berbasis AI

“Metode ini sangat menarik karena menggabungkan visual, cerita, dan interaksi. Saya yakin dapat membantu proses pembelajaran di SLB agar anak-anak lebih mudah memahami materi,” katanya.

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Pendeta Jemaat GMIT Kefas Oetete, Pdt. Lia Foes-Lobo, S.Th, dan ditutup oleh Pdt. Helmi T. Tlonaen-Thaha, S.Si.Teol.

Pada akhir kegiatan, Mbah Dragon menerima penghormatan berupa pengalungan kain selimut khas Timor sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan ilmu yang dibagikannya kepada peserta.

Ketua UPP PAG GMIT Kefas, Nina Daniel Nomleni, dalam sambutan penutupan menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus menyerahkan kenang-kenangan berupa tenun ikat khas Timor kepada Mbah Dragon.

Melihat antusiasme peserta dan manfaat besar yang dirasakan, Pdt. Lia Foes-Lobo menyatakan akan merekomendasikan program serupa kepada gereja-gereja lain di Nusa Tenggara Timur.

“Metode ini sangat disukai anak-anak sekolah minggu dan mampu menyampaikan pesan Injil dengan cara yang kreatif. Kami berharap semakin banyak gereja di NTT yang dapat merasakan manfaat dari pelayanan Mbah Dragon,” ujarnya.

Setelah kegiatan di GMIT Kefas Oetete, agenda pelayanan Mbah Dragon di NTT masih akan berlanjut.

Pada 17 Juni 2026 mendatang, ia dijadwalkan menjadi narasumber dalam Lokakarya Ilmu Pendidikan Teologi di Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang akan berlangsung di Ruang Yohanes 7.

Selain itu, pada 20 Juni 2026 akan dilaksanakan pelatihan lanjutan tahap kedua bagi jemaat Gereja Lahairoi Tuak Sabu Lasiana.

Tak hanya di bidang pelayanan gereja, Mbah Dragon juga direncanakan memberikan Workshop Entrepreneurship di IAKN Kupang dengan materi Marketing dan Business Model Canvas. Kegiatan tersebut sebelumnya sempat tertunda karena adanya kedukaan keluarga atas berpulangnya ibu mertua beliau.

Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung hingga akhir Juni sebelum Mbah Dragon kembali ke Yogyakarta pada 27 Juni 2026 melalui Surabaya menggunakan Kapal Dharma Kartika V.

Melalui pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan menyenangkan, kehadiran Mbah Dragon di Nusa Tenggara Timur diharapkan mampu memperkaya metode pendidikan, pelayanan gereja, serta pengembangan karakter generasi muda sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dan berkat dari ilmu yang dibagikannya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement