NTTSatu.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) terus mempertegas komitmennya dalam mendukung pembangunan desa melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berdampak Tahun 2026.
Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undana di Desa Kambata Bundung, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Senin (27/7/2026).
Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari pelaksanaan PKM Berdampak 2026 yang digelar secara serentak di sejumlah desa di Kabupaten Sumba Timur. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, S.T., M.T., bersama Wakil Rektor I Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si., yang hadir mewakili Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng.
Program ini menghadirkan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana serta Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur untuk memberikan penguatan kapasitas kepada masyarakat dalam bidang pengelolaan usaha, pemasaran produk, dan penguatan kelembagaan kelompok tani.
Desa Kambata Bundung dipilih karena memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, terutama komoditas kopi robusta dan pinang. Namun sebagai desa pemekaran, wilayah ini masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, maupun lembaga swadaya masyarakat agar mampu berkembang menjadi desa yang mandiri dan sejahtera.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Apriana H.J. Fanggidae, S.E., M.Si., CRA, mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah lemahnya pengelolaan keuangan usaha.
Menurutnya, sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan usahanya tanpa pembukuan yang baik sehingga kesulitan mengetahui kondisi keuangan, menghitung keuntungan secara tepat, hingga memperoleh akses pembiayaan dari lembaga perbankan.
“Pembukuan sederhana merupakan fondasi penting dalam membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan. Dengan pencatatan keuangan yang tertib, pelaku UMKM dapat mengetahui setiap uang yang masuk dan keluar, memisahkan keuangan pribadi dengan usaha, mengevaluasi perkembangan bisnis, serta mengambil keputusan usaha secara lebih tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembukuan tidak sekadar mencatat transaksi, tetapi menjadi alat strategis dalam mengendalikan arus kas, mengurangi risiko kerugian, menjaga stabilitas usaha, hingga menyusun strategi pengembangan bisnis.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada lima buku pembukuan utama, yaitu Buku Kas, Buku Pembelian, Buku Penjualan, Buku Hutang dan Piutang, serta Buku Persediaan. Seluruh pencatatan tersebut menjadi dasar penyusunan laporan laba rugi, laporan arus kas, neraca, dan laporan perubahan modal yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan usaha.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai pentingnya memahami perbedaan aset produktif dan aset konsumtif, penggunaan utang yang sehat untuk pengembangan usaha, hingga cara menghitung Break Even Point (BEP) agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dr. Apriana mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan ini sangat tinggi. Lebih dari 50 peserta yang terdiri atas laki-laki, perempuan, dan generasi muda hadir mengikuti pelatihan.
Menurutnya, semangat masyarakat menjadi modal besar bagi pengembangan ekonomi desa meskipun akses menuju Desa Kambata Bundung masih cukup sulit.
“Jalan menuju desa sangat sempit, berlubang, dan diapit jurang di sisi kiri maupun kanan. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi semangat masyarakat untuk hadir mengikuti pelatihan. Mereka memiliki lahan kopi yang sangat luas dan ingin mengembangkan potensi tersebut agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” katanya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Drs. Anthon B. Messakh, M.Si. yang membahas pentingnya kemasan produk sebagai strategi meningkatkan daya saing UMKM.
Ia menjelaskan bahwa kemasan kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi telah berkembang menjadi identitas merek sekaligus media promosi yang mampu memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Menurutnya, kemasan memiliki empat fungsi utama, yakni melindungi produk, memudahkan penyimpanan dan distribusi, menyampaikan informasi kepada konsumen, serta memberikan kemudahan dalam penggunaan.
Selain itu, pemilihan material kemasan juga harus disesuaikan dengan karakteristik produk agar mampu menjaga kualitas produk selama proses penyimpanan maupun distribusi.
Ia menambahkan bahwa desain kemasan yang menarik melalui perpaduan warna, ilustrasi, tipografi, dan tata letak label dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas peluang pemasaran, baik di pasar tradisional maupun melalui platform digital.
Di era modern, penggunaan bahan kemasan yang ramah lingkungan juga menjadi nilai tambah karena semakin banyak konsumen yang peduli terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur, Dr. Oktavianus Mbaku Muku, S.P., M.Si., menyampaikan materi mengenai pentingnya dinamika kelompok tani dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa dinamika kelompok merupakan proses interaksi antaranggota yang memengaruhi komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pengambilan keputusan, hingga efektivitas kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
Menurutnya, kelompok tani tidak boleh hanya menjadi wadah administrasi penerima bantuan pemerintah, tetapi harus berkembang menjadi organisasi pembelajaran yang mampu menghasilkan inovasi, memperkuat solidaritas, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat posisi tawar petani di pasar.
Dr. Oktavianus menjelaskan bahwa keberhasilan kelompok tani dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya kepemimpinan yang partisipatif, komunikasi yang terbuka, tingginya partisipasi anggota, kohesi kelompok, modal sosial, serta dukungan dari pemerintah, penyuluh, akademisi, lembaga keuangan, dan sektor swasta.
Ia juga mengingatkan berbagai tantangan yang masih dihadapi kelompok tani saat ini, seperti rendahnya partisipasi anggota, lemahnya kelembagaan, krisis regenerasi petani, rendahnya literasi keuangan, hingga orientasi usaha yang masih bersifat subsisten.
Karena itu, kelompok tani ke depan harus mampu bertransformasi menjadi organisasi agribisnis yang profesional, berbadan hukum, adaptif terhadap digitalisasi pertanian, memiliki akses terhadap pembiayaan, memanfaatkan teknologi modern, serta membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak.
Melalui PKM Berdampak 2026 ini, Undana berharap masyarakat Desa Kambata Bundung semakin siap mengembangkan potensi kopi robusta dan pinang menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Program ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, serta pemberdayaan kelompok tani.
Masyarakat Desa Kambata Bundung berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Sebagai desa pemekaran yang masih membutuhkan banyak perhatian, mereka menginginkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta agar potensi besar yang dimiliki, khususnya kopi robusta dan pinang, dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(*)



Komentar