NTTSatu.ID – Komitmen untuk memajukan pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali ditunjukkan oleh Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th, saat menghadiri pertemuan dan silaturahmi bersama anggota DPR RI Komisi X, Stevano Rizki Adranacus, di Kota Kupang, Sabtu (30/5/2026).
Pertemuan yang juga dihadiri sejumlah pimpinan perguruan tinggi di NTT itu berlangsung dalam suasana diskusi yang santai, reflektif, namun inspiratif. Forum tersebut menjadi wadah bertukar pikiran sekaligus menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi di daerah.
Dalam kesempatan itu, Rektor IAKN Kupang menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang digagas oleh Stevano Rizki Adranacus. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat penting karena memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk menyampaikan berbagai persoalan sekaligus mencari solusi bersama demi kemajuan pendidikan di NTT.
“Secara kelembagaan, saya mengapresiasi kegiatan ini yang digagas dan difasilitasi oleh Bapak Stevano selaku anggota DPR RI Komisi X. Kegiatan seperti ini menjadi ruang evaluasi sekaligus antisipasi terhadap berbagai kendala dalam peningkatan layanan akademik maupun nonakademik di perguruan tinggi,” ujar Dr. I Made Suardana.
Dalam dialog tersebut, salah satu isu yang menjadi pembahasan utama adalah keterbatasan kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa di NTT. Menurut Rektor, program beasiswa tersebut memiliki peran strategis dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, terutama bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan KIP Kuliah di NTT masih sangat tinggi, sementara jumlah penerima yang tersedia belum mampu mengakomodasi seluruh mahasiswa yang memenuhi syarat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan akses pendidikan sekaligus mendorong angka partisipasi masyarakat ke jenjang perguruan tinggi.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK PT) di NTT saat ini masih berada di kisaran 32,85 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak lulusan sekolah menengah yang belum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Pemberian KIP Kuliah kepada masyarakat NTT masih sangat terbatas, padahal perguruan tinggi terus berupaya memaksimalkan dukungan beasiswa untuk menarik minat studi masyarakat dan meningkatkan APK perguruan tinggi di NTT,” ungkapnya.
Di lingkungan IAKN Kupang sendiri, jumlah penerima KIP Kuliah saat ini baru mampu menjangkau sekitar 20 persen dari total mahasiswa baru yang diterima setiap tahun. Meski demikian, kampus terus berupaya memperluas akses bantuan pendidikan melalui berbagai kerja sama dengan mitra, program beasiswa kemitraan, hingga skema orang tua asuh.
Selain membahas akses beasiswa, Dr. I Made Suardana juga memperkenalkan berbagai perkembangan IAKN Kupang dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia di NTT. Salah satu agenda strategis yang disampaikan adalah proses alih bentuk kelembagaan IAKN Kupang menjadi universitas.
Menurutnya, saat ini proses tersebut sedang berada pada tahap pengusulan dan pemenuhan berbagai persyaratan administratif serta data dukung yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menegaskan bahwa secara kelembagaan, IAKN Kupang telah memiliki kapasitas yang memadai untuk bertransformasi menjadi universitas.
“Secara keseluruhan IAKN Kupang sudah memenuhi kelayakan untuk beralih bentuk menjadi universitas. Transformasi ini akan meningkatkan daya saing institusi sekaligus memperluas kontribusi kampus dalam pembangunan pendidikan dan sumber daya manusia di NTT,” katanya.
Perubahan status menjadi universitas diharapkan dapat membuka peluang pengembangan program studi yang lebih beragam, memperluas kerja sama akademik, serta meningkatkan kualitas lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Tak hanya itu, Rektor juga menyampaikan kebutuhan mendesak akan pembangunan Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) atau asrama mahasiswa. Dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah setiap tahun, keberadaan asrama dinilai sangat penting untuk menunjang layanan pendidikan dan pembinaan mahasiswa.
Menurutnya, Rusunawa tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter, penguatan kehidupan akademik, serta peningkatan keberhasilan studi mahasiswa, khususnya bagi mereka yang berasal dari daerah-daerah terpencil di NTT.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam membangun pendidikan tinggi yang lebih berkualitas dan inklusif. Melalui kolaborasi berbagai pihak, diharapkan berbagai tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi di NTT dapat diatasi secara bertahap.
Di akhir pertemuan, seluruh peserta sepakat bahwa kemajuan pendidikan di NTT membutuhkan dukungan bersama dari pemerintah, legislatif, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan semangat kolaborasi tersebut, pendidikan tinggi di NTT diharapkan mampu melahirkan generasi unggul yang siap membawa perubahan dan kemajuan bagi daerah di masa depan.(*)


Komentar