NTTSatu.ID — Upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap keberagaman budaya Indonesia terus dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nusa Cendana (Undana).
Salah satunya melalui kegiatan kunjungan belajar etnografis ke Museum Daerah Nusa Tenggara Timur pada Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Semester IV PPKn Kelas A bersama dosen pengampu mata kuliah Antropologi dan Kebudayaan Indonesia, Anjulin Yonathan Kamlasi, M.Pd.
Kunjungan tersebut dirancang sebagai bentuk pembelajaran kontekstual di luar kelas yang mengintegrasikan teori antropologi dengan realitas budaya masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap berbagai koleksi budaya yang tersimpan di museum, mulai dari moko, sasando, tenun ikat, rumah adat, hingga perlengkapan upacara adat.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga diperkenalkan pada sistem pertanian, peternakan, serta struktur sosial masyarakat NTT yang tercermin dalam artefak etnografis.
Dosen pengampu MK, Anjulin Yonathan Kamlasi, menjelaskan bahwa kunjungan ini tidak sekadar melihat benda-benda budaya, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
“Melalui panduan petugas museum, wawancara singkat, serta pencatatan lapangan, mahasiswa diajak untuk membaca makna simbolik dari setiap artefak sebagai representasi sistem nilai, religi, kekerabatan, hingga teknologi tradisional masyarakat NTT,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil pengamatan mahasiswa akan dirangkum dalam laporan etnografi mini sebagai bentuk evaluasi sekaligus latihan analisis budaya secara ilmiah.
Antusiasme mahasiswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Salah satu peserta, Fransisca Novrilia Tee, mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman pertamanya mengunjungi museum dan memberikan kesan mendalam.
“Selama ini saya hanya melihat melalui buku dan internet, tetapi hari ini bisa melihat langsung. Ternyata NTT sangat kaya akan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Tiara Amelia Dethan yang mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang sejarah dan keberagaman budaya di NTT. Ia mengaku paling terkesan dengan salah satu koleksi dari wilayah Timor Tengah Selatan (TTS), yakni “Patung Pria Soe”.
Menurut Tiara, patung tersebut menggambarkan sosok laki-laki dengan ekspresi wajah tegas, posisi berdiri dengan tangan terlipat, serta dihiasi tato berbentuk buaya di beberapa bagian tubuh. Artefak ini diyakini berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat masa lalu yang masih dipengaruhi animisme.
Kegiatan ini memiliki sejumlah tujuan utama, di antaranya membantu mahasiswa memahami keragaman budaya lokal melalui tujuh unsur kebudayaan universal menurut Koentjaraningrat, menghubungkan teori dengan praktik nyata di lapangan, serta melatih keterampilan etnografis seperti observasi, dokumentasi, dan analisis budaya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Rombongan mahasiswa PPKn FKIP Undana juga disambut hangat oleh pihak Museum Daerah NTT yang turut memberikan pendampingan selama proses pembelajaran berlangsung.(*)


Komentar