GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Inspirasi Pendidikan
Beranda » Berita » Rektor Prof. Jefri Bale Ingatkan Bahaya AI Offloading dalam Pengukuhan Tiga Guru Besar Undana

Rektor Prof. Jefri Bale Ingatkan Bahaya AI Offloading dalam Pengukuhan Tiga Guru Besar Undana

Ket: Rektor Prof. Jefri Bale Ingatkan Bahaya AI Offloading dalam Pengukuhan Tiga Guru Besar Undana (Alberto)

NTTSatu.ID — Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menorehkan sejarah penting dalam perjalanan akademiknya dengan mengukuhkan tiga guru besar baru pada Rabu, 8 April 2026. 

Prosesi yang berlangsung khidmat di Gedung Auditorium Undana itu dipimpin langsung oleh Rektor, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., dan menjadi momentum penting bagi penguatan kualitas pendidikan di tengah era kecerdasan buatan.

Dalam acara tersebut, tiga akademisi senior resmi menyandang gelar profesor, masing-masing Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T., Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., dan Prof. Zakarias Seba Ngara, S.Si., M.Si., Ph.D. 

Ketiganya merupakan sosok intelektual yang telah lama mendedikasikan hidupnya pada dunia pendidikan dan penelitian di bidang masing-masing.

Rektor Undana, Prof. Jefri Bale, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar penambahan jumlah guru besar di Undana, tetapi juga wujud komitmen kampus dalam menjaga kualitas akademik di tengah tantangan digital yang semakin kompleks. 

Mbah Dragon Latih Public Speaking Kreatif di IAKN Kupang

Ia mengungkapkan bahwa dengan bertambahnya tiga profesor baru, Undana kini memiliki 79 guru besar, dengan 55 di antaranya masih aktif mengajar dan meneliti. 

Baginya, ini merupakan kekuatan penting yang harus terus dijaga, terutama menghadapi fenomena AI offloading yang membuat manusia semakin mudah menyerahkan proses berpikir kepada mesin.

Ia mengingatkan bahwa meski teknologi kecerdasan buatan semakin canggih, ada nilai-nilai fundamental yang tidak dapat digantikan. 

Menurut Prof. Jefri, peran guru besar sangat penting dalam menanamkan kebijaksanaan, nalar kritis, dan pengalaman empiris yang tidak bisa diperoleh hanya melalui mesin. 

“Mahasiswa boleh mencari data dari AI, tetapi kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dari para guru besar,” ujarnya.

Museum Jadi Ruang Belajar, Mahasiswa PPKn Undana Telusuri Warisan Budaya NTT

Ketiga profesor yang dikukuhkan membawa kepakaran yang dinilai strategis bagi pembangunan daerah NTT.

Prof. Linda W. Fanggidae dikenal dengan kepakarannya di bidang arsitektur dan perilaku, Prof. William Djani berfokus pada reformasi kebijakan pembangunan kesehatan, sementara Prof. Zakarias Seba Ngara merupakan ahli fisika material yang selama ini aktif dalam penelitian energi dan pengembangan teknologi material.

Acara pengukuhan ini juga dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang turut memberikan sambutan kuat mengenai pentingnya peran kampus dalam pembangunan daerah. 

Ia menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan legitimasi ilmiah dalam setiap kebijakan yang dirumuskan, dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan basis data, analisis, serta pemikiran yang dapat memperkuat proses pengambilan keputusan.

Gubernur Melki menyoroti bahwa tiga bidang kepakaran yang dibawa para guru besar yang dikukuhkan hari itu sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan NTT. 

Kisruh Internal Disorot, Linus Lusi Minta Pengurus Swastisari Hormati Suara Anggota

Di bidang tata ruang, ia menilai selama ini banyak pembangunan yang tidak mempertimbangkan perilaku masyarakat dan karakter iklim lokal. 

Menurutnya, desain ruang publik harus adaptif terhadap kondisi panas, budaya masyarakat, serta tantangan El Nino yang kerap melanda daerah ini.

Pada sektor kesehatan, ia menekankan bahwa reformasi kebijakan lebih penting daripada sekadar menambah tenaga medis. 

Ia mengingatkan bahwa penggunaan anggaran kesehatan harus berbasis data lokal dan diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. 

Sementara dalam bidang energi terbarukan, Gubernur Melki menyebut bahwa NTT menyimpan potensi besar energi matahari, angin, dan panas bumi, namun riset material yang mendukung pemanfaatannya masih lemah. 

Ia berharap kampus mampu menghasilkan teknologi yang dapat dikembangkan secara mandiri agar NTT tidak hanya menjadi penonton potensi alamnya sendiri.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga mengingatkan pentingnya guru besar untuk tidak hanya berkutat dalam diskusi akademik, tetapi turut hadir memberikan solusi langsung bagi persoalan di masyarakat. 

“Pemerintah butuh data, butuh model kebijakan, butuh desain yang bisa langsung diterapkan. Jangan hanya diskusi di kelas—kampus harus turun tangan langsung,” tegasnya. 

Ia menambahkan bahwa perkembangan AI yang begitu cepat harus diimbangi dengan pemeliharaan nilai kemanusiaan dan kemampuan berpikir kritis. 

“AI penting, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan nalar. Pendidikan harus tetap melahirkan kecerdasan yang organik,” ujarnya.

Pengukuhan tiga guru besar ini menjadi momentum penting bagi Undana untuk mempertegas peran akademisi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di NTT.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement