NTTSatu.ID – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XV (LLDIKTI NTT) mengambil langkah strategis dengan menggandeng perguruan tinggi dalam upaya menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program kolaboratif ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 yang menekankan pentingnya penanganan kedua isu tersebut secara terintegrasi lintas sektor.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Ia menyebutkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga harus hadir memberikan solusi nyata, khususnya dalam menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak yang melibatkan mahasiswa lintas perguruan tinggi.
Program ini difokuskan pada intervensi langsung di masyarakat melalui edukasi gizi untuk pencegahan stunting, pendampingan keluarga berisiko, serta penguatan ekonomi lokal berbasis potensi desa.
Jika pada tahun sebelumnya program ini hanya menjangkau tiga kabupaten dengan sasaran sepuluh desa, maka pada tahun 2026 cakupannya meningkat signifikan menjadi 14 kabupaten dengan target sekitar 100 desa dan melibatkan lebih dari 2.000 mahasiswa.
Ekspansi tersebut menunjukkan komitmen LLDIKTI XV dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah, terutama pada isu-isu prioritas nasional.
Program ini juga menjadi bagian dari gerakan “NTT Investasi SDM” yang mengintegrasikan sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Kehadiran mahasiswa di lapangan dinilai mampu memberikan dampak langsung, tidak hanya dalam peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga.
Untuk memastikan program berjalan optimal, LLDIKTI XV terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan solusi yang berkelanjutan dalam menurunkan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan.
Selain fokus pada pengabdian masyarakat, Prof. Dr. Adrianus Amheka juga memaparkan kondisi pendidikan tinggi di wilayah NTT.
Tercatat terdapat 3.080 dosen aktif di 58 perguruan tinggi swasta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.091 dosen telah memiliki jabatan fungsional, termasuk 14 profesor.
Pada tahun 2026, jumlah guru besar diproyeksikan bertambah sekitar 60 orang sebagai bagian dari upaya percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Meski demikian, ia mengakui bahwa peningkatan kualitas dosen masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, jumlah dosen berkualifikasi doktor atau S3 baru mencapai 309 orang atau sekitar 10 persen dari total dosen aktif.
Pada triwulan pertama tahun 2026, tercatat sebanyak 79 dosen mengalami kenaikan jabatan fungsional. LLDIKTI XV terus mendorong percepatan studi lanjut dan penyesuaian kebijakan sesuai regulasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, khususnya dalam hal penjaminan mutu dan penguatan kelembagaan.
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, LLDIKTI XV juga melakukan penataan program studi di perguruan tinggi swasta.
Dari total 319 program studi, sejumlah prodi yang tidak aktif telah dibersihkan dari sistem pangkalan data pendidikan tinggi.
Dari jumlah tersebut, terdapat program studi dengan berbagai capaian akreditasi, mulai dari unggul hingga baik sekali, meskipun masih ada beberapa program studi yang belum terakreditasi atau masih dalam proses penilaian.
Prof. Amheka mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih program studi dengan memastikan status akreditasi sebagai indikator mutu pendidikan.
Untuk akreditasi perguruan tinggi, tercatat beberapa kampus telah mencapai status baik hingga baik sekali, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap penguatan.
Salah satu capaian penting adalah peningkatan status Universitas Muhammadiyah Maumere yang berhasil naik dari “baik sekali” menjadi “unggul”.
Selain itu, terdapat sekitar 10 perguruan tinggi swasta di NTT yang diproyeksikan siap menuju status kampus unggul pada tahun 2030.
Menurut Prof. Dr. Adrianus Amheka, berbagai capaian tersebut menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan, namun tetap membutuhkan konsistensi dalam peningkatan mutu.
Ia menegaskan bahwa perbaikan kualitas dosen, kelembagaan, serta layanan pendidikan tinggi harus terus dilakukan agar perguruan tinggi mampu berkontribusi lebih besar dalam pembangunan daerah, khususnya dalam menjawab tantangan stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. (*)


Komentar