NTTSatu.ID — Bangun Tidur Cari Handphone Sebelum Berdoa? Seminar Pemuda di GMIT Horeb Kuanheum Soroti Krisis Iman Era Digital
“Berapa banyak anak muda yang bangun tidur langsung mencari handphone sebelum berdoa?”
Pertanyaan sederhana namun menohok itu menjadi pembuka yang menggugah hati dalam seminar bertajuk “Iman di Era Digital: Tetap Teguh di Tengah Arus Media Sosial” yang digelar mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Kelas A Semester IV IAKN Kupang di GMIT Horeb Kuanheum, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 45 pemuda dan pemudi gereja itu bukan sekadar seminar biasa. Di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi digital, gereja hari itu berubah menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana generasi muda menjaga iman di zaman serba online.
Seminar ini merupakan bagian dari tugas Ujian Tengah Semester (UTS) Mata Kuliah PAK Pemuda yang diampuh oleh Ibu Adriana Indra Santi Sole, M.Pd.K. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kuliah, tetapi juga terjun langsung melayani dan berdialog dengan pemuda gereja mengenai pergumulan iman yang nyata.
Sebelum seminar dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti ibadah singkat yang dipenuhi pujian, doa, dan perenungan firman Tuhan. Suasana ibadah berlangsung hangat sekaligus khusyuk, menjadi fondasi rohani sebelum memasuki sesi materi dan diskusi.
Momentum tersebut menegaskan bahwa iman bukan hanya bahan diskusi akademik, melainkan pengalaman hidup yang harus terus dipelihara di tengah perubahan zaman.
Ketua Majelis Jemaat GMIT Horeb Kuanheum, Pdt. Roni Alyando Kinbenu, M.Th., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa IAKN Kupang yang memilih tema seminar yang dinilai sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
Menurutnya, media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi dapat menjadi sarana membangun relasi dan pelayanan, namun di sisi lain dapat mengikis kehidupan rohani apabila digunakan tanpa hikmat.
“Media sosial dapat menjadi berkat, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak disikapi dengan bijak. Karena itu, pemuda harus tetap berakar kuat dalam iman,” ungkapnya.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah, Adriana Indra Santi Sole, M.Pd.K., menekankan pentingnya integrasi antara teori dan praktik dalam pendidikan agama Kristen. Ia berharap mahasiswa mampu menjadi pelayan yang peka terhadap tantangan yang dihadapi generasi muda masa kini.
Materi utama seminar dibawakan oleh Margareth Julia Malelak, mahasiswi PAK Semester IV IAKN Kupang.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana media sosial dan teknologi digital secara perlahan memengaruhi pola pikir, gaya hidup, bahkan kehidupan rohani anak muda.
Ia mengajak peserta untuk tidak hanya menghindari konten negatif, tetapi juga memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk memperkuat iman, memperluas pelayanan, dan membangun relasi yang sehat.
Menurut Ida, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan kemampuan mengendalikan diri di tengah banjir informasi tanpa batas.
Sesi diskusi menjadi bagian paling hidup dalam seminar tersebut. Para peserta terlihat antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menggambarkan realitas kehidupan mereka sehari-hari.
Salah satu topik yang banyak dibahas adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu keinginan untuk terus mengikuti tren media sosial agar tidak dianggap tertinggal. Peserta mempertanyakan apakah kebiasaan tersebut dapat menjauhkan pemuda dari Tuhan dan mengikis kehidupan doa.
Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam mencari referensi firman Tuhan, membuat renungan, hingga memahami tafsiran Alkitab. Para peserta ingin mengetahui bagaimana etika Kristen memandang penggunaan teknologi AI dalam kehidupan rohani.
Topik lain yang tak kalah menarik ialah tentang cara menghadapi konten negatif di media sosial serta kebiasaan membaca Alkitab melalui handphone saat ibadah dibanding menggunakan Alkitab fisik.
Diskusi berlangsung terbuka, hangat, dan penuh refleksi, menunjukkan bahwa pergumulan iman di era digital benar-benar dirasakan oleh generasi muda gereja.
Ketua Pemuda GMIT Horeb Kuanheum, Ferdinan Sora, S.Pd., turut menyampaikan keprihatinannya terhadap perubahan pola hidup pemuda masa kini.
Ia menilai banyak anak muda mulai kehilangan disiplin rohani karena terlalu terikat dengan media sosial dan penggunaan handphone yang berlebihan.
“Banyak anak muda ketika bangun tidur langsung mencari handphone sebelum berdoa, dan sebelum tidur lebih lama bermain media sosial daripada meluangkan waktu untuk saat teduh. Ini menjadi tantangan nyata bagi kehidupan iman pemuda Kristen saat ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung mengundang refleksi dari peserta seminar karena dianggap sangat dekat dengan kebiasaan sehari-hari generasi muda.
Dalam kesempatan itu, Pdt. Roni Alyando Kinbenu, M.Th., juga menyoroti dampak perkembangan teknologi terhadap hubungan dalam keluarga dan persekutuan gereja.
Menurutnya, komunikasi antarmanusia perlahan mulai tergantikan oleh interaksi digital, sehingga banyak orang merasa dekat secara virtual tetapi justru jauh secara emosional.
Karena itu, ia berharap pemuda Kristen mampu menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kehidupan spiritual agar tidak kehilangan arah di tengah perkembangan zaman.
Seminar kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pdt. Roni Alyando Kinbenu, M.Th. Dalam suasana penuh penghayatan, para peserta diajak memperbarui komitmen untuk hidup lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial dan menjaga relasi yang intim dengan Tuhan.
Mahasiswa PAK Kelas A Semester IV IAKN Kupang melalui panitia kegiatan berharap seminar ini menjadi langkah awal pertumbuhan iman yang nyata bagi pemuda GMIT Horeb Kuanheum, sekaligus pengalaman pelayanan yang memperkaya perjalanan mereka sebagai calon pelayan gereja di masa depan.(*)


Komentar