GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » Museum NTT Jadi Ruang Belajar Kontekstual Mahasiswa Pendidikan Sejarah Undana

Museum NTT Jadi Ruang Belajar Kontekstual Mahasiswa Pendidikan Sejarah Undana

Ket: Kolase foto kunjungan dosen dan mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Undana di Museum NTT. (Alberto)

NTTSatu.ID — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana menggelar kuliah lapangan di Museum Daerah NTT pada Jumat, 8 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti mahasiswa kelas A Semester IV serta kelas C/B Semester VI dalam mata kuliah Antropologi sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penelitian lapangan.

Sejak pukul 08.00 WITA, para mahasiswa tiba di museum dan langsung mengikuti pengarahan dari tiga dosen pengasuh mata kuliah Antropologi, yakni Prof. Dr. Drs. Malkisedek Taneo, M. Si, Sarlota N. Sipa, S.Pd, M.Hum, dan Taufik Hidayat, S.S., M.A.

Kuliah lapangan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan biasa ke museum, tetapi merupakan bagian dari strategi pembelajaran kontekstual agar mahasiswa belajar langsung dari sumber sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Dosen pengampu mata kuliah Antropologi sekaligus Dekan FKIP Undana, Prof. Malkisedek Taneo, mengatakan bahwa mata kuliah Antropologi dirancang tidak hanya menekankan teori di ruang kelas, tetapi juga membangun keterampilan mahasiswa dalam melakukan observasi, wawancara, penyusunan laporan, hingga presentasi ilmiah.

“Kegiatan ini bertujuan mencapai kompetensi mahasiswa dalam melakukan pengamatan, wawancara, dan penyusunan laporan. Museum menjadi representasi nyata dari bukti-bukti sejarah, budaya, sosial, ekonomi, hingga kemaritiman yang dapat dipelajari secara langsung oleh mahasiswa,” ujarnya.

Seminar di GPdI Anugerah Kefamenanu Perkuat Pertumbuhan Iman dan Pelayanan Jemaat

Prof. Taneo menjelaskan, sebelum kegiatan berlangsung, mahasiswa telah dibekali materi dan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan tema koleksi yang tersedia di museum. Langkah itu dilakukan agar mahasiswa dapat fokus mempelajari objek kajian masing-masing secara mendalam.

Menurutnya, metode pembelajaran lapangan seperti ini sangat penting dalam pendidikan sejarah dan antropologi karena sebagian besar bukti sejarah berada di luar ruang kelas.

“Mahasiswa harus belajar langsung dari objek dan sumbernya. Museum adalah ruang belajar kontekstual yang menyimpan begitu banyak informasi tentang peradaban manusia,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengamati koleksi museum, tetapi juga melakukan wawancara dengan pengelola dan tenaga edukasi museum guna menggali informasi lebih detail terkait tema-tema penelitian mereka.

Menariknya, kuliah lapangan ini tidak berhenti pada kunjungan sehari. Setelah kegiatan terbimbing di museum, mahasiswa akan kembali melakukan penelitian mandiri secara berkelompok untuk memperdalam tema masing-masing sebelum menyusun laporan akhir.

TTU Gaet Investasi Rp2,5 Triliun, Tambak Garam Raksasa Segera Dibangun di Pantura

Laporan tersebut nantinya dipresentasikan di kampus dan dibimbing langsung oleh para dosen pengampu agar menghasilkan karya akademik yang berkualitas.

“Target akhirnya adalah menghasilkan book chapter atau buku bersama yang berisi hasil penelitian mahasiswa. Ada delapan kelompok sehingga nantinya akan ada delapan bab dalam buku tersebut,” jelas Prof. Taneo.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk menjadikan museum sebagai bagian dari kehidupan akademik mereka serta terus datang belajar secara mandiri di museum.

“Mahasiswa tidak boleh hanya sekali datang ke museum. Mereka harus terus belajar, memahami koleksi, dan mampu membuat deskripsi ilmiah terhadap berbagai peninggalan budaya yang ada,” sambungnya.

Sementara itu, Taufik Hidayat, S.S., M.A. menyebut kegiatan tersebut menjadi sarana mahasiswa untuk menerapkan ilmu etnografi secara langsung di lapangan.

SMA Kristen 1 Soe Ukir Prestasi Gemilang dan Catat Kelulusan 100 Persen di Momentum Hardiknas 2026

Menurutnya, mahasiswa diarahkan memahami hubungan antara etnografi, sejarah, dan kebudayaan masyarakat NTT melalui berbagai koleksi yang ada di museum.

“Kami berharap mahasiswa benar-benar memahami etnografi dan keterkaitannya dengan sejarah kebudayaan di NTT. Nantinya mereka tidak hanya mengenal budaya daerah, tetapi juga mampu mengembangkan pembelajaran ketika menjadi guru di sekolah,” ujar Taufik.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam delapan kelompok dengan fokus kajian yang berbeda-beda. Setiap kelompok melakukan pengamatan terhadap koleksi museum sesuai tema yang telah ditentukan, mulai dari peninggalan sejarah, benda budaya, hingga artefak arkeologi yang menjadi bukti perjalanan panjang masyarakat NTT.

Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Citro Alesandro Sanaunus, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut. Kelompoknya mendapat tema mengenai miniatur rumah adat di NTT.

“Kami hari ini melakukan kuliah lapangan ke Museum NTT dan mengamati beberapa peninggalan baik dalam bentuk sejarah, budaya, maupun arkeologi. Kami dibagi dalam delapan kelompok sesuai tema masing-masing, dan kelompok saya mendapatkan tema tentang bentuk-bentuk miniatur rumah adat di NTT,” ujarnya.

Menurut Citro, observasi langsung di museum memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan hanya belajar melalui teori di ruang kelas. Ia mengaku semakin memahami struktur rumah adat dari berbagai daerah di NTT yang hingga kini masih mempertahankan bentuk dan ciri khas tradisionalnya.

“Saya mengetahui bagaimana struktur rumah adat dari berbagai daerah yang sampai saat ini belum banyak mengalami perkembangan zaman. Dari situ kami bisa memahami nilai budaya dan filosofi yang terkandung dalam rumah adat tersebut,” katanya.

Kegiatan kuliah lapangan ini tidak hanya bertujuan memperkaya pengetahuan akademik mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya daerah. Melalui pengamatan langsung terhadap koleksi museum, mahasiswa diajak memahami identitas budaya masyarakat NTT yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Museum Daerah NTT sendiri diketahui menjadi salah satu pusat penyimpanan benda sejarah terbesar di daerah ini. Sejak tahun 1977 hingga saat ini, museum tersebut telah memiliki sebanyak 7.453 koleksi benda bersejarah.

Dari total koleksi tersebut, sebanyak 6.788 benda diperoleh melalui pembelian, 653 benda berasal dari hibah atau sumbangan, sedangkan 12 koleksi lainnya merupakan benda sitaan.

Koleksi museum terbagi dalam berbagai kategori, di antaranya jenis geologika sebanyak 16 buah, biologika 143 buah, etnografika 4.954 buah, dan arkeologika sebanyak 244 buah.

Selain itu terdapat koleksi historika sebanyak 204 buah, numismatika dan heraldika 843 buah, filologika 35 buah, keramologika 755 buah, seni rupa 149 buah, serta teknologika sebanyak 110 buah.

Dominasi koleksi etnografika menunjukkan besarnya kekayaan budaya masyarakat NTT yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Koleksi tersebut menjadi sumber pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk memahami identitas budaya, tradisi, serta dinamika sosial masyarakat lokal.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement