NTTSatu.ID – Sampah rumah tangga yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari perspektif berbeda oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana).
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), FST Undana mengajak jemaat GMIT Paulus Naikoten Kupang mengubah limbah domestik menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Program bertajuk “Optimalisasi Pengelolaan Limbah Domestik: Gerakan Pembuatan Kompos Drum, Eco-Enzyme, dan Transformasi Sampah Plastik Menjadi Produk Furnitur Bernilai Jual” tersebut dilaksanakan bersama Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Profesional GMIT Paulus.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran akbar program pengabdian kepada masyarakat yang sebelumnya dilakukan bersama pemerintah daerah dan pimpinan perguruan tinggi. Setelah tahap peluncuran, Tim Pengabdian FST Undana langsung masuk ke tahap eksekusi dengan memberikan pelatihan dan teknologi tepat guna kepada jemaat.
Ketua Tim Pengabdian FST Undana, Ir. Dominggus G. H. Adoe, ST., M.Eng., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan pengabdian Undana yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur.
Khusus untuk kelompoknya, seluruh program didedikasikan untuk mendampingi jemaat GMIT Paulus Naikoten agar mampu mengelola limbah secara mandiri, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Kami hadir tidak untuk membawa teori tebal di atas kertas, melainkan teknologi terapan yang langsung menjawab tantangan lingkungan di Kota Kupang, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi atau valorisasi. Hari ini kita membuktikan bersama bahwa dari halaman gereja GMIT Paulus Naikoten ini, limbah bisa bertransformasi menjadi berkat dan sampah bisa berubah menjadi rupiah,” ujarnya.
Tim Pengabdian FST Undana dalam kegiatan tersebut terdiri atas Ir. Dominggus G. H. Adoe, ST., M.Eng. selaku ketua, bersama anggota Adi Yermia Tobe, ST., MT., Defmit B. N. Riwu, ST., MT., dan Since D. Baunsele, S.Si., M.Ling.
Kegiatan turut dihadiri Ketua Majelis Jemaat Harian GMIT Paulus Kupang, Pdt. A. Norma Manu-Folla, S.Th., Ketua UPP Profesional GMIT Paulus, dr. Jean Eleonora Pello, Sp.B., serta perwakilan jemaat, Abraham Letik.
Menariknya, pengabdian tersebut tidak hanya melibatkan dosen dan jemaat. Tim FST Undana juga membawa mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses transfer teknologi.
Tiga mahasiswa Undana mengambil peran sesuai bidang keilmuan masing-masing. Yudha Adoe dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mendampingi peserta pada aspek kelayakan ekonomi dan pembukuan usaha.
Sementara Boy Restu dan Kirsten Riwu dari Program Studi Teknik Mesin FST Undana memberikan pendampingan teknis terkait pengoperasian mesin Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk pengolahan limbah plastik.
Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung bagi generasi muda Undana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Di sisi lain, jemaat mendapatkan pendampingan teknis yang lebih dekat dan praktis.
Pelatihan dilaksanakan menggunakan metode action-learning, sehingga peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mempraktikkan teknologi yang diperkenalkan.
Kegiatan diikuti utusan dari 10 rayon pelayanan GMIT Paulus, dengan masing-masing rayon mengirimkan tiga hingga empat orang perwakilan. Para peserta kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok kerja untuk mengikuti tiga modul utama.
Pada praktik pertama, peserta diajarkan mengolah limbah organik rumah tangga menjadi eco-enzyme.
Bahan yang digunakan antara lain kulit buah-buahan seperti jeruk, apel dan nanas, serta sisa sayuran mentah yang selama ini umumnya langsung dibuang sebagai sampah.
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar. Masing-masing kelompok berhasil menghasilkan satu galon eco-enzyme berkapasitas 15 liter.
Dengan demikian, dari kegiatan tersebut berhasil diproduksi tiga galon eco-enzyme dengan total volume 45 liter. Seluruh hasil produksi selanjutnya memasuki masa fermentasi dan akan dipantau secara berkala oleh tim pengabdian.
Tidak berhenti pada proses pembuatan eco-enzyme, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatannya untuk produk rumah tangga ramah lingkungan.
Pada modul kedua, Tim Pengabdian FST Undana mendemonstrasikan pembuatan sabun cair dan sabun padat dengan memanfaatkan eco-enzyme yang telah matang bersama bahan pendukung ramah lingkungan lainnya.
Peserta diberikan kesempatan untuk memahami tahapan pencampuran bahan hingga menghasilkan produk yang higienis dan aman digunakan.
Sebagai stimulus awal bagi jemaat, Tim Pengabdian FST Undana juga menyerahkan produk sabun cair ramah lingkungan yang telah diproduksi melalui fabrikasi laboratorium kampus.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka peluang bagi jemaat untuk melihat potensi ekonomi dari pengolahan limbah organik.
Sementara itu, modul ketiga difokuskan pada pemilahan sampah organik dan anorganik serta pengenalan teknologi pengolahan sampah plastik.
Tim memberikan penyuluhan mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga dan lingkungan gereja.
Dalam kesempatan tersebut, Tim Pengabdian FST Undana menyerahkan bantuan stimulan berupa tempat sampah plastik terpilah untuk digunakan di lingkungan gereja.
Tim juga menyerahkan instalasi komposter drum yang dirancang untuk mengolah limbah organik basah, seperti sisa makanan dapur, menjadi pupuk organik padat dan cair.
Yang menjadi perhatian peserta adalah contoh produk furnitur berupa meja yang memiliki nilai estetika dan nilai jual. Produk tersebut dibuat menggunakan mesin Teknologi Tepat Guna dengan memanfaatkan limbah plastik jenis HDPE (High-Density Polyethylene) dan LDPE (Low-Density Polyethylene).
Melalui demonstrasi tersebut, peserta diperlihatkan bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diproses menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah.
Ketua Tim Pengabdian FST Undana menegaskan, program tersebut tidak dirancang untuk berhenti pada satu kali pelatihan.
Menurutnya, persoalan sampah di Kota Kupang membutuhkan gerakan yang konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung. Karena itu, teknologi tepat guna yang diperkenalkan harus benar-benar diterapkan di lingkungan jemaat.
“Undana melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat secara serentak di berbagai kabupaten, dan kelompok pengabdian kami sepenuhnya didedikasikan untuk mendampingi jemaat GMIT Paulus Naikoten. Kami tidak ingin teknologi tepat guna hanya berhenti di dalam laboratorium universitas,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan pengelolaan limbah di wilayah perkotaan semakin mendesak sehingga diperlukan model pengelolaan yang dapat dilakukan mulai dari rumah tangga.
“Melalui metode pembagian komposter drum dan transfer teknologi pengolahan plastik HDPE/LDPE ini, kami ingin memastikan ada ekonomi sirkular yang berputar di tingkat jemaat. Target kami jelas: lingkungan menjadi asri, sampah terkelola sampai di tingkat rumah tangga, dan ekonomi jemaat tumbuh secara mandiri,” tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat selama seluruh rangkaian pelatihan. Para perwakilan rayon aktif mengikuti demonstrasi, praktik pembuatan eco-enzyme, pencampuran bahan sabun hingga pengenalan teknologi pengolahan sampah plastik.
Salah seorang perwakilan jemaat mengaku selama ini limbah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran hanya dibuang begitu saja.
“Selama ini jujur saja, kulit jeruk, kulit nanas atau sisa sayur langsung kami buang begitu saja ke bak sampah luar dan akhirnya bau. Hari ini kami belajar bahwa bahan-bahan itu kalau difermentasi bisa jadi eco-enzyme, bahkan bisa diolah lagi menjadi sabun mandi cair yang wangi dan lembut,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik langsung membuat materi yang diberikan lebih mudah dipahami.
“Praktiknya sangat mudah dipahami karena kami didampingi langsung oleh adik-adik mahasiswa dan dosen. Pulang dari sini, kami dari perwakilan rayon berkomitmen untuk membagikan ilmu ini kepada ibu-ibu dan pemuda di rayon kami masing-masing,” katanya.
Ia juga memastikan bantuan tempat sampah terpilah dan komposter drum akan dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan jemaat.
Setelah pelatihan selesai, Tim Pengabdian FST Undana bersama UPP Profesional GMIT Paulus sepakat melanjutkan program melalui monitoring berkala.
Salah satu fokus pemantauan adalah proses fermentasi tiga galon eco-enzyme berkapasitas masing-masing 15 liter atau total 45 liter yang telah diproduksi oleh peserta.
Proses fermentasi tersebut akan dipantau selama kurang lebih tiga bulan hingga eco-enzyme siap dipanen dan dimanfaatkan lebih lanjut.
Pendampingan berkelanjutan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya unit usaha mikro berbasis pengelolaan limbah domestik di lingkungan GMIT Paulus Naikoten.
Lebih dari sekadar pelatihan pengelolaan sampah, program ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi, gereja, mahasiswa dan masyarakat dapat berkolaborasi menghadirkan solusi konkret bagi persoalan lingkungan.
Dari lingkungan GMIT Paulus Naikoten, gerakan tersebut diharapkan berkembang ke 10 rayon pelayanan dan kemudian diterapkan di tingkat rumah tangga.
Dengan demikian, limbah tidak lagi hanya dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, memiliki nilai jual dan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi jemaat.
Program FST Undana bersama GMIT Paulus Naikoten tersebut menjadi bukti bahwa ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat, sampah pun dapat diubah menjadi berkah, peluang usaha dan gerakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.(*)



Komentar