GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Daerah Pendidikan
Beranda » Berita » Pascasarjana IAKN Kupang Gelar PKM di GPdI Tesbatan, Bahas Rahasia Pemeliharaan Tuhan

Pascasarjana IAKN Kupang Gelar PKM di GPdI Tesbatan, Bahas Rahasia Pemeliharaan Tuhan

Ket: Kolase foto kegiatan PKM melalui Seminar dan KKR di GPdi Tesbatan. (Alberto/NTTSatu)

NTTSatu.ID – Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) bertema “Menyingkap Rahasia Pemeliharaan Tuhan yang Tak Pernah Gagal”, berdasarkan firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 17:4–6.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Tesbatan, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan menghadirkan Direktur Pascasarjana IAKN Kupang Dr. Ezra Tari, M.Th., Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K., K. Nurhayati, S.Sos., MM, serta Pdt. Erasmus Toudengga, M.Pd. Para pembicara membahas pemeliharaan Tuhan dari berbagai perspektif, mulai dari penguatan iman pribadi, penyertaan Tuhan di tengah krisis, hingga pembangunan jemaat yang menyentuh kehidupan rohani dan jasmani secara utuh.

Direktur Pascasarjana IAKN Kupang, Dr. Ezra Tari, M.Th., dalam materi bertajuk “Unfailing Divine Providence”, mengajak umat memahami bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia.

Ia menekankan, Tuhan mengetahui kebutuhan manusia dan memiliki cara-Nya sendiri untuk memelihara serta mencukupi kehidupan umat-Nya. Pesan tersebut dikaitkan dengan pengajaran Yesus dalam Matius 6:25–34, yang mengingatkan manusia agar tidak dikuasai kekhawatiran mengenai makanan, minuman, pakaian maupun hari esok.

Polda NTT Tangkap Admin Akun TikTok Anonim Lika-Liku

Menurut Dr. Ezra, kebutuhan fisik manusia memang penting. Manusia membutuhkan makanan, minuman dan pakaian untuk menjalani kehidupan. Namun, kebutuhan tersebut tidak boleh membuat manusia kehilangan fokus dan menjadikan kekhawatiran sebagai gaya hidup.

Gambaran burung di udara dan bunga di ladang menjadi ilustrasi bahwa Tuhan senantiasa memelihara ciptaan-Nya. Burung tidak menabur dan tidak mengumpulkan makanan di dalam lumbung, tetapi tetap memperoleh makanan. Demikian pula bunga di ladang yang tidak bekerja, tetapi tetap dipelihara dan memiliki keindahan.

Jika Tuhan memelihara ciptaan-Nya, maka manusia yang memiliki nilai lebih besar di hadapan-Nya pun berada dalam perhatian Tuhan. Karena itu, umat diajak untuk tetap percaya, bekerja, bersyukur dan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, tanpa membiarkan kekhawatiran menguasai kehidupan.

Dr. Ezra menjelaskan bahwa kekhawatiran sering kali muncul ketika pikiran manusia terpecah antara kepercayaan kepada Tuhan dan ketakutan terhadap kemungkinan yang belum terjadi.

Ketika kepercayaan kepada Tuhan semakin kuat, kekhawatiran dapat dikendalikan. Sebaliknya, ketika ketakutan mengambil alih pikiran, manusia dapat kehilangan ketenangan dan sulit melihat pemeliharaan Tuhan yang sebenarnya hadir dalam kehidupannya.

Warga Korban Gempa Flores Terima 4 Ton Beras dari KPA NTT

Pdt. Erasmus Toudengga, M.Pd., mengangkat materi “Iman yang Berakar pada Sarana Pemeliharaan Tuhan yang Tak Biasa.”

Materi tersebut berangkat dari kisah Nabi Elia dalam 1 Raja-raja 17:4–6, ketika Tuhan memerintahkan Elia pergi ke tempat tertentu dan menjanjikan pemeliharaan-Nya. Dalam kisah tersebut, burung gagak menjadi sarana yang digunakan Tuhan untuk menyediakan makanan bagi Elia.

Menurut Erasmus, kisah ini memperlihatkan bahwa manusia tidak boleh membatasi cara Tuhan bekerja berdasarkan logika manusia. Dalam perspektif teologi, pemeliharaan Allah atau Providensia Allah mencakup tiga aspek, yakni Allah memelihara (preservation), Allah menyediakan (provision), dan Allah mengatur (governance).

Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia tetap berada dalam perhatian dan karya Allah. Kisah Elia juga berlangsung dalam konteks krisis. Pada masa pemerintahan Raja Ahab, bangsa Israel mengalami kemerosotan rohani akibat berkembangnya penyembahan kepada Baal. Krisis rohani tersebut kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk krisis pangan, air, ekonomi dan sosial.

Di tengah situasi tersebut, Tuhan menunjukkan kuasa pemeliharaan-Nya melalui cara yang tidak biasa. Erasmus menekankan sedikitnya empat rahasia pemeliharaan Tuhan yang dapat dipelajari dari kisah tersebut.

Elias Koa: Pelantikan GM Versi RALB Tak Serta-Merta Ubah Posisi Imelda Anin dan Kasimirus Kopong

Pertama, pemeliharaan Tuhan dimulai dengan ketaatan kepada firman-Nya. Kedua, pemeliharaan Tuhan dapat datang melalui cara yang melampaui logika manusia. Ketiga, pemeliharaan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Keempat, pemeliharaan Tuhan tidak pernah gagal sekalipun keadaan berubah.

Pesan ini menjadi penting ketika manusia menghadapi situasi sulit. Berakhirnya satu sumber pertolongan bukan berarti berakhir pula pemeliharaan Allah. Hal itu terlihat ketika sungai yang menjadi tempat Elia memperoleh pemeliharaan akhirnya mengering. Namun, Tuhan telah menyiapkan tahap berikutnya bagi Elia.

Dengan demikian, ketika satu jalan tertutup, bukan berarti Tuhan berhenti bekerja. Bisa saja Tuhan sedang mengarahkan umat-Nya menuju jalan lain yang belum terlihat.

Sementara itu, Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K., mengangkat tema “Pemeliharaan Tuhan dalam Pembangunan Jemaat: Membangun Kehidupan Rohani dan Jasmani Jemaat secara Utuh.”

Ia menegaskan bahwa pembangunan jemaat tidak semestinya hanya dipahami sebagai upaya meningkatkan kehidupan rohani. Pembangunan jemaat harus menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk spiritualitas, kesehatan, keluarga, pendidikan, ekonomi, relasi sosial, psikologis hingga lingkungan.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa pemeliharaan Tuhan berarti Allah terus menopang, menyertai, mengarahkan dan memelihara ciptaan-Nya. Karena itu, gereja tidak cukup hanya bertanya bagaimana jemaat semakin beriman, tetapi juga bagaimana jemaat dapat menjalani kehidupan secara utuh dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Salah satu pokok penting yang ditekankan adalah bahwa Allah memelihara kehidupan dan gereja dipanggil untuk ikut memelihara kehidupan. Jemaat bukan sekadar kumpulan individu yang datang beribadah, tetapi komunitas yang dipanggil untuk saling mendukung, memelihara dan bertumbuh bersama.

Spiritualitas juga tidak boleh berhenti pada doa, ibadah dan pengetahuan iman. Spiritualitas yang bertumbuh harus diwujudkan dalam pelayanan dan tindakan nyata. Alurnya adalah Allah memelihara, jemaat mengalami pemeliharaan, kemudian jemaat belajar memelihara sesama.

Dr. Fenetson menjelaskan bahwa pembangunan jemaat yang holistik harus memperhatikan kesejahteraan dalam berbagai dimensi. Kesejahteraan rohani mencakup iman, pengharapan dan kedewasaan spiritual. Kesejahteraan jasmani meliputi kesehatan, pangan, tempat tinggal dan keamanan.

Sementara kesejahteraan sosial mencakup relasi, solidaritas dan penerimaan. Pada aspek ekonomi, gereja dapat mendorong pekerjaan, produktivitas dan kemandirian jemaat. Aspek psikologis juga tidak boleh diabaikan, termasuk ketahanan, rasa aman dan makna hidup. Demikian pula dengan aspek ekologis yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

Karena itu, pelayanan gereja dapat diwujudkan melalui diakonia sosial, pemberdayaan ekonomi dan komunitas penyembuhan. Diakonia sosial diarahkan untuk menghadirkan kasih Kristus secara nyata kepada masyarakat, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan.

Pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan melalui pengembangan keterampilan, kewirausahaan dan pengelolaan sumber daya secara bijaksana. Sementara komunitas penyembuhan menjadi ruang aman bagi pemulihan batin dan dukungan emosional, termasuk bagi kelompok rentan seperti lanjut usia.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa gereja memiliki peran strategis dalam menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan jemaat dan masyarakat. Untuk menjelaskan hubungan antara pemeliharaan Tuhan dan pembangunan jemaat, Dr. Fenetson menggunakan analogi pohon dan akar.

Pemeliharaan Tuhan diibaratkan sebagai akar yang menopang kehidupan jemaat. Kehidupan rohani menjadi akar, relasi sebagai batang, pelayanan sebagai cabang dan kesejahteraan sebagai buah. Seperti pohon tidak dapat menghasilkan buah tanpa akar yang kuat, demikian pula jemaat tidak dapat menghasilkan kehidupan dan pelayanan yang berdampak apabila terputus dari sumber pemeliharaan Tuhan.

Kehidupan jemaat juga dianalogikan dengan tubuh manusia yang memiliki banyak anggota. Mata, tangan, kaki, jantung dan otak memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membutuhkan. Demikian pula kehidupan jemaat. Kehidupan rohani, kesehatan, ekonomi, keluarga, relasi sosial, pendidikan dan lingkungan saling berkaitan.

Ketika satu aspek mengalami persoalan, aspek kehidupan lainnya dapat ikut terdampak. Karena itu, pembangunan jemaat tidak boleh hanya berfokus pada “penyembuhan jiwa”, tetapi juga harus memperhatikan tubuh dan kehidupan sosial manusia.

Pembangunan jemaat juga digambarkan seperti seorang gembala yang menjaga kawanan domba. Gembala bukan hanya membawa domba, tetapi memastikan domba memperoleh makanan, air, perlindungan, arah dan keamanan. Gambaran tersebut menjadi model bagi gereja dalam menjalankan panggilannya. Tuhan memelihara, gereja belajar memelihara dan jemaat saling memelihara.

Pemeliharaan Tuhan yang dialami jemaat tidak seharusnya berhenti sebagai pengalaman pribadi. Pemeliharaan tersebut harus mengalir menjadi kepedulian dan pelayanan kepada sesama. Hal ini dianalogikan seperti mata air. Air tidak berhenti di sumbernya, tetapi mengalir menjadi sungai, menghidupkan tanaman, menyediakan air bagi manusia dan memberi kehidupan kepada lingkungan.

Demikian pula pemeliharaan Tuhan. Allah memelihara jemaat, jemaat mengalami kehidupan, kehidupan melahirkan syukur, syukur menghasilkan pelayanan dan pelayanan menghadirkan kehidupan bagi orang lain.

Seminar dan KKR Pascasarjana IAKN Kupang tersebut menjadi momentum untuk memperkuat iman sekaligus memperluas pemahaman jemaat mengenai pemeliharaan Tuhan.

Pesan yang disampaikan para pembicara menjadi relevan dengan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, mulai dari persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga, pendidikan, kesehatan hingga ketidakpastian masa depan.

Umat tidak diajak untuk mengabaikan persoalan, tetapi belajar menghadapinya dengan iman, tanggung jawab dan pengharapan. Kisah Nabi Elia menunjukkan bahwa Tuhan dapat memelihara umat-Nya melalui sarana yang tidak pernah diperkirakan.

Pengajaran Yesus dalam Matius 6:25–34 mengingatkan agar manusia tidak dikuasai kekhawatiran. Sementara konsep pembangunan jemaat secara holistik mengajarkan bahwa pengalaman menerima pemeliharaan Tuhan harus diwujudkan dalam tindakan nyata bagi sesama.

Melalui kegiatan PKM tersebut, Pascasarjana IAKN Kupang mendorong jemaat, masyarakat dan para pelayan Tuhan di Kecamatan Amarasi untuk terus membangun iman yang berakar pada firman Tuhan, berani taat, tetap bekerja dan berusaha, serta tidak kehilangan pengharapan dalam menghadapi berbagai perubahan.

Pada akhirnya, tema “Menyingkap Rahasia Pemeliharaan Tuhan yang Tak Pernah Gagal” mengingatkan umat bahwa perubahan keadaan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan manusia. Ketika satu sumber pertolongan mengering, Tuhan dapat menyediakan sumber yang baru. Ketika satu jalan tertutup, Tuhan dapat membuka jalan yang lain.

Pemeliharaan Tuhan tidak pernah gagal. Karena itu, umat dipanggil untuk tetap percaya, taat, bekerja, bersyukur dan menjadi berkat bagi sesama.

Salah satu materi yang disampaikan Nurhayati, S.Sos., MM., mengajak peserta mendalami kisah Nabi Elia ketika Israel mengalami masa kekeringan.

Menurutnya, kisah tersebut perlu dipahami dalam konteks kehidupan bangsa Israel pada masa pemerintahan Raja Ahab. Pada masa itu, kehidupan rohani Israel mengalami kemerosotan. Penyembahan kepada Baal semakin berkembang, sementara penyembahan kepada Tuhan semakin ditinggalkan.

Dalam situasi tersebut, Nabi Elia tampil sebagai sosok yang berani menyampaikan kebenaran Tuhan. Elia bukan berasal dari kalangan istana maupun pusat keagamaan. Ia berasal dari Tisbe di Gilead. Namun, Tuhan memilih dan mengutusnya untuk menjalankan tugas penting.

Pesan yang dapat dipetik, kata Nurhayati, adalah bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menjalankan pekerjaan besar, tanpa melihat latar belakang maupun posisi seseorang.

Kekeringan pada zaman Elia menjadi bagian penting dalam pesan yang disampaikan kepada jemaat. Dalam konteks kisah tersebut, kekeringan bukan hanya sebuah bencana alam, tetapi juga menjadi peringatan dan konsekuensi atas kehidupan bangsa Israel yang menjauh dari Tuhan.

Namun, ketika kekeringan terjadi, Tuhan tidak meninggalkan Elia. Tuhan justru memerintahkan Elia pergi ke Sungai Kerit, di sebelah timur Sungai Yordan. Di tempat itu, Elia mendapatkan air dari sungai. Sementara itu, burung-burung gagak diperintahkan Tuhan untuk membawa makanan kepadanya.

Peristiwa tersebut menjadi gambaran kuat bahwa pemeliharaan Tuhan dapat hadir melalui cara yang tidak pernah dipikirkan manusia.

Ketika sumber daya manusia terbatas, Tuhan tetap mampu membuka jalan. Ketika keadaan tampak tertutup, Tuhan dapat menyediakan pertolongan dari arah yang tidak terduga.

Karena itu, jemaat diajak tidak hanya melihat persoalan dari sisi keterbatasan manusia, tetapi juga belajar melihat karya dan penyertaan Tuhan di balik setiap keadaan.

Hal lain yang menjadi penekanan dalam materi tersebut adalah pentingnya ketaatan terhadap firman Tuhan. Elia tidak hanya mendengar perintah Tuhan. Ia melakukannya. Ketika Tuhan memerintahkan Elia pergi ke Sungai Kerit, Elia segera berangkat dan melakukan apa yang diperintahkan. Ia tidak menawar, meragukan, maupun mengeluh.

Dari sini, peserta diajak memahami bahwa iman bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Mendengar firman harus diikuti dengan percaya dan ketaatan. Ketaatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang untuk mengalami penyertaan Tuhan.

Dalam kehidupan masa kini, “kekeringan” dapat hadir dalam berbagai bentuk. Bisa berupa persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, pelayanan, relasi maupun berbagai bentuk pergumulan lainnya.

Namun, pesan dari kisah Elia mengingatkan bahwa masa sulit tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan manusia. Sebaliknya, masa sulit dapat menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Tuhan, memperkuat iman, serta belajar mengandalkan pemeliharaan-Nya.

Peserta juga diajak membangun komunikasi yang lebih intim dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, dan saat teduh. Dalam situasi ketika manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok, kepercayaan kepada Tuhan menjadi dasar untuk tetap melangkah.

Tuhan Bekerja dengan Cara yang Tak Terduga

Sungai Kerit dan burung gagak dalam kisah Elia juga memberikan gambaran menarik mengenai cara Tuhan bekerja. Sungai menjadi sumber air yang tersedia bagi Elia, sedangkan burung gagak menjadi sarana yang digunakan Tuhan untuk menyediakan makanan.

Keduanya menunjukkan bahwa Tuhan tidak terbatas pada satu cara dalam menolong umat-Nya. Ketika manusia berpikir pertolongan hanya dapat datang dari satu arah, Tuhan dapat menghadirkannya melalui jalan yang sama sekali tidak terpikirkan.

Pesan tersebut dinilai sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama ketika banyak orang berhadapan dengan ketidakpastian dan berbagai tekanan kehidupan. Jemaat didorong untuk tidak mudah menyerah hanya karena keadaan belum berubah. Sebaliknya, mereka diajak tetap percaya bahwa Tuhan mengetahui kebutuhan umat-Nya.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NTTSatu.ID merupakan portal berita yang menyajikan informasi terkini, terpercaya, dan aktual seputar berbagai peristiwa penting di Nusa Tenggara Timur serta berbagai isu nasional yang menarik untuk diketahui masyarakat.

Berita Terbaru






Berita Populer

01

Kuasa Hukum Sebut Kades Fafinesu B Picu Pengeroyokan Tiga Pencari Madu di TTU

02

Mario Kebo: Tiga Pencari Madu Dihadang dan Dianiaya di Jalan, Bukan di Rumah Warga

03

Duka Mendalam atas Kepergian dr. Icha, Bupati TTU Dukung Keluarga Tempuh Jalur Hukum

04

Kuasa Hukum Naris Amleni Bantah Terlibat Intimidasi dr. Icha

05

Bupati TTU: Jika Terbukti Terlibat Penganiayaan, Kades Fafinesu B Akan Dicopot

× Advertisement
× Advertisement