NTTSatu.ID – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mengambil bagian dalam upaya membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kampus yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia itu menggalang dukungan melalui gerakan donasi yang melibatkan sivitas akademika dan mitra kelembagaan.
Gerakan tersebut menjadi bentuk kepedulian IAKN Kupang terhadap masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana. Tidak hanya mengumpulkan donasi, kampus juga menyiapkan bantuan kebutuhan pokok serta berencana mengutus tim ke wilayah terdampak.
Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., saat ditemui di Kampus IAKN Kupang, Jumat (28/8/2026), mengatakan keterlibatan kampus dalam membantu korban gempa merupakan bagian dari komitmen kelembagaan sekaligus tindak lanjut dari imbauan Kementerian Agama.
Menurut I Made Suardana, Kementerian Agama telah mengimbau seluruh jajarannya, termasuk perguruan tinggi keagamaan, untuk mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana.
“Dari Kementerian Agama pusat sudah mengimbau secara menyeluruh. IAKN Kupang menjadi salah satu perguruan tinggi keagamaan yang terdekat dengan daerah terdampak. Saya juga sudah diminta langsung untuk mengoordinir secara internal dan terlibat secara langsung untuk memberikan dukungan,” ujar Rektor.
Sejak bencana gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, IAKN Kupang langsung menggerakkan solidaritas internal melalui penggalangan dana. Gerakan tersebut melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta berbagai unsur di lingkungan akademik.
Hingga Jumat (28/8/2026), dana yang berhasil terkumpul telah mencapai puluhan juta. Jumlah tersebut masih dapat bertambah karena kampus juga membuka ruang kerja sama dengan mitra-mitra yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat terdampak.
Rektor I Made Suardana mengatakan penggalangan donasi internal akan ditutup pada akhir Agustus. Dana yang terkumpul kemudian akan diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah terdampak gempa.
“Memang mungkin tidak banyak, tetapi kita berusaha untuk mengakomodir dukungan internal lembaga, dosen, mahasiswa dan lingkungan akademik. Kita juga mencoba melibatkan mitra-mitra kita,” katanya.
Bantuan yang dipersiapkan terutama berupa kebutuhan pokok atau sembako. IAKN Kupang juga berencana mengirim sejumlah personel untuk melihat sekaligus mendukung proses penyaluran bantuan di wilayah terdampak.
Dalam penyaluran bantuan, IAKN Kupang mempertimbangkan pola kerja sama dengan jajaran Kementerian Agama di wilayah yang terdampak bencana.
Pola ini dinilai dapat membuat bantuan lebih efektif dan tepat sasaran karena jajaran Kementerian Agama di daerah memiliki akses dan informasi langsung mengenai kondisi masyarakat yang membutuhkan.
“Kemungkinan besar kita akan bekerja sama dengan Kementerian Agama di daerah terdampak. Mereka yang mengatur pembelian sembako dan kebutuhan lainnya, kemudian anggaran atau dana yang kita kumpulkan akan kita kirim untuk mereka,” jelasnya.
Dengan mekanisme tersebut, IAKN Kupang tidak hanya berfokus pada pengumpulan dana, tetapi juga memastikan bantuan dapat diarahkan kepada kebutuhan yang benar-benar diperlukan oleh masyarakat.
Semangat solidaritas tersebut juga akan dibawa dalam rangkaian penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) IAKN Kupang.
Penutupan PKKMB akan dikaitkan dengan kegiatan konser amal internal yang melibatkan mahasiswa baru dan sivitas akademika. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk ikut menunjukkan kepedulian terhadap saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi bencana.
Sebanyak 1.221 mahasiswa baru akan diberikan kesempatan untuk mengambil bagian dalam aksi solidaritas tersebut.
“Besok akan ada penutupan PKKMB yang dikaitkan dengan konser amal internal bersama mahasiswa baru dan sivitas akademika. Akan diberi kesempatan semacam seremoni dukungan bersama mahasiswa baru yang kurang lebih 1.221 orang,” kata I Made Suardana.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa baru bukan semata-mata untuk mengumpulkan dana, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.
Lebih jauh, IAKN Kupang ingin menjadikan momentum bencana Flores sebagai titik awal untuk membangun sistem solidaritas sosial yang lebih permanen.
Rektor IAKN Kupang menilai aksi penggalangan dana tidak seharusnya hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Perguruan tinggi, menurutnya, perlu memiliki sistem donasi berkelanjutan sehingga ketika terjadi bencana atau persoalan sosial lainnya, respons dapat dilakukan dengan cepat.
“Ini bukan hanya pada saat bencana ini, tetapi sebenarnya harus dibangun sebuah sistem donasi berkelanjutan. Karena kapan saja bisa terjadi bencana, tidak hanya pada satu momen tertentu kita menggalang dana,” tegasnya.
Gagasan tersebut kemudian diarahkan pada pembentukan “Dompet Sosial IAKN Kupang”, sebuah wadah solidaritas yang nantinya diharapkan memiliki struktur organisasi, mekanisme pengelolaan, serta program kerja yang jelas.
Dompet Sosial tersebut tidak hanya dirancang sebagai tempat menghimpun dana ketika terjadi bencana, tetapi juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi instrumen penguatan masyarakat yang menghadapi berbagai kondisi sulit.
“Perlu ada wadah yang berkelanjutan sehingga punya program-program yang signifikan, di dalamnya dikaitkan dengan penguatan pembangunan masyarakat dalam situasi yang sulit. Program ini semacam dompet sosial,” ujarnya.
I Made Suardana mengatakan pembentukan sistem tersebut penting agar perguruan tinggi tidak membutuhkan waktu lama untuk merespons sebuah bencana.
Ia mencontohkan, proses pengumpulan donasi untuk korban gempa Flores hingga saat ini telah berlangsung sekitar dua minggu. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa diperlukan sebuah mekanisme yang sudah siap digunakan kapan pun masyarakat membutuhkan bantuan.
“Kalau tidak seperti ini, sekarang membutuhkan waktu dua minggu untuk mengumpulkan donasi,” katanya.
Karena itu, IAKN Kupang ingin membangun sistem yang lebih terstruktur. Ketika bencana terjadi, kampus dapat segera menentukan langkah, mengaktifkan jaringan solidaritas, mengumpulkan dukungan dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Dompet sosial ini akan dibuatkan strukturnya yang baku dan juga program kerjanya. Upaya-upaya yang dilakukan sehingga ketika kita mendapatkan ada musibah atau bencana, kita bisa cepat melakukan tanggung jawab itu,” jelasnya.
IAKN Kupang juga memastikan seluruh proses penggalangan dan penyaluran bantuan akan dipertanggungjawabkan secara kelembagaan.
Hasil kegiatan, termasuk dana yang dihimpun dan bentuk bantuan yang disalurkan, akan dilaporkan secara umum sebagai bagian dari transparansi kepada sivitas akademika dan pihak-pihak yang ikut memberikan dukungan.
Bagi IAKN Kupang, keterlibatan dalam membantu korban gempa bukan sekadar aksi sosial sesaat. Gerakan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.
“Secara kelembagaan ini menjadi tanggung jawab kampus,” ujar I Made.
Melalui gerakan donasi, rencana penyaluran sembako, keterlibatan mahasiswa baru dalam konser amal hingga gagasan pembentukan Dompet Sosial IAKN Kupang, kampus berupaya membangun budaya solidaritas yang tidak berhenti pada satu peristiwa bencana.
Di tengah duka masyarakat Flores akibat gempa, IAKN Kupang ingin memastikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya hadir melalui ruang akademik, tetapi juga melalui aksi nyata—menggerakkan kepedulian, menghimpun kekuatan bersama dan membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak.(*)



Komentar