NTTSatu.ID- Kabupaten Ende dan sekitarnya sedang menghadapi dua potret pilu yang sama-sama berakar pada persoalan klasik: kemiskinan dan akses pendidikan. Di satu sisi, anak-anak turun ke jalan bersama orang tua mereka dalam aksi demonstrasi.
Di sisi lain, seorang bocah di Kabupaten Ngada mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli perlengkapan sekolah.
Peristiwa pertama terlihat dalam aksi unjuk rasa para pedagang di kawasan Pantai Ndao yang digelar pada Rabu, 8 April 2026, di kantor Bupati dan DPRD Ende. Aksi tersebut dimotori oleh PMKRI Cabang Ende dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Yang menyita perhatian, aksi itu turut melibatkan anak-anak dari para pedagang yang terdampak rencana penggusuran lapak oleh Pemerintah Kabupaten Ende. Mereka hadir bukan sekadar sebagai pelengkap, tetapi ikut menyuarakan kegelisahan.
Salah satu anak bahkan membacakan pernyataan sikap di hadapan massa aksi. Dengan polos namun tegas, ia menyampaikan bahwa penggusuran lapak orang tua mereka akan berdampak langsung pada kelangsungan pendidikan mereka.
Ia mengungkapkan bahwa tanpa penghasilan, orang tua mereka tidak akan mampu membayar biaya sekolah, membeli buku, maupun memenuhi kebutuhan dasar lainnya.
“Kalau orang tua kami tidak punya penghasilan, kami tidak bisa sekolah. Kami hanya di rumah dan lihat orang tua stres,” ujar salah satu anak.
Anak tersebut juga mempertanyakan keadilan kebijakan pemerintah yang dinilai tebang pilih dalam penertiban bangunan di sempadan pantai.
Ia berharap pemerintah tidak menjadikan mereka sebagai korban, dan meminta solusi yang manusiawi agar orang tua mereka tetap bisa bekerja dan mereka tetap bisa bersekolah. Namun di sisi lain, pelibatan anak dalam aksi ini menuai kritik dari pemerhati anak.
Afra Baboraki menilai bahwa kehadiran anak dalam demonstrasi bukan bentuk pendidikan politik, melainkan eksploitasi.
Menurutnya, anak-anak seharusnya dilindungi dari situasi penuh tekanan dan risiko, bukan dilibatkan dalam konflik sosial orang dewasa.
Di tengah polemik tersebut, publik juga dihadapkan pada tragedi memilukan di Kabupaten Ngada.
Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri beberapa waktu lalu.
Peristiwa itu terjadi pada 29 Januari 2026 di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu. Di lokasi kejadian, ditemukan surat perpisahan yang ditulis korban.
Diduga kuat, tindakan nekat itu dipicu oleh kekecewaan karena tidak terpenuhinya kebutuhan sekolah. Sehari sebelumnya, korban meminta uang Rp10.000 kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen.
Namun karena keterbatasan ekonomi, sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. Kondisi itu diduga menjadi tekanan batin bagi korban.
Dua peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa pendidikan di Nusa Tenggara Timur masih menjadi persoalan serius, terutama bagi keluarga kurang mampu.
Di tengah realitas pahit itu, kehadiran SMK Kunci Ilmu di Kabupaten Ende menjadi secercah harapan yang nyata bagi masyarakat kecil.
Selama dua tahun terakhir, sekolah ini mengambil langkah berani dengan menggratiskan seluruh biaya pendidikan bagi siswa hingga lulus.
Tidak hanya itu, SMK Kunci Ilmu juga menyediakan makan siang gratis setiap hari, memastikan siswa dapat belajar tanpa harus memikirkan kebutuhan dasar.
Langkah ini sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap anak-anak dari keluarga miskin yang selama ini kerap terpinggirkan dalam akses pendidikan.
Ketua Pembina Yayasan Kunci Ilmu, Laili Qudriana, menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang yang aman dan membebaskan bagi setiap anak, bukan justru menjadi sumber tekanan yang mematahkan harapan.
Ia menilai, berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, baik anak-anak yang harus turun ke jalan hingga tragedi bunuh diri karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, adalah alarm keras bagi semua pihak.
Menurut Laili, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak anak di Nusa Tenggara Timur yang hidup dalam ketidakpastian, terutama terkait akses pendidikan yang layak.
“Tidak boleh ada anak yang berhenti sekolah hanya karena orang tuanya miskin. Itu kegagalan bersama yang harus kita jawab dengan tindakan nyata,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Yayasan Kunci Ilmu hadir bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai gerakan sosial yang berpihak pada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Melalui SMK Kunci Ilmu di Ende, pihaknya secara konsisten menggratiskan seluruh biaya pendidikan hingga lulus sebagai bentuk komitmen menghadirkan keadilan pendidikan.
Tidak hanya itu, kebijakan makan siang gratis setiap hari juga diterapkan untuk memastikan siswa dapat belajar dengan kondisi fisik yang layak dan tanpa rasa lapar.
Laili menyebut, langkah tersebut lahir dari pengalaman langsung melihat anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena alasan ekonomi yang sangat sederhana, seperti tidak mampu membeli buku atau membayar iuran.
“Kalau kita tidak ambil peran, maka anak-anak ini akan terus menjadi korban keadaan. Padahal mereka punya hak yang sama untuk bermimpi dan berhasil,” tegasnya.
Laili menegaskan bahwa Yayasan Kunci Ilmu akan terus mempertahankan kebijakan pendidikan gratis hingga lulus di SMK Kunci Ilmu Ende tanpa pengecualian.
Tidak hanya biaya pendidikan, yayasan juga berkomitmen untuk terus menyediakan fasilitas pendukung seperti makan siang gratis bagi para siswa bahkan makan gratis juga diberikan kepada Kampus Stikes Nusantara Kupang.
Menurutnya, langkah tersebut akan terus dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Selama kami mampu, kami akan terus menggratiskan pendidikan ini. Ini komitmen kemanusiaan kami,” tegasnya.
Ia juga berharap model pendidikan seperti yang diterapkan Yayasan Kunci Ilmu dapat menjadi inspirasi dan mendorong kebijakan yang lebih luas demi masa depan anak-anak NTT yang lebih baik. (*)


Komentar