NTTSatu.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali membuktikan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026.
Program yang didanai oleh Program BIMA Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini berfokus pada peningkatan nilai tambah tenun tradisional sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya perempuan penenun di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Mengusung tema “Diferensiasi Produk Tenun Tradisional untuk Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Komunitas Perempuan Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur”, program ini tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan, tetapi juga menghadirkan inovasi produk, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar.
Kegiatan tersebut diketuai oleh Lia Nur Fadhilah, S.E., M.M. bersama tim dosen dan mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Komunitas perempuan penenun di Kabupaten Malaka menjadi mitra utama dalam pelaksanaan program, dengan harapan mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya tenun khas Nusa Tenggara Timur.
Dalam sambutannya, Lia Nur Fadhilah menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek melalui Program BIMA atas dukungan pendanaan yang diberikan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nusa Cendana yang terus memberikan pendampingan selama pelaksanaan program.
Menurutnya, tenun tradisional memiliki nilai budaya yang sangat tinggi dan merupakan identitas masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Namun, agar mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif, diperlukan inovasi sehingga produk tenun tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki daya saing ekonomi.
“Tenun tradisional bukan hanya sebuah kain, tetapi merupakan identitas budaya, kebanggaan daerah, sekaligus warisan leluhur yang harus terus kita lestarikan. Namun, perkembangan pasar saat ini menuntut adanya inovasi agar produk tenun memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkap Lia.
Ia menjelaskan, tujuan utama program ini adalah mendampingi para mama penenun agar tidak hanya menjual kain tenun sebagai produk utama, tetapi mampu mengembangkan berbagai produk kreatif seperti pakaian, tas, dompet, topi, hingga aksesori berbahan tenun yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 18 Juli 2026 melalui sesi sosialisasi yang menghadirkan Muhamada Dian Aryono, S.T., M.M. sebagai narasumber.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi mengenai diferensiasi produk, yaitu strategi menciptakan keunikan produk agar memiliki daya saing lebih tinggi di pasar. Para peserta diajak memahami pentingnya mengembangkan kain tenun menjadi berbagai produk inovatif tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif dan coraknya.
Selanjutnya, peserta memperoleh pelatihan mengenai digital marketing, meliputi strategi pemasaran melalui media sosial, membangun identitas merek (branding), menyusun konten promosi yang menarik, hingga memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Tidak hanya itu, materi mengenai pengelolaan keuangan usaha juga diberikan. Peserta dibekali pengetahuan tentang pencatatan transaksi, pemisahan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga, perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, hingga pengelolaan laba sebagai modal pengembangan usaha.
Suasana diskusi berlangsung interaktif. Para mama penenun antusias berbagi pengalaman, menyampaikan kendala yang mereka hadapi selama ini, sekaligus berdiskusi mengenai berbagai peluang pengembangan usaha tenun di masa mendatang.
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik yang difokuskan pada peningkatan keterampilan peserta dalam menghasilkan produk turunan berbahan tenun.
Peserta belajar menggambar pola sebagai dasar pembuatan produk fesyen, kemudian mempraktikkan teknik menjahit dengan pendampingan langsung dari tim PKM dan mahasiswa Universitas Nusa Cendana.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari seluruh tahapan produksi, mulai dari penyusunan pola, pemotongan bahan, mengombinasikan kain tenun dengan bahan pendukung, hingga proses finishing agar menghasilkan produk yang rapi, menarik, dan memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim PKM juga menyerahkan bantuan berupa mesin jahit, mesin obras, dan mesin tenun kepada kelompok mitra.
Bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, mempercepat proses pembuatan produk, sekaligus meningkatkan kualitas hasil tenun masyarakat sehingga mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.
Program PKM ini secara khusus menyasar komunitas perempuan karena mereka memiliki peran strategis dalam menjaga tradisi menenun sekaligus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Lia Nur Fadhilah menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Ketika perempuan berdaya secara ekonomi, maka keluarga menjadi lebih sejahtera, dan pada akhirnya masyarakat pun akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia berharap program ini menjadi langkah awal lahirnya berbagai produk tenun inovatif khas Kabupaten Malaka yang mampu menembus pasar regional bahkan nasional.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya pada saat pelatihan berlangsung. Justru setelah kegiatan ini selesai akan lahir produk-produk baru yang lebih inovatif, lebih menarik, memiliki identitas yang kuat, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, Universitas Nusa Cendana terus menunjukkan komitmennya menghadirkan program pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat.(*)



Komentar