NTTSatu.ID – Sikap Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang kembali menjadi sorotan publik.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) IAKN Kupang kini mendapat tantangan terbuka dari masyarakat untuk menunjukkan konsistensi perjuangan mereka dalam membela nilai kemanusiaan dan martabat seseorang.
Sorotan itu muncul menyusul dugaan adanya ucapan yang dianggap merendahkan martabat Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., dengan menggunakan kata yang menyamakan manusia dengan hewan.
Publik mempertanyakan mengapa BEM dan BLM IAKN Kupang yang sebelumnya tampil paling depan melakukan aksi berjilid-jilid ketika seorang dosen berinisial JS diduga menggunakan kata “binatang” kepada sejumlah mahasiswa, kini justru dinilai memilih diam ketika dugaan ucapan serupa diarahkan kepada pimpinan kampus.
Perbedaan respons tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi perjuangan organisasi mahasiswa di lingkungan kampus tersebut.
Apakah perjuangan selama ini benar-benar murni membela nilai kemanusiaan, ataukah hanya muncul ketika persoalan melibatkan pihak-pihak tertentu?
Dulu Aksi Berjilid-Jilid
Publik masih mengingat aksi mahasiswa IAKN Kupang pada pertengahan tahun 2026.
Saat itu, Ormawa, khususnya BEM bersama sejumlah mahasiswa, melakukan aksi secara berulang untuk mempersoalkan dugaan ucapan seorang dosen berinisial JS kepada mahasiswa dalam proses perkuliahan.
Persoalan tersebut berkembang menjadi aksi kampus yang cukup besar.
Mahasiswa tidak hanya meminta adanya klarifikasi dan permintaan maaf, tetapi juga mendesak pimpinan kampus mengambil tindakan tegas terhadap dosen yang bersangkutan.
Bahkan, menurut catatan dan narasi yang berkembang saat aksi tersebut, tuntutan mahasiswa terus meningkat hingga adanya desakan penonaktifan terhadap dosen JS.
Tak berhenti di situ, massa aksi juga pernah mendesak Rektor IAKN Kupang untuk turun dari jabatannya.
Saat itu, mahasiswa menilai pimpinan kampus tidak cukup tegas dan tidak berpihak pada apa yang mereka yakini sebagai kebenaran.
Dalam berbagai aksi tersebut, BEM IAKN Kupang disebut secara tegas menyampaikan prinsip perjuangan mengenai martabat manusia.
Salah satu kalimat yang kini kembali diungkit publik adalah pernyataan bahwa organisasi mahasiswa tidak berpihak kepada pihak tertentu, melainkan mengikuti hati nurani.
“Kami tidak memihak pada pihak mana pun, tapi kami mengikuti hati nurani kami bahwa derajat seorang manusia tidak bisa disetarakan dengan apa pun, apalagi binatang.”
Pernyataan tersebut kini kembali menjadi bahan perdebatan publik.
Pasalnya, masyarakat mempertanyakan apakah prinsip yang sama masih berlaku ketika pihak yang diduga mendapatkan ucapan merendahkan bukan mahasiswa, melainkan Rektor IAKN Kupang.
Akun Facebook Tantang BEM dan BLM
Kritik keras terhadap sikap Ormawa IAKN Kupang salah satunya datang dari salah satu alumni IAKN Kupang, Delmi Potdon.
Melalui unggahan panjangnya di facebook, akun Delmi Potdon tersebut secara terbuka menantang BEM dan BLM IAKN Kupang untuk menunjukkan konsistensi perjuangan mereka.
Akun itu menilai terdapat perbedaan mencolok antara respons mahasiswa terhadap kasus dosen JS dengan situasi yang saat ini berkembang.
“Kalau ada atasan maki bawahan sudah sering terjadi, tapi bawahan maki atasan itu namanya cetak sejarah baru,” tulis akun tersebut.
Ia kemudian mengingat kembali bagaimana BEM tampil di barisan terdepan ketika kasus dugaan ucapan dosen JS terhadap mahasiswa mencuat.
Menurutnya, saat itu BEM dengan penuh keyakinan memperjuangkan prinsip bahwa manusia tidak boleh disetarakan dengan binatang.
Bahkan, perjuangan tersebut tetap dilakukan meskipun pengurus BEM kala itu disebut belum dilantik secara resmi.
“BEM berdiri dengan percaya diri walaupun mereka sadar waktu itu belum dilantik,” tulis akun tersebut.
Akun tersebut menilai tuntutan mahasiswa kala itu tidak berhenti pada permintaan maaf.
Mahasiswa disebut terus mendesak berbagai tindakan terhadap dosen JS hingga persoalan tersebut berkembang menjadi aksi berjilid-jilid.
Nama Harun Natonis Ikut Disorot
Dalam unggahan tersebut, akun @Delmi Potdon juga menyinggung keterlibatan Harun Natonis dalam dinamika aksi mahasiswa pada kasus sebelumnya.
Harun disebut pernah berada di tengah massa aksi ketika persoalan dosen JS mencuat.
Bahkan, berdasarkan narasi yang disampaikan akun tersebut, Harun kala itu memberikan penilaian keras terhadap perilaku dosen JS.
Ia disebut menyampaikan rasa kecewa terhadap tindakan yang dianggap anarkis serta mengingatkan pentingnya pengendalian emosi.
“Beliau menasihati kalau semarah apa pun, harus bisa mengontrol emosi dan tetap menjunjung tinggi nilai,” tulis akun tersebut.
Namun kini, publik justru menyoroti Harun Natonis setelah muncul dugaan penggunaan kata yang dianggap menyamakan Rektor IAKN Kupang dengan hewan.
Akun Facebook tersebut secara khusus mempertanyakan sikap BEM IAKN Kupang yang disebut memilih netral terhadap persoalan tersebut.
“Sekarang kesalahan Pak JS diulang oleh seorang dosen atas nama HN, yang menyetarakan pimpinan, Rektor, dengan hewan. Lalu BEM muncul dengan percaya dirinya bilang, ‘Kami netral?’” tulis akun tersebut.
Pernyataan itu kemudian memantik diskusi di tengah masyarakat.
Publik mulai membandingkan dua peristiwa yang dianggap memiliki substansi hampir sama, yakni persoalan penggunaan kata yang dinilai merendahkan manusia dengan menyamakannya dengan binatang.
Namun, perbedaan besar justru terlihat dari respons Ormawa.
Pada kasus pertama, aksi dilakukan secara berjilid-jilid.
Sementara pada persoalan yang kini menjadi sorotan, BEM dan BLM justru dinilai belum menunjukkan sikap terbuka.
“Buktikan Aksi Selama Ini Murni dari Hati Nurani”
Akun @Delmi Potdon kemudian secara terbuka menantang seluruh pengurus BEM dan BLM IAKN Kupang.
Tantangan tersebut bukan hanya sekadar meminta mereka memberikan pernyataan, tetapi juga membuktikan bahwa aksi-aksi mahasiswa yang dilakukan sejak tahun 2024 benar-benar lahir dari hati nurani.
“Beta tantang bosong BEM/BLM IAKN Kupang, siapa yang berani berdiri buat buktikan bahwa memang benar selama ini aksi berjilid-jilid yang bosong buat sejak tahun 2024, sejak Rektor menjabat hingga hari ini, murni dari hati nurani, bukan bekingan di belakang,” tulisnya.
Menurut akun tersebut, persoalan yang sedang berkembang bukan hanya menyangkut konflik antara individu.
Lebih dari itu, persoalan tersebut menyangkut citra kampus dan kredibilitas organisasi mahasiswa.
BEM dan BLM, menurutnya, juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga konsistensi sikap mereka.
“Ini juga tentang citra kampus dan bosong punya citra. Kalau memang bosong murni, coba lakukan hal yang sama seperti yang pernah bosong lakukan sebelumnya,” tegas akun tersebut.
Tantangan itu secara langsung menempatkan BEM dan BLM IAKN Kupang dalam sorotan publik.
Sebab, masyarakat kini menunggu apakah organisasi mahasiswa tersebut akan mengambil sikap yang sama seperti ketika mereka memperjuangkan persoalan mahasiswa sebelumnya.
Ancaman Munculnya Persepsi Publik
Akun tersebut juga memberikan peringatan keras.
Menurutnya, jika BEM dan BLM tidak menunjukkan sikap sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya, maka publik berhak membangun penilaian sendiri.
Ia menilai tidak adanya aksi atau respons tegas dapat memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya berada di belakang berbagai aksi mahasiswa selama ini.
“Kalau seng ada aksi berjilid-jilid maka jangan salahkan katong buat menyimpulkan tentang siapa yang ada di belakang bosong,” tulisnya.
Pernyataan tersebut tentu merupakan opini dan kritik dari masyarakat.
Namun, kritik itu menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap konsistensi organisasi mahasiswa kini sedang diuji.
Dalam dunia organisasi, konsistensi menjadi salah satu ukuran penting.
Sebuah organisasi yang menyuarakan nilai keadilan dan kemanusiaan dituntut untuk menerapkan prinsip tersebut kepada siapa pun, tanpa melihat status, jabatan, kelompok, maupun kepentingan tertentu.
Publik kini mempertanyakan apakah prinsip “tidak menyetarakan manusia dengan binatang” hanya berlaku ketika mahasiswa menjadi korban.
Ataukah prinsip tersebut juga berlaku ketika orang yang diduga menjadi sasaran adalah seorang pimpinan kampus.
Pisahkan Persoalan Dugaan Pemukulan dan Ucapan
Menariknya, akun @Delmi Potdon dalam unggahannya juga meminta publik untuk membedakan dua persoalan yang saat ini berkembang.
Pertama adalah persoalan dugaan pemukulan terhadap Rektor IAKN Kupang yang hingga kini masih berada dalam proses hukum.
Terhadap persoalan tersebut, akun tersebut menyatakan tetap mendukung proses hukum berjalan secara objektif dan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum adanya proses hukum yang jelas.
“Katong akui masalah pemukulan itu masih dalam tahap penyelidikan dan katong juga berusaha netral dengan itu. Katong semua dukung jalannya persidangan,” tulisnya.
Namun, ia menegaskan persoalan dugaan pemukulan tidak boleh dicampuradukkan dengan persoalan penggunaan kata yang dianggap merendahkan martabat manusia.
Menurutnya, dua persoalan tersebut memiliki konteks berbeda.
Jika dugaan pemukulan masih harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan persidangan, maka persoalan dugaan ucapan yang menyamakan seseorang dengan hewan dinilai telah memiliki informasi atau bukti yang beredar di tengah masyarakat.
“Untuk masalah menurunkan derajat manusia dengan binatang itu beda masalah. Jadi berhenti alasan masih menyimak situasi. Bukti sudah tersebar,” tulis akun tersebut.
Netral atau Tidak Konsisten?
Kata “netral” yang disebut sebagai alasan BEM dalam merespons persoalan tersebut kini justru menjadi bahan kritik publik.
Bagi sebagian masyarakat, netralitas tidak boleh diartikan sebagai diam terhadap persoalan yang dianggap menyangkut prinsip kemanusiaan.
Terlebih, BEM sebelumnya pernah menyampaikan secara terbuka bahwa mereka tidak memihak kepada siapa pun, tetapi mengikuti hati nurani.
Karena itu, publik kini meminta adanya pembuktian.
Jika sebelumnya BEM mampu melakukan aksi berjilid-jilid, mendesak klarifikasi, meminta penonaktifan seorang dosen hingga mengkritik Rektor IAKN Kupang secara terbuka, maka masyarakat kini menunggu apakah keberanian yang sama juga akan ditunjukkan dalam persoalan yang sedang terjadi.
Pertanyaan besar yang kini berkembang adalah sederhana:
Apakah BEM dan BLM IAKN Kupang akan tetap menggunakan standar perjuangan yang sama?
Ataukah respons organisasi mahasiswa akan berubah tergantung siapa pihak yang sedang berhadapan dengan mereka?
Publik menilai jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan citra dan kredibilitas Ormawa IAKN Kupang ke depan.
Konsistensi Menjadi Pertaruhan
Dinamika yang berkembang di IAKN Kupang saat ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa sedang menghadapi ujian besar.
Bukan sekadar soal apakah mereka akan melakukan aksi atau tidak.
Tetapi mengenai konsistensi terhadap nilai yang selama ini mereka perjuangkan.
Jika benar prinsip perjuangan mahasiswa adalah membela martabat manusia dan menolak segala bentuk perlakuan yang merendahkan seseorang dengan menyamakannya dengan binatang, maka publik meminta prinsip tersebut diterapkan tanpa pandang bulu.
Baik ketika mahasiswa yang menjadi korban, dosen, pegawai, maupun pimpinan kampus.
Kritik publik terhadap BEM dan BLM IAKN Kupang kini terus berkembang.
Masyarakat menunggu penjelasan dan sikap resmi dari kedua lembaga mahasiswa tersebut.
Apakah mereka akan menjawab tantangan publik dengan tindakan nyata sebagaimana aksi-aksi yang pernah dilakukan sebelumnya?
Ataukah memilih tetap berada pada posisi netral dan menunggu perkembangan situasi?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari BEM maupun BLM IAKN Kupang terkait tantangan terbuka yang disampaikan publik melalui media sosial tersebut.
Namun satu hal yang kini menjadi perhatian masyarakat adalah konsistensi.
Sebab bagi publik, keberanian memperjuangkan nilai kemanusiaan seharusnya tidak ditentukan oleh siapa yang menjadi korban.
Dan ketika prinsip hanya digunakan dalam situasi tertentu, publik berhak mempertanyakan: apakah perjuangan itu benar-benar lahir dari hati nurani, atau ada kepentingan lain di baliknya?(*)



Komentar