NTTSatu.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mengambil langkah strategis dalam menjawab persoalan kekurangan dokter spesialis di Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk pertama kalinya, Undana secara resmi menyerahkan tiga peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) kepada rumah sakit pendidikan untuk menjalani pendidikan klinis.
Penyerahan tersebut berlangsung di Aula Rektorat Undana, Sabtu (29/8/2026), dan menjadi bagian dari rangkaian awal penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis di Undana.
Tiga dokter yang diserahkan masing-masing adalah dr. Jefren Evander Bulan dan dr. Elias Wirnanta Syahputra Ginting dari Program Studi PPDS Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), serta dr. Irvan Januard Adoe dari Program Studi PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Ketiganya akan menjalani sebagian besar proses pendidikan klinis di RSUP dr. Ben Mboi Kupang dan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang sebagai rumah sakit jejaring utama pendidikan.
Mewakili Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T, M. Eng, Wakil Rektor IV Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., mengatakan penyerahan tiga peserta PPDS tersebut merupakan momentum bersejarah bagi Undana sekaligus bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada RSUP dr. Ben Mboi dan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes yang telah bersedia menerima dan mendukung peserta PPDS Undana dalam menjalani pendidikan klinis.
Menurut Prof. Philipi, keberhasilan penyelenggaraan PPDS tidak hanya ditentukan oleh perguruan tinggi, tetapi membutuhkan dukungan rumah sakit pendidikan dan berbagai pihak.
“Undana harus menjadi berkat bagi banyak orang. Gunakan talenta yang kita punya untuk memberikan manfaat,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada ketiga peserta PPDS agar tidak melihat proses pendidikan hanya sebatas ruang kuliah atau tempat praktik, tetapi menjadikan seluruh lingkungan pendidikan sebagai ruang belajar.
“Pasien maupun dokter senior yang membimbing, serta lokasi yang ada menjadi sekolah dan laboratorium kita,” katanya.
Direktur RSUP dr. Ben Mboi Kupang, dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Sp.An-TI, FIP, mengatakan kehadiran program PPDS di NTT diharapkan menjadi solusi jangka panjang terhadap persoalan keterbatasan dokter spesialis.
Ia berharap dokter-dokter yang menjalani pendidikan di Undana nantinya dapat kembali mengabdi di daerah dan mengisi posisi dokter spesialis yang masih kosong di berbagai kabupaten.
“Harapannya, anak-anak daerah NTT yang bersekolah di sini sehingga ke depan kita tidak perlu mencari lagi dari luar. Anak-anak ini akan menempati posisi-posisi di kabupaten yang saat ini kosong,” kata dr. Robinzon.
Menurutnya, kebutuhan dokter spesialis di NTT masih cukup besar. Salah satu persoalan yang selama ini terjadi adalah dokter spesialis dari luar daerah datang untuk bekerja, tetapi kemudian kembali meninggalkan daerah.
Melalui program PPDS Undana, diharapkan muncul siklus baru, yakni dokter asal NTT mendapatkan pendidikan spesialis di daerah sendiri, kemudian kembali ke daerah asal untuk memberikan pelayanan.
dr. Robinzon menargetkan dalam empat hingga lima tahun ke depan ketersediaan dokter spesialis di NTT mulai semakin membaik dan distribusinya menjadi lebih merata.
Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan PPDS di Undana tidak berarti menurunkan standar pendidikan dokter spesialis.
Para peserta yang diterima telah melewati proses seleksi yang cukup ketat, mulai dari ujian, wawancara hingga pemeriksaan psikologi melalui MMPI.
Seleksi tersebut, kata dia, diperlukan untuk memastikan peserta yang diterima benar-benar memiliki kesiapan dan komitmen mengikuti pendidikan hingga selesai.
“Kasusnya cukup, mutunya bisa kita jaga dan akan sama dengan mutu apabila kita lulus dari tempat-tempat yang lain,” ujarnya.
Kualitas pendidikan juga akan dijaga melalui penerapan kurikulum dan standar ujian yang mengacu pada standar kolegium serta standar nasional.
Menurut dr. Robinzon, NTT justru memiliki keunggulan tersendiri sebagai lahan pendidikan dokter spesialis karena memiliki jumlah dan variasi kasus klinis yang cukup besar.
Di RSUP dr. Ben Mboi saja, terdapat sekitar 600 kasus operasi setiap bulan. Jumlah tersebut belum termasuk kasus yang ditangani di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes maupun rumah sakit jejaring lainnya.
Ketersediaan kasus tersebut menjadi salah satu modal penting untuk memastikan peserta PPDS mendapatkan pengalaman klinis yang cukup guna mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.
Ia pun berpesan kepada peserta PPDS untuk menjaga integritas serta nama baik Undana dan rumah sakit selama menjalani pendidikan.
Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, dr. Yusi Kusumawardani, M.Kes., menyatakan pihaknya siap menjadi mitra Undana dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis.
Menurut dr. Yusi, rumah sakit bukan hanya tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi lingkungan pendidikan yang sangat penting bagi mahasiswa kedokteran dan dokter spesialis.
“RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes menjadi partner dalam media pembelajaran, menjadi kawah candradimuka mulai dari program pendidikan S1 kedokteran sampai dengan spesialis,” katanya.
dr. Yusi juga mengingatkan peserta PPDS agar tidak hanya mengutamakan kemampuan akademik dan keterampilan medis.
Menurutnya, dokter harus memiliki empati yang kuat karena pelayanan kesehatan berhubungan langsung dengan manusia dan kondisi pasien.
“Pekerjaan dokter bukan hanya bicara tentang kalkulator, tetapi bagaimana empati boleh dilaksanakan dan menjadi jiwa dalam kita bekerja dan melayani,” ujarnya.
Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi., menjelaskan penyerahan tiga peserta PPDS tersebut didahului dengan kegiatan orientasi selama tiga hari, yakni pada 27–29 Agustus 2026.
Orientasi mencakup pengenalan lingkungan RSUP dr. Ben Mboi, RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes dan lingkungan akademik di Undana.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai sistem akademik, administrasi mahasiswa, aturan akademis, kurikulum serta alur pendidikan yang akan mereka jalani.
“Pendidikan profesi spesialis itu 98 persennya di rumah sakit, jadi bukan di Undana. Karena itu pengenalan ini penting karena mereka masih menjadi mahasiswa baru,” jelasnya.
Selain orientasi umum, peserta juga memperoleh pembekalan langsung dari kepala program studi mengenai kurikulum, materi pendidikan dan tahapan yang harus ditempuh hingga menyelesaikan pendidikan spesialis.
Dalam penyelenggaraan PPDS, FKKH Undana tidak berjalan sendiri. Program pendidikan mendapatkan pembinaan dari fakultas kedokteran pendamping yang memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis.
Untuk Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, pembinaan dilakukan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Sementara Program Studi Obstetri dan Ginekologi mendapat pembinaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
FKKH Undana juga tetap bekerja sama dengan organisasi kolegium terkait untuk memastikan kompetensi peserta sesuai dengan standar nasional.
Kurikulum yang diterapkan tidak dibangun sendiri oleh Undana, tetapi mengacu pada standar nasional dan mendapat pendampingan dari fakultas kedokteran pembina.
Pada saat yang sama, Undana juga akan mengembangkan kurikulum lokal yang disesuaikan dengan karakteristik NTT sebagai wilayah kepulauan dan lahan kering.
FKKH Undana menargetkan program PPDS dapat terus berkembang dan menerima lebih banyak dokter pada periode-periode berikutnya.
Penerimaan peserta PPDS direncanakan berlangsung dua kali dalam setahun. Pemerintah daerah diharapkan dapat semakin aktif mengirimkan dokter untuk mengikuti pendidikan spesialis di Undana.
Program ini pada prinsipnya terbuka, namun prioritas diberikan kepada putra-putri daerah, khususnya dokter yang telah memiliki ikatan kerja dengan pemerintah daerah.
Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan, para dokter tersebut kembali ke daerah dan mengisi kebutuhan dokter spesialis di kabupaten masing-masing.
Pada penerimaan perdana ini, peserta merupakan utusan daerah, antara lain dari Kabupaten Alor dan Kabupaten Rote Ndao.
Undana juga membuka peluang memperluas kerja sama dengan rumah sakit kabupaten sebagai rumah sakit jejaring pendidikan.
Langkah ini penting untuk memperbanyak variasi kasus sekaligus memastikan peserta PPDS dapat memenuhi seluruh target kompetensi selama menjalani pendidikan.
Selain memperluas jejaring pendidikan, Undana juga terus mengupayakan dukungan pembiayaan bagi dokter yang mengikuti pendidikan spesialis.
FKKH Undana telah mengusulkan nama peserta untuk memperoleh dukungan melalui skema afirmasi LPDP yang ditujukan untuk percepatan pendidikan dokter spesialis.
Dukungan pembiayaan tersebut diharapkan dapat memperluas akses dokter daerah untuk mengikuti pendidikan spesialis tanpa terkendala persoalan biaya.
Ke depan, Undana juga membuka peluang kerja sama internasional untuk mendukung pengembangan pendidikan spesialis, termasuk peluang kolaborasi di bidang tertentu yang relevan dengan karakteristik dan kebutuhan NTT.
Pembukaan program PPDS di Undana menjadi tonggak penting dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan di NTT.
Selama ini, persoalan kekurangan dokter spesialis menjadi salah satu tantangan pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Ketergantungan terhadap tenaga spesialis dari luar daerah membuat pemerataan pelayanan menjadi persoalan yang terus berulang.
Melalui program PPDS, Undana ingin mengubah pola tersebut dengan menciptakan sumber daya dokter spesialis dari dan untuk NTT.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat Undana Berdampak, yakni memastikan ilmu pengetahuan, pendidikan dan sumber daya manusia yang dihasilkan perguruan tinggi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Prof. Philipi De Rozari menegaskan bahwa pendidikan kesehatan tidak hanya bertujuan membangun kemampuan akademik, tetapi juga membangun jiwa pengabdian.
Ia mengingatkan pentingnya membangun manusia secara utuh, sebagaimana semangat dalam lagu Indonesia Raya: membangun jiwa sekaligus badan.
Karena itu, tiga peserta PPDS perdana Undana tidak hanya diharapkan menjadi dokter spesialis yang kompeten, tetapi juga menjadi tenaga kesehatan yang memiliki integritas, empati dan komitmen untuk kembali memberikan pelayanan kepada masyarakat NTT.
Dengan dimulainya pendidikan tiga dokter tersebut, Undana kini memasuki babak baru dalam pengembangan pendidikan dokter spesialis.
Tantangan berikutnya adalah memastikan program terus berkembang, jumlah peserta bertambah, mutu pendidikan tetap terjaga, dan yang paling penting, lulusan benar-benar kembali mengisi kekurangan dokter spesialis di seluruh pelosok NTT.(*)



Komentar