NTTSatu.ID – Senyum sumringah kini mulai menghiasi wajah warga dan anggota kelompok tani di Dusun Bijaesahan, Desa Tuapanaf, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang. Setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan air, warga kini mulai merasakan manfaat teknologi yang memungkinkan air bersih dialirkan tanpa bergantung pada jaringan listrik PLN.
Solusi tersebut hadir melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan tim akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui program “Diseminasi dan Alih Teknologi Sistem Distribusi Air Bersih Berbasis Pompa Energi Surya di Dusun Bijaesahan.”
Dusun Bijaesahan berjarak sekitar 71 kilometer dari Kota Kupang. Kondisi akses menuju wilayah tersebut yang sebagian masih berupa jalan tanah menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi masyarakat maupun tim pengabdi.
Program ini diketuai Matheus M. Dwinanto, dengan anggota Boy Bistolen dan Jemssy Ronald Rohi, serta melibatkan mahasiswa magang dalam proses pelaksanaan di lapangan.
Sebelum teknologi tersebut diterapkan, warga Bijaesahan masih mengandalkan cara tradisional untuk mendapatkan air dari sumur. Air ditimba menggunakan katrol, tali, dan ember.
Cara tersebut tidak hanya membutuhkan tenaga fisik, tetapi juga menyita waktu warga yang sebagian besar menggantungkan kehidupan dari aktivitas pertanian dan peternakan.
Persoalan semakin kompleks karena lokasi sumber air berada di wilayah pelosok yang belum terjangkau jaringan listrik PLN.
Melihat kondisi tersebut, tim PKM Undana menghadirkan sistem pompa submersible yang memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi.
Sistem tersebut dilengkapi dua unit panel surya monokristalin berkapasitas masing-masing 200 Watt Peak (WP), solar charger controller, inverter, baterai penyimpanan energi, serta menara tandon air setinggi 6 meter dengan kapasitas 1.100 liter.
Ketua Tim Pengabdi Undana, Matheus M. Dwinanto, mengatakan teknologi tersebut dirancang sebagai solusi penyediaan air yang dapat bekerja tanpa ketergantungan terhadap listrik PLN maupun bahan bakar minyak.
“Pompa air energi surya ini beroperasi memanfaatkan sinar matahari tanpa bergantung pada listrik PLN atau BBM. Meskipun biaya investasi awalnya dibutuhkan untuk instalasi panel, biaya operasional harian sangat efisien dan ramah lingkungan,” ungkap Matheus.
Dengan sistem tersebut, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik untuk menggerakkan pompa submersible. Air dari sumur kemudian dipompa menuju tandon yang berada di atas menara sebelum didistribusikan melalui jaringan perpipaan.
Penerapan teknologi tidak dilakukan secara sepihak oleh tim Undana. Masyarakat dilibatkan secara langsung melalui kolaborasi bersama Kelompok Tani Puinmat dan Kelompok Tani Builulat di Dusun Bijaesahan.
Warga bersama tim teknis dan mahasiswa bergotong royong mengerjakan berbagai tahapan pembangunan infrastruktur, mulai dari penggalian, persiapan lokasi, pembuatan fondasi hingga pengecoran kaki menara tandon air setinggi 6 meter.
Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dari proses alih teknologi. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut memahami cara kerja dan pengelolaan sistem yang dibangun.
Setelah air dipompa dari sumur menuju tandon utama, air kemudian disalurkan melalui jaringan perpipaan menuju sejumlah titik kebutuhan masyarakat.
Jaringan tersebut dirancang untuk melayani hidran umum, sarana ibadah, pemukiman warga, hingga kebutuhan lahan pertanian dan peternakan.
Hingga saat ini, progres pelaksanaan program telah mencapai sekitar 80 persen.
Kehadiran sistem distribusi air tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menimba air secara manual dari sumur.
Ketersediaan air yang lebih mudah diakses juga diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Air yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya berbagai komoditas pertanian, terutama sayuran dan palawija. Selain itu, ketersediaan air juga menunjang aktivitas peternakan sapi dan babi yang dilakukan warga.
Dengan demikian, teknologi yang dibawa Undana tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan kebutuhan air, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas serta mendukung kesejahteraan masyarakat Dusun Bijaesahan.
Program PKM ini sekaligus menunjukkan bagaimana pemanfaatan energi terbarukan dapat menjadi alternatif untuk menjawab persoalan infrastruktur dasar di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik.
Pemanfaatan tenaga surya dinilai relevan diterapkan di wilayah pedesaan Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi sinar matahari cukup besar.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap listrik PLN dan BBM, sistem tersebut juga menawarkan biaya operasional harian yang relatif efisien serta lebih ramah lingkungan.
Bagi masyarakat Bijaesahan, teknologi tersebut menjadi lebih dari sekadar instalasi pompa dan panel surya. Sistem ini menjadi bagian dari upaya membuka akses air yang lebih mudah sekaligus mendukung kegiatan pertanian, peternakan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Program tersebut juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi serta SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, Undana mendorong agar inovasi teknologi tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan nyata masyarakat di pelosok Nusa Tenggara Timur.(*)



Komentar