NTTSatu.ID – Limbah kotoran ternak yang selama ini identik dengan bau, kotoran, dan persoalan lingkungan mulai dilirik sebagai sumber energi alternatif sekaligus peluang ekonomi masyarakat.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Universitas Nusa Cendana (Undana) memperkenalkan teknologi produksi briket bioenergi berbahan dasar limbah kotoran ternak kepada masyarakat Desa Oematamboli, Kabupaten Rote Ndao.
Kegiatan bertajuk “Produksi Briket Bioenergi dari Limbah Kotoran Ternak melalui Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Oematamboli di Kabupaten Rote Ndao” itu dilaksanakan pada 26 September 2026.
Program tersebut dipimpin Dr. Ir. Erich Umbu Kondi Maliwemu, S.T., M.Eng., bersama anggota tim Ir. Wenseslaus Bunganaen, S.T., M.T., IPM., M. Iqbal Reza Arifin, S.T., M.T., dan Sarlin Paleina Nawa Pau, S.E., M.Sc.
Kegiatan turut dihadiri Penjabat Kepala Desa Oematamboli, Sekretaris Desa Oematamboli, Koordinator Pusat Inovasi, HAKI dan Hilirisasi LP2M Undana, 15 orang masyarakat peternak Desa Oematamboli, serta tim pelaksana yang terdiri atas dosen dan mahasiswa.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Fidelis Nitti, S.Si., M.Sc., Ph.D. selaku Koordinator Pusat Inovasi, HAKI, dan Hilirisasi LP2M Undana.
Ketua tim pelaksana, Dr. Erich Umbu Kondi Maliwemu, mengatakan program PkM Undana tahun 2026 diarahkan untuk menjawab kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, sebelum menentukan program, tim melihat potensi sekaligus persoalan yang ada di wilayah sasaran. Desa Oematamboli dinilai memiliki potensi besar pada sektor pertanian dan peternakan sehingga pengelolaan limbah ternak menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan.
“Pada tahun 2026 ini kami menyasar kebutuhan atau permasalahan pokok yang riil terjadi di masyarakat. Kami juga melihat potensi yang ada di daerah tersebut dan apa yang memang dibutuhkan masyarakat desa,” jelas Erich.
Ia mengatakan Undana sebelumnya telah melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan sektor pertanian di wilayah tersebut, termasuk pengenalan teknologi pertanian terintegrasi, irigasi tetes serta solusi teknologi untuk persoalan air.
“Kali ini kami mencoba melihat potensi lain yang ada pada peternakan. Kami mencoba memberikan pelatihan terkait pemanfaatan limbah kotoran ternak, khususnya ternak sapi, yang selama ini belum banyak dimanfaatkan,” katanya.
Selama ini, kotoran ternak umumnya dimanfaatkan secara konvensional sebagai pupuk. Namun, melalui program tersebut, Undana memperkenalkan alternatif pemanfaatan lainnya, yakni mengolahnya menjadi bahan bakar berbentuk briket.
Erich menjelaskan, kegiatan tersebut tidak sebatas memberikan teori kepada masyarakat. Tim juga memperkenalkan teknologi yang dapat membantu proses pengolahan limbah menjadi briket.
Teknologi yang diperkenalkan meliputi alat penghancur bahan serta mesin pencetak briket. Dengan bantuan teknologi tersebut, proses produksi diharapkan menjadi lebih mudah dan memungkinkan masyarakat mengembangkan produksi dalam skala yang lebih besar.
“Teknologi yang kami berikan nanti bukan hanya alat cetak manual, tetapi alat cetak berbasis mesin juga ada. Kemudian untuk memudahkan proses menghancurkan kotoran sapi, kami menghadirkan teknologi tersebut sehingga bahan lebih mudah dibuat dalam bentuk briket,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi sarana transfer pengetahuan dan teknologi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan yang singkat ini paling tidak ada transfer teknologi dari kami. Kami berbagi pengetahuan, tetapi kami juga bisa belajar dari pengalaman masyarakat di sini terkait pengolahan limbah,” tambahnya.
Dalam materi yang diberikan kepada masyarakat, tim menjelaskan bahwa limbah peternakan yang tidak dikelola dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan.
Kotoran ternak dapat menghasilkan bau tidak sedap, menjadi tempat berkembangnya lalat dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut juga dapat mencemari tanah dan air serta berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, termasuk metana.
Karena itu, pengolahan kotoran ternak menjadi briket menawarkan pendekatan berbeda. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif.
Briket merupakan bahan bakar padat yang dibuat dari bahan organik melalui proses pengeringan, penghancuran, pencampuran bahan perekat dan pencetakan menggunakan tekanan tertentu.
Kotoran sapi menjadi salah satu bahan yang dinilai potensial karena tersedia dalam jumlah relatif melimpah dan memiliki kandungan bahan organik tinggi.
Selain sapi, materi PkM juga menjelaskan potensi penggunaan kotoran kambing, ayam dan kerbau sebagai bahan baku briket.
Dalam pelatihan, masyarakat diperkenalkan pada sejumlah tahapan produksi briket.
Proses diawali dengan pengumpulan kotoran ternak, kemudian dilakukan pembersihan dan sortasi untuk memisahkan material asing seperti batu, plastik, sisa pakan maupun bahan nonorganik lainnya.
Bahan selanjutnya dikeringkan hingga kadar airnya menurun. Setelah cukup kering, kotoran dihancurkan menggunakan mesin hingga menjadi serbuk.
Tahap berikutnya adalah karbonisasi atau pengarangan, yakni proses pembakaran dengan oksigen terbatas. Arang yang dihasilkan kemudian diayak untuk memperoleh ukuran partikel yang lebih seragam.
Serbuk arang kemudian dicampur dengan bahan perekat, seperti tapioka atau tanah liat, serta air secukupnya. Campuran tersebut diaduk hingga menjadi adonan yang homogen.
Adonan kemudian dimasukkan ke mesin pencetak tipe extruder untuk menghasilkan briket sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan.
Briket yang telah dicetak kemudian dikeringkan kembali menggunakan sinar matahari atau oven hingga kadar airnya rendah.
Setelah proses pengeringan selesai, briket dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan memasak maupun keperluan industri rumah tangga.
Tim juga menjelaskan sejumlah parameter yang menentukan kualitas briket, mulai dari kepadatan, kadar air, kadar abu, nilai kalor, laju pembakaran, emisi asap, kekuatan mekanik hingga keseragaman dan daya tahan.
Dalam materi PkM disebutkan, nilai kalor briket berbahan kotoran ternak berada pada kisaran 3.000–5.500 kcal/kg, bergantung pada jenis bahan dan proses produksinya.
Kadar air juga menjadi faktor penting. Semakin terkendali kadar air, proses pembakaran diharapkan menjadi lebih baik dan briket lebih mudah digunakan.
Secara fisik, briket yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan bentuk cetakan, memiliki ukuran relatif seragam, padat dan tidak mudah hancur. Warnanya umumnya hitam keabu-abuan yang menunjukkan adanya kandungan karbon.
Tidak berhenti pada aspek lingkungan, tim PkM juga memperkenalkan potensi ekonomi dari produksi briket.
Dalam simulasi yang terdapat pada materi, investasi awal dicontohkan sekitar Rp5 juta, yang digunakan untuk kebutuhan mesin pencacah kotoran, mesin pencetak briket, alat pengering dan perlengkapan kemasan.
Simulasi tersebut menggunakan asumsi kapasitas produksi 1.000 kilogram briket per bulan dengan harga jual Rp10.000 per kilogram.
Dengan asumsi tersebut, pendapatan kotor diproyeksikan mencapai Rp10 juta per bulan, sementara biaya operasional sekitar Rp1,8 juta per bulan, sehingga dalam simulasi tercantum laba bersih sekitar Rp8,2 juta per bulan.
Materi juga mencantumkan simulasi payback period sekitar 0,6 bulan, return on investment 196,8 persen per tahun dan break even point sebesar 15.000 kilogram produksi.
Namun, angka tersebut merupakan simulasi ekonomi dalam materi, bukan jaminan keuntungan usaha. Hasil nyata akan sangat dipengaruhi harga bahan, kapasitas produksi, tenaga kerja, biaya operasional, kemasan, pemasaran dan kondisi pasar.
Dengan demikian, masyarakat masih membutuhkan pengujian produksi dan perhitungan usaha secara lebih rinci apabila hendak mengembangkan briket tersebut menjadi unit bisnis.
Penjabat Kepala Desa Oematamboli, Frid Jon Adu, S.Pd, menyambut positif kegiatan yang dilakukan Undana.
Ia mengatakan Desa Oematamboli memiliki sekitar 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 1.327 jiwa. Sekitar 99 persen masyarakat desa tersebut berprofesi sebagai petani dan peternak.
Karena itu, program yang menyasar sektor pertanian dan peternakan dinilai berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
“Kami mendapatkan dua kegiatan yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan. Kegiatan pertanian sementara dilaksanakan, dan hari ini kami kembali mendapatkan kegiatan tentang produksi briket dari limbah kotoran,” ujar Frid.
Menurutnya, masyarakat selama ini belum mengetahui secara luas bahwa kotoran ternak dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
“Selama ini kita tidak tahu ternyata kotoran hewan ini ada manfaat. Dengan kehadiran Undana pada hari ini, kita mendapatkan pemahaman bagaimana menggunakan limbah yang ada,” katanya.
Frid berharap masyarakat dapat mengikuti materi yang diberikan dan memanfaatkan teknologi yang diperkenalkan Undana.
Pemerintah Desa Oematamboli juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Undana atas pelaksanaan program tersebut.
Program pengolahan limbah ternak menjadi briket pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bahan bakar.
Di dalamnya terdapat upaya menghubungkan tiga persoalan sekaligus, yakni pengelolaan lingkungan, pemanfaatan teknologi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kotoran ternak yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dikumpulkan, diolah dan dikembalikan menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana sumber daya yang sebelumnya terbuang kembali dimanfaatkan sehingga menghasilkan manfaat baru.
Bagi Desa Oematamboli, yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani dan peternak, inovasi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan produk berbasis sumber daya lokal.
Undana melalui PkM ini berharap pengetahuan dan teknologi yang telah diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan masyarakat menjadi kegiatan produktif dan berkelanjutan.
Dari kandang ternak, lahir energi. Dari limbah, terbuka peluang ekonomi. Dan dari teknologi sederhana, masyarakat desa didorong untuk melihat bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber inovasi sekaligus nilai tambah bagi kehidupan mereka.(*)



Komentar