GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Daerah Opini
Beranda » Berita » Ironi 25 Tahun Sapi Timor di Tengah Obsesi PAD

Ironi 25 Tahun Sapi Timor di Tengah Obsesi PAD

Ket: Dokpri

Oleh: Franchy Christian Liufeto (Akademisi Universitas Nusa Cendana sekaligus Anak Peternak dari Timor Tengah Selatan)

NTTSatu.ID — Tahun 1980-an adalah era emas di mana padang sabana Timor Tengah Selatan (TTS) bukan sekadar hamparan rumput, melainkan lumbung kesejahteraan yang nyata. Sebagai anak TTS, saya adalah saksi sekaligus produk dari kejayaan itu. Gelar akademik dan pendidikan yang saya enyam hari ini adalah hasil cucuran keringat orang tua yang melakukan usaha penggemukan sapi.

Kala itu, seekor sapi Timor (Bos indicus) adalah aset perkasa dengan bobot badan yang nyata besarnya dan kuat fisiknya.Namun, menatap realitas TTS hari ini, hati saya bergetar cemas. Sapi Timor yang dulu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat kini tengah berada di persimpangan jalan yang kesekian, yang dapat menuju pada kepunahan.

Kita sedang menyaksikan sebuah ironi besar: setelah 25 tahun berlalu sejak peringatan krisis telah digaungkan, masalah yang kita hadapi masih berada pada hal yang sama, bahkan kian menjadi akut. Kita masih terjebak dalam kebijakan “predatoris” yang hanya tahu memanen tanpa pernah menanam.

Kegagalan Kolektif: Narasi 25 Tahun yang Mandeg.

Dari Talenta Memasak, Hana Bangun Usaha Kantin dengan Dukungan KUR BRI

Pada tahun 2001, sebuah laporan komprehensif mengenai pembangunan pertanian di wilayah kering Indonesia telah memberikan alarm keras. Laporan tersebut mencatat rendahnya tingkat pengetahuan teknis masyarakat dan degradasi kualitas ternak.

Seperempat abad kemudian, catatan itu seolah menjadi naskah yang membeku. Fenomena penurunan populasi dan kualitas genetik sapi Timor bukan lagi sekadar prediksi, melainkan kenyataan pahit di depan mata.

Data di lapangan menunjukkan penurunan bobot badan rata-rata yang signifikan. Sapi-sapi yang dikirim keluar daerah hari ini tampak kerdil jika dibandingkan dengan raksasa-raksasa sabana tahun 80-an. Secara teoretis, ini adalah manifestasi dari negative selection.

Karena tuntutan kuota dan ekonomi, masyarakat dan peternak cenderung menjual sapi terbaik (terbesar) mereka untuk mendapatkan harga tinggi, sementara sapi-sapi yang “kurang berkualitas” ditinggalkan di desa untuk menjadi indukan. Tanpa intervensi pemuliaan, kita sedang memproduksi generasi sapi yang secara genetik kian melemah.

Obsesi PAD dan Kuota

IAKN Kupang Bersama Kemenag NTT Gerakkan Ekoteologi, Bersihkan Pantai Pasir Panjang

Tragedi tanpa intervensi pemuliaan, telah diperparah oleh kebijakan Pemerintah Daerah yang lebih fokus pada pengejaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi pengantarpulauan sapi.

Di sebuah media online tahun 2025, saya telah mengingatkan “ Mengejar PAD dari Sapi: Jangan Sampai Mengorbankan Masa Depan Peternakan TTS”. Target PAD rupanya telah menjadi “berhala” yang mengesampingkan nalar ekologis dan keberlanjutan.

Ironisnya, Pemda memaksa pengiriman sapi tanpa pernah melakukan sensus ternak yang akurat sebagai basis data pengelolaan. Kita sungguh sedang berdagang di atas ketidaktahuan.Kekosongan data dan ambisi PAD ini menjadi celah bagi pelegalan pengiriman sapi hingga pada pengaturan kuota.

Praktik ini dapat menjadi terselubung hingga pemanipulasian angka dan izin pengiriman. Alokasi kuota seringkali tidak mencerminkan populasi riil di lapangan, melainkan hasil “main mata” di balik meja.

Jika populasi terus dikuras untuk mengejar target retribusi tanpa ada upaya restocking atau pembibitan yang serius, maka sapi Timor hanya menunggu waktu untuk menyusul nasib wangi cendana yang pernah harum di pasar dunia.

FKM Undana Dorong Dosen dan Mahasiswa Tembus Jurnal Bereputasi

Paradigma Predatoris vs Keunggulan Kompetitif

Dalam teori pembangunan berkelanjutan, apa yang dilakukan di TTS saat ini disebut sebagai extractive institution. Pemerintah bertindak layaknya predator yang hanya mengambil “uang dari alam” tanpa menginvestasikan kembali sumber daya untuk pemulihan. Padahal, untuk menciptakan daya saing, sapi Timor harus diposisikan sebagai produk premium.

Daging sapi Timor memiliki karakteristik khas (rendah lemak dan organik) yang secara kompetitif bisa bersaing di pasar nasional. Namun, daya saing tidak lahir dari pengiriman massal sapi-sapi kurus sebab daya saing lahir dari kualitas daging yang distandardisasi melalui pengelolaan manajemen ternak yang terukur-modern.

Peta Jalan Penyelamatan: Memutus Rantai

KegagalanAgar sapi Timor tidak menjadi dongeng bagi generasi mendatang, Pemerintah Daerah TTS harus segera melakukan langkah radikal:

1. Transformasi Pembibitan (Tidak Sekadar IB)Inseminasi Buatan (IB) harus digalakkan, namun jangan dijadikan satu-satunya tumpuan. Harus ada program seleksi pejantan lokal unggul (bull station) di tingkat desa. Kita perlu mengembalikan kebanggaan peternak terhadap sapi-sapi bibit berkualitas.

2. Kemitraan Inti-Plasma yang BeretikaHidupkan kerjasama kemitraan antara perusahaan sapi nasional dengan peternak lokal. Perusahaan penggemukan dan pedagang besar jangan hanya menjadi “pengumpul” yang menyedot stok, tapi wajib menjadi “pembina” yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan bibit di wilayah plasma.

3. Investasi Teknologi dan Riset AkademisKerjasama pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten TTS harus berani mengalokasikan anggaran untuk investasi teknologi peternakan. Dukungan dari pemerintah pusat dan kolaborasi riset dengan universitas mitra seperti Undana, harus menjadi kewajiban, bukan sekadar opsi. Kita butuh data genetik dan nutrisi yang presisi untuk meningkatkan bobot badan sapi.

4. Komitmen pada Kualitas dan TransparansiHentikan permainan kuota. Lakukan sensus ternak secara transparan. Pemerintah harus berkomitmen meningkatkan value chain sapi Timor agar menjadi daging berkualitas yang kompetitif, bukan sekadar komoditas curah yang dipermainkan mafia.

Sebagai anak yang “dibesarkan” oleh sapi Timor, sangat diharapkan adanya komitmen yang kuat dari para pemangku kebijakan. PAD memang penting, namun PAD perlu diraih tanpa mengorbankan masa depan populasi sapi Timor. Jangan biarkan sapi Timor punah.

Tanam hari ini, Untuk 25 tahun ke depan, anak-anak Timor masih bisa mengenyam pendidikan yang layak dari sisa kejayaan yang kita selamatkan hari ini.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement