GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Internasional Pendidikan
Beranda » Berita » FPKP Undana Gelar Konferensi Internasional, Potensi Peternakan dan Laut NTT Jadi Sorotan


FPKP Undana Gelar Konferensi Internasional, Potensi Peternakan dan Laut NTT Jadi Sorotan

Ket: FPKP Undana Gelar Konferensi Internasional, Potensi Peternakan dan Laut NTT Jadi Sorotan. (Ist)

NTTSatu.ID — Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali memperkuat jejaring akademik internasional dengan menggelar konferensi internasional di Kristal Hotel Kupang, Jumat (11/9/2026).

Konferensi ini mempertemukan berbagai unsur, mulai dari akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa hingga perwakilan instansi pemerintah. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus membahas berbagai persoalan dan peluang pengembangan sektor peternakan, kelautan, dan perikanan.

Dalam pelaksanaannya, FPKP Undana menggandeng sejumlah mitra perguruan tinggi internasional, di antaranya Universitas Nasional Timor-Leste (UNTL) dan perguruan tinggi dari China, termasuk Jiangxi University. Keterlibatan akademisi dan peserta dari berbagai negara menjadikan kegiatan tersebut memiliki cakupan internasional.

Wakil Dekan I FPKP Undana, Dr. Franchy Christian Liufeto, S.Pi., M.Si., mengatakan konferensi internasional tersebut merupakan bagian dari upaya fakultas dalam membangun serta menghidupkan atmosfer akademik melalui penelitian dan publikasi ilmiah.

Menurut Franchy, FPKP memiliki posisi strategis karena menaungi dua sektor yang menjadi kekuatan utama Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni peternakan serta kelautan dan perikanan.


Cegah Stunting dari Rumah, Warga Desa Kuimasi Dapat Pelatihan Budidaya Ikan dan Kangkung dalam Ember

“FPKP menaungi dua sektor unggulan di NTT, yaitu peternakan serta kelautan dan perikanan. Karena itu, dalam kerangka akademik kita perlu menghidupkan atmosfer akademik melalui publikasi hasil-hasil penelitian,” katanya.

Ia menegaskan, publikasi dan forum ilmiah tidak hanya diperuntukkan bagi dosen. Mahasiswa juga harus mendapatkan ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian dan gagasan mereka sehingga memiliki pengalaman dalam komunikasi akademik.

Franchy menyebutkan, konferensi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi dengan berbagai universitas, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Sejumlah mitra dari China, Australia, dan Timor-Leste terlibat dalam forum tersebut. Kolaborasi lintas negara ini dinilai penting untuk memperkaya perspektif akademik serta membuka peluang kerja sama penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Dalam kesempatan ini kami melakukan kolaborasi dan sinergi dengan beberapa universitas di dalam negeri maupun luar negeri. Ada dari China, Australia, Timor-Leste, dan mereka berkomitmen memberikan dukungan bagi kita,” ujarnya.


Patung Kristus Memberkati Dibangun, Semau Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Rohani

Lebih jauh, Franchy menjelaskan bahwa pengembangan peternakan, kelautan, dan perikanan tidak dapat dipandang secara terpisah.

Menurutnya, kedua sektor tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan agenda ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah NTT yang memiliki karakteristik sebagai provinsi kepulauan sekaligus wilayah perbatasan.

Karena itu, FPKP Undana mendorong adanya integrasi sektor peternakan dengan kelautan dan perikanan agar potensi yang dimiliki daerah dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

“Tujuan kegiatan ini adalah integrasi sektor peternakan dan kelautan dalam rangka menciptakan ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi bagi masyarakat di NTT, khususnya yang berada di daerah perbatasan,” jelasnya.

Menurut Franchy, posisi geografis NTT yang berbatasan dengan negara lain juga memberikan peluang besar untuk membangun kerja sama akademik dan pengembangan sektor unggulan daerah.

Dari Telur ke Pendapatan, PKM Undana Dorong Jemaat Rote Ndao Bangun Ekonomi Keluarga

Potensi tersebut harus didukung dengan penelitian, inovasi, sumber daya manusia yang kompeten, serta kerja sama lintas negara.

Tidak hanya berorientasi pada dosen dan peneliti, konferensi internasional tersebut juga memberikan ruang yang cukup besar bagi mahasiswa FPKP Undana.

Franchy mengatakan, keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu membentuk kemampuan komunikasi akademik sejak dini.

Mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga mampu menyampaikan hasil penelitian, mempertahankan gagasan, serta berdiskusi dengan akademisi dan praktisi dari berbagai latar belakang.

“Kita menciptakan kapasitas akademik bagi mahasiswa FPKP, tentu dalam bidang peternakan, kelautan dan perikanan. Ke depan, ketika mereka terbiasa mempresentasikan hasil-hasil penelitian, mereka sudah terbiasa memiliki wawasan dan peduli dengan pengembangan sektor unggulan ini,” katanya.

Ia berharap pengalaman mengikuti konferensi internasional dapat menjadi modal bagi mahasiswa ketika memasuki dunia profesional maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mahasiswa juga diharapkan mampu melihat peternakan, kelautan, dan perikanan bukan hanya sebagai sektor produksi, tetapi sebagai sektor strategis yang dapat berkembang menjadi industri bernilai tambah.

Ketua Panitia Konferensi Internasional FPKP Undana, Dr. Edwin J. L. Lazarus, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan peserta dari berbagai unsur.

Menurut Edwin, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan konferensi karena setiap pihak membawa perspektif berbeda terhadap persoalan peternakan, kelautan, dan perikanan.

“Pesertanya berasal dari berbagai unsur. Ada dari dinas, peneliti, praktisi dan juga mahasiswa. Mereka mempresentasikan karya atau tulisan berdasarkan tema yang diberikan,” kata Edwin.

Berbagai karya ilmiah yang dipresentasikan peserta mencakup bidang peternakan, kelautan, dan perikanan. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman, serta hasil penelitian.

Edwin menambahkan, skala internasional kegiatan tersebut juga ditunjukkan dengan keterlibatan peserta dari sejumlah negara.

Ia menyebutkan, konferensi tersebut telah melibatkan peserta dari sedikitnya enam negara, melampaui persyaratan minimal yang umumnya digunakan untuk sebuah seminar internasional.

“Untuk seminar internasional ada syarat minimal empat negara. Kita sudah enam negara,” ungkapnya.

Negara yang disebut terlibat antara lain Singapura, Thailand, Timor-Leste, China dan Australia, selain Indonesia sebagai tuan rumah.

Kehadiran akademisi dan mitra dari berbagai negara diharapkan tidak berhenti pada forum konferensi.

FPKP Undana berharap pertemuan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas, terutama dalam penelitian bersama, publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah pengelolaan kawasan laut Arafura dan Laut Timor yang memiliki nilai strategis bagi kawasan timur Indonesia.

Dalam forum tersebut juga terdapat keterlibatan jejaring yang membicarakan pengelolaan dan perbaikan ekosistem kawasan Laut Timor dan Arafura.

Bagi NTT, isu tersebut memiliki arti penting karena wilayah provinsi ini berada pada kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan Australia serta memiliki wilayah laut yang luas.

Karena itu, kerja sama akademik lintas negara dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap lahirnya penelitian dan rekomendasi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat serta karakteristik wilayah perbatasan.

Dari Forum Ilmiah Menuju Industri Berbasis Potensi Daerah

Konferensi internasional FPKP Undana pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda akademik semata.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pengetahuan yang dapat menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, peneliti, praktisi, mahasiswa dan mitra internasional.

FPKP Undana ingin memastikan bahwa hasil penelitian tidak berhenti di ruang seminar atau publikasi, tetapi dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan sektor riil.

Dengan potensi peternakan, kelautan dan perikanan yang besar, NTT memiliki peluang untuk mengembangkan kedua sektor tersebut menjadi industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat perekonomian masyarakat.

Melalui konferensi internasional ini, FPKP Undana menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi akademik sekaligus mendorong agar potensi dua sektor unggulan NTT tersebut dikembangkan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, kolaborasi internasional dan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak pembangunan sektor peternakan, kelautan dan perikanan di NTT serta kawasan perbatasan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement