NTTSatu.ID — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali memperluas ruang dialog akademik ke tingkat internasional melalui The 3rd Conference on Accounting, Management, and Economics (CAME 3) yang digelar di Kupang, Kamis, 10 September 2026.
Mengusung tema “Transforming Accounting, Management, and Economics toward Green Economy and Digital Financial Inclusion for Sustainable Development,” CAME 3 menjadi forum strategis untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, dan pengalaman akademisi maupun praktisi dalam menjawab tantangan ekonomi masa kini.
Konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan mitra institusi dari berbagai latar belakang untuk membahas perkembangan ilmu akuntansi, manajemen, dan ekonomi yang semakin bersentuhan dengan isu keberlanjutan, digitalisasi, serta pemerataan akses ekonomi dan keuangan.
Tidak hanya berskala nasional, CAME 3 juga menghadirkan pembicara dari sejumlah negara, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, Australia, dan Uzbekistan.
Kehadiran pembicara internasional tersebut menjadi salah satu kekuatan CAME 3 dalam membuka perspektif yang lebih luas sekaligus memperkuat jejaring akademik antara Undana dengan komunitas pendidikan tinggi dan penelitian di tingkat global.
Antusiasme akademisi terhadap CAME 3 juga terlihat dari pelaksanaan sesi paralel yang diikuti 69 presenter.
Para presenter memaparkan berbagai hasil penelitian yang bersinggungan dengan isu akuntansi, manajemen, ekonomi, transformasi digital, ekonomi hijau, hingga pembangunan berkelanjutan.
Forum tersebut tidak hanya menjadi panggung untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang bagi para peneliti untuk bertukar gagasan, mendapatkan perspektif baru, membangun jejaring, serta membuka peluang kolaborasi penelitian di masa mendatang.
Dengan demikian, CAME 3 diarahkan menjadi ekosistem pertukaran pengetahuan yang dapat mempertemukan berbagai pendekatan dan pengalaman dari sejumlah negara untuk menjawab persoalan pembangunan yang semakin kompleks.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana, Dr. Rolland E. Fanggidae, S.Si., M.M., CHCP-A, menegaskan bahwa CAME 3 tidak dirancang sekadar sebagai kegiatan akademik rutin.
Menurutnya, konferensi tersebut merupakan bagian dari strategi FEB Undana untuk memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kontribusi akademik terhadap berbagai persoalan pembangunan.
“CAME 3 kami tempatkan bukan hanya sebagai ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi sebagai forum untuk mempertemukan gagasan, bukti ilmiah, dan perspektif dari berbagai negara.”
Ia berharap diskusi yang lahir dalam CAME 3 dapat memberikan kontribusi nyata terhadap bagaimana disiplin akuntansi, manajemen, dan ekonomi merespons tantangan ekonomi hijau, transformasi digital, serta pembangunan yang semakin menuntut keberlanjutan dan inklusivitas.
Menurut Dr. Rolland, perubahan lingkungan ekonomi global telah membuat orientasi pembangunan tidak lagi cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi.
Perusahaan, pemerintah, perguruan tinggi, maupun masyarakat kini dihadapkan pada tuntutan untuk memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, transparansi, tata kelola, pemerataan akses, serta pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Karena itu, ilmu akuntansi dituntut semakin mampu menghadirkan transparansi dan akuntabilitas, termasuk melalui penyediaan informasi yang berkaitan dengan keberlanjutan.
Di bidang manajemen, tantangannya adalah bagaimana mendorong inovasi, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Sementara ilmu ekonomi diharapkan terus memberikan landasan ilmiah bagi lahirnya kebijakan pembangunan yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Salah satu isu penting yang mendapat perhatian dalam CAME 3 adalah transformasi digital, terutama dalam sektor ekonomi dan keuangan.
Perkembangan teknologi memberikan peluang besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, meningkatkan efisiensi dunia usaha, serta memperkuat aktivitas ekonomi.
Menurut Dr. Rolland, perluasan akses digital harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi, tata kelola, perlindungan data, kesiapan kelembagaan, dan pemerataan akses.
Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya menghasilkan kemudahan bagi kelompok masyarakat yang telah memiliki akses teknologi, tetapi juga mampu menjangkau masyarakat yang selama ini berada di luar sistem keuangan formal.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kondisi pembangunan di Nusa Tenggara Timur.
Sebagai perguruan tinggi yang berada di NTT, Undana dinilai memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pengetahuan global dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Rolland mengatakan, isu inklusi ekonomi, keberlanjutan, transformasi digital, dan penguatan kapasitas masyarakat merupakan persoalan yang sangat dekat dengan tantangan pembangunan di NTT.
“Sebagai perguruan tinggi yang berada di Nusa Tenggara Timur, Universitas Nusa Cendana memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengetahuan global dapat diterjemahkan menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan daerah.”
Atas dasar itu, CAME 3 diharapkan menjadi jembatan antara global knowledge dan local challenges.
Gagasan dan hasil penelitian yang lahir dari konferensi diharapkan tidak berhenti di ruang seminar maupun publikasi, tetapi dapat berkembang menjadi rekomendasi kebijakan, penelitian lanjutan, kerja sama institusional, dan berbagai bentuk inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Lebih jauh, penyelenggaraan CAME 3 menjadi bagian dari komitmen FEB Undana dalam membangun budaya akademik yang terbuka dan kolaboratif.
Internasionalisasi tidak hanya dimaknai melalui kehadiran pembicara dari luar negeri, tetapi juga melalui perluasan jejaring penelitian, publikasi, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas institusi serta lintas negara.
Rolland berharap hubungan akademik yang terbentuk melalui CAME 3 dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret.
“Kami berharap setelah konferensi ini muncul kolaborasi yang lebih konkret, baik dalam bentuk penelitian bersama, publikasi, pertukaran pengetahuan, maupun kerja sama kelembagaan.”
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah konferensi tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya kegiatan.
Lebih penting dari itu adalah seberapa jauh gagasan, jejaring, dan kontribusi akademik yang lahir dalam konferensi mampu terus berkembang setelah kegiatan berakhir.
Melalui CAME 3, FEB Undana ingin menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai tempat produksi pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan tersebut dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Konferensi ini sekaligus menjadi momentum bagi Undana untuk memperkuat posisinya dalam jejaring akademik global, sembari tetap berpijak pada persoalan nyata di NTT.
Dengan mempertemukan akuntansi, manajemen, ekonomi, ekonomi hijau, transformasi digital, dan inklusi keuangan, CAME 3 diharapkan melahirkan gagasan yang mampu menjembatani kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan kebutuhan akan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Pada akhirnya, CAME 3 bukan hanya tentang apa yang dibahas selama konferensi, tetapi tentang apa yang dapat dilakukan setelahnya—bagaimana penelitian melahirkan kolaborasi, bagaimana gagasan menjadi rekomendasi, dan bagaimana pengetahuan global dapat diterjemahkan menjadi solusi bagi masyarakat lokal, nasional, hingga dunia.(*)



Komentar