GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Pendidikan
Beranda » Berita » Dari Sembako hingga Pendampingan Psikologis, FKM Undana Hadir untuk Korban Gempa Flores

Dari Sembako hingga Pendampingan Psikologis, FKM Undana Hadir untuk Korban Gempa Flores

NTTSatu.ID – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang terus menunjukkan kepeduliannya terhadap warga terdampak bencana gempa bumi di Flores. 

Tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan pokok kepada korban, FKM Undana juga mengirimkan tim psikolog untuk memberikan pendampingan dan pemulihan trauma bagi masyarakat di wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Nagekeo.

Aksi kemanusiaan tersebut menyasar sedikitnya 130 orang yang terdampak gempa Flores. Bantuan diberikan sebagai bentuk solidaritas keluarga besar FKM Undana terhadap mahasiswa maupun masyarakat yang keluarganya menjadi korban bencana.

Dekan FKM Undana, Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., mengatakan bantuan yang dikumpulkan tidak seluruhnya dikirim langsung ke Flores. Sebagian bantuan justru diberikan kepada para korban terdampak yang saat ini berada di Kota Kupang.

Hal itu dilakukan agar bantuan dapat langsung diterima oleh mahasiswa atau keluarga korban yang membutuhkan.

ICOSASTE 2026 di Kupang, FKIP Undana Bahas Masa Depan Pendidikan di Tengah Ledakan AI

“Kita kasih tidak ke Flores, tapi langsung ke kos. Nanti mereka ambil di fakultas saja,” ujar Prof. Apris saat diwawancarai di FKM Undana, Minggu, 31 Agustus 2026.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat sekitar 130 orang yang terdampak langsung oleh gempa di Flores dan menjadi sasaran bantuan dari keluarga besar FKM Undana.

Bantuan yang disalurkan terutama berupa kebutuhan pokok, termasuk beras dan bahan kebutuhan lainnya.

Penyaluran bantuan tersebut melibatkan berbagai unsur. Tidak hanya civitas akademika FKM Undana, gerakan solidaritas ini juga mendapat dukungan dari alumni, mahasiswa, orang tua mahasiswa hingga tokoh agama.

Para orang tua mahasiswa, perwakilan masyarakat, pendeta dan romo turut mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut.


FPKP Undana Gelar Konferensi Internasional, Potensi Peternakan dan Laut NTT Jadi Sorotan

Keterlibatan berbagai pihak menjadi bukti bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kerja sama dan kepedulian bersama.

FKM Undana pun berupaya memastikan bantuan yang terkumpul dapat menjangkau masyarakat dan mahasiswa yang benar-benar terdampak.

Selain melakukan penyaluran bantuan, FKM Undana juga terus melakukan pendataan terhadap mahasiswa yang memiliki keterkaitan dengan wilayah terdampak gempa.

Menurut Prof. Apris, proses validasi mahasiswa baru masih berlangsung hingga 9 September 2026. Dalam proses tersebut, pihak fakultas terus berkoordinasi dengan mahasiswa dan dosen untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan mahasiswa, termasuk mereka yang keluarganya terdampak bencana.

Pendataan tersebut menjadi penting agar kampus dapat mengetahui secara pasti kondisi mahasiswa dan memberikan dukungan yang diperlukan.

Direktris Piar NTT Sebut Kasus Oknum P3K di TTS Bisa di Pidana

FKM Undana tidak hanya melihat mahasiswa sebagai bagian dari proses pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar yang harus mendapat perhatian ketika menghadapi situasi sulit.

Perhatian FKM Undana terhadap korban gempa tidak berhenti pada bantuan logistik.

Fakultas yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat itu juga mengirimkan tim psikolog ke Kabupaten Nagekeo untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak.

Pengiriman tim psikolog dilakukan setelah adanya kebutuhan dan permintaan masyarakat akan kehadiran tenaga pendamping yang dapat membantu pemulihan kondisi mental dan psikologis warga pascabencana.

“Ada penyampaian dari mereka. Mereka membutuhkan tim pendampingan psikolog,” kata Prof. Apris.

Menurutnya, kebutuhan terhadap pendampingan psikologis merupakan salah satu persoalan penting yang harus diperhatikan dalam penanganan pascabencana.

Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan kerugian material, tetapi juga dapat menimbulkan trauma, kecemasan dan tekanan psikologis bagi masyarakat yang mengalami langsung peristiwa tersebut.

Karena itu, kehadiran tenaga profesional untuk memberikan pendampingan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat.

Kehadiran tim psikolog dari FKM Undana di wilayah terdampak mendapat respons positif dari masyarakat.

Warga merasa terbantu dan senang karena mendapatkan perhatian serta pendampingan langsung dari tenaga yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan dan psikologi.

“Masyarakat senang dengan kehadiran mereka,” ujar Prof. Apris.

Pendampingan yang dilakukan tim FKM Undana diharapkan dapat membantu masyarakat untuk perlahan bangkit dari tekanan dan trauma akibat bencana.

Selain memberikan dukungan psikologis, kehadiran tim juga menjadi bentuk solidaritas moral bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapi situasi sulit tersebut sendirian.

Keterlibatan FKM Undana dalam penanganan dampak gempa Flores menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kemanusiaan.

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika terjadi bencana.

Melalui bantuan pangan dan kebutuhan pokok, FKM Undana membantu memenuhi kebutuhan dasar korban.

Sementara melalui pengiriman tim psikolog, FKM Undana mengambil peran dalam proses pemulihan mental dan psikologis masyarakat.

Dua pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan korban bencana secara menyeluruh.

Gerakan kemanusiaan ini juga memperlihatkan kuatnya solidaritas keluarga besar FKM Undana yang melibatkan mahasiswa, dosen, alumni, orang tua mahasiswa dan tokoh agama.

Dengan semangat gotong royong tersebut, bantuan diharapkan dapat meringankan beban 130 warga terdampak gempa Flores sekaligus memberikan kekuatan baru bagi masyarakat untuk bangkit.

FKM Undana pun berharap masyarakat di wilayah terdampak dapat segera pulih, baik secara fisik, sosial maupun psikologis.

Bagi FKM Undana, pemulihan korban bencana bukan hanya soal membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kekuatan mental untuk melanjutkan kehidupan setelah bencana.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement