GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Inspirasi
Beranda » Berita » Berakar, Bertumbuh dan Berbuah, Pesan Penguatan Jemaat di GBI El-Shaddai Kupang

Berakar, Bertumbuh dan Berbuah, Pesan Penguatan Jemaat di GBI El-Shaddai Kupang

Ket: Kolase Foto Kegiatan PKM Mandiri di GBI El-Shaddai Kupang. (Alberto/NTTSatu)

NTTSatu.ID – Pertumbuhan sejati tidak cukup hanya dilihat dari perubahan yang tampak secara kasatmata. Lebih dari itu, pertumbuhan membutuhkan fondasi yang kuat agar setiap pribadi, keluarga, organisasi maupun komunitas mampu menghadapi tantangan, berkembang secara sehat dan menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertema “Berakar, Bertumbuh dan Berbuah” yang digelar di GBI El-Shaddai Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan PKM Mandiri yang dipimpin Dr. Ezra Tari, M. Th ini menghadirkan dua pemateri, yakni Nurhayati, S.Sos., MM dan Dr. Fenetson Pairikas, M.Pd.K. Keduanya membahas tema dari perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Nurhayati mengulas tema dari perspektif sosial dan kehidupan masyarakat, sementara Fenetson menyoroti bagaimana prinsip berakar, bertumbuh dan berbuah dapat diterapkan dalam membangun jemaat melalui kehidupan bersama, kepemimpinan, pelayanan dan pemberdayaan.

Dalam pemaparannya, Dr. Fenetson Pairikas menggunakan filosofi sebuah pohon untuk menggambarkan perjalanan pertumbuhan manusia maupun organisasi.

ICOSASTE 2026 di Kupang, FKIP Undana Bahas Masa Depan Pendidikan di Tengah Ledakan AI

Ia menjelaskan bahwa akar merupakan simbol dasar dan fondasi. Batang dan cabang menggambarkan struktur serta kepemimpinan, sedangkan kanopi dan buah menggambarkan dampak, perlindungan dan hasil nyata dari proses pertumbuhan.

Menurut Fenetson, sebuah pohon tidak mungkin berdiri kokoh jika tidak memiliki akar yang kuat. Demikian pula kehidupan manusia dan organisasi. Fondasi berupa iman, karakter, visi, misi dan strategi menjadi kekuatan utama untuk menghadapi berbagai tantangan.

Pertumbuhan yang sejati, katanya, bukanlah pertumbuhan yang merusak, melainkan pertumbuhan yang memulihkan.

Kehidupan yang sungguh-sungguh berakar dan bertumbuh pada akhirnya harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi Tuhan dan sesama.

Dalam perspektif iman, berakar berarti memiliki dasar, sumber dan relasi yang benar dengan sumber kehidupan. Pertumbuhan iman juga merupakan sebuah proses menuju kedewasaan di dalam Kristus.


FPKP Undana Gelar Konferensi Internasional, Potensi Peternakan dan Laut NTT Jadi Sorotan

Keluarga dan Pendidikan sebagai Media Pembentukan Karakter.

Prinsip tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam keluarga dan dunia pendidikan.

Keluarga dan sekolah memiliki peran penting sebagai tempat untuk menanamkan nilai dan membentuk karakter. Pendidikan Agama Kristen tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan atau kemampuan kognitif, tetapi harus mendorong lahirnya pengalaman iman yang mampu mentransformasi kehidupan.

Sebagaimana akar menentukan kemampuan sebuah pohon bertahan ketika menghadapi badai, demikian pula karakter dan iman menjadi kekuatan seseorang ketika berhadapan dengan berbagai persoalan kehidupan.

Fondasi yang kuat akan membuat seseorang tidak mudah tumbang ketika menghadapi tekanan dan perubahan.

Direktris Piar NTT Sebut Kasus Oknum P3K di TTS Bisa di Pidana

Bertumbuh Membutuhkan Proses

Fase berikutnya adalah pertumbuhan. Fenetson menggambarkan proses tersebut melalui batang dan cabang pohon.

Batang dan cabang merepresentasikan struktur, kepemimpinan, pelaksanaan rencana, komunikasi, partisipasi anggota serta pengelolaan sumber daya.

Pertumbuhan, menurutnya, tidak pernah berlangsung secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui sebelum seseorang maupun organisasi dapat menghasilkan buah.

Dalam kehidupan organisasi dan jemaat, komunikasi menjadi bagian penting karena berfungsi seperti jaringan yang mengalirkan informasi dari satu bagian ke bagian lainnya.

Sementara itu, keterlibatan anggota akan menumbuhkan rasa memiliki dan loyalitas terhadap organisasi maupun komunitas.

Karena itu, pertumbuhan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemimpin. Semua elemen harus mengambil bagian dalam proses tersebut.

Pemimpin Bukan untuk Dilayani, tetapi Melayani

Salah satu bagian penting yang disampaikan Fenetson adalah konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani.

Menurutnya, kepemimpinan tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai posisi, jabatan atau kekuasaan. Seorang pemimpin harus hadir untuk menggembalakan, melayani dan mengajar.

Pemimpin yang melayani tidak menempatkan dirinya sebagai pusat yang harus dilayani, tetapi justru hadir untuk memenuhi kebutuhan praktis maupun rohani orang-orang yang dipimpinnya.

Konsep tersebut dijelaskan melalui tiga pendekatan, yakni poimenika atau penggembalaan, diakonia atau pelayanan, serta didaskalia atau pengajaran.

Ketiga aspek tersebut menempatkan seorang pemimpin sebagai gembala sekaligus teladan yang bertugas membangun, menguatkan dan memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya.

Berbuah Berarti Menghasilkan Dampak

Setelah berakar dan bertumbuh, sebuah pohon pada akhirnya menghasilkan buah.

Demikian pula manusia, jemaat dan organisasi. Pertumbuhan yang sehat harus menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan dan kehidupan bersama.

Fenetson menekankan bahwa organisasi maupun bisnis tidak seharusnya hanya mengejar margin dan keuntungan jangka pendek.

Keberadaan sebuah organisasi harus mampu memberikan kontribusi sosial, membuka ruang bagi orang lain, menyerap tenaga kerja serta memberikan perlindungan bagi ekosistem komunitas di sekitarnya.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa besar hasil yang diperoleh, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Evaluasi Menjadi Bagian dari Pertumbuhan

Pertumbuhan juga membutuhkan evaluasi secara terus-menerus.

Strategi yang diterapkan perlu disesuaikan dengan perubahan kondisi internal maupun eksternal. Hal-hal yang tidak lagi produktif harus diperbaiki agar tidak menghambat pertumbuhan.

Dalam filosofi pohon, pemangkasan terhadap bagian tertentu bukan berarti menghentikan pertumbuhan. Sebaliknya, proses tersebut dapat membuka ruang bagi tunas dan pertumbuhan baru.

Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan jemaat, organisasi, keluarga maupun dunia usaha.

Buah Pertumbuhan Harus Menghasilkan “Panen”

Konsep “buah” dalam materi tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk hasil nyata.

Dalam bidang ekologis, pertumbuhan dapat terlihat dari tanah yang semakin tangguh, siklus air yang pulih serta hasil pertanian yang berkualitas.

Dalam organisasi dan pelayanan, buah pertumbuhan dapat terlihat dari lahirnya kader-kader yang siap diutus, memiliki keteguhan iman, keterampilan organisasi serta kesiapan untuk melayani di ruang publik maupun gereja.

Sementara dalam dunia bisnis dan karier, buah pertumbuhan dapat diwujudkan melalui profitabilitas yang berkelanjutan, inovasi, visi yang melampaui sekadar uang serta kemampuan menghadapi perubahan dan disrupsi.

Nurhayati: Pertumbuhan Tidak Bisa Dipisahkan dari Kehidupan Bersama

Sementara itu, Nurhayati, S.Sos., MM mengangkat tema “Berakar, Bertumbuh dan Berbuah” dari perspektif sosial dan kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan sosial, pertumbuhan seseorang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan di sekitarnya. Keluarga, komunitas dan masyarakat menjadi ruang penting bagi seseorang untuk belajar, membangun karakter, mengembangkan potensi dan memberikan kontribusi.

Karena itu, akar kehidupan sosial perlu dibangun melalui nilai, kepedulian, kebersamaan dan tanggung jawab.

Pertumbuhan kemudian terjadi ketika nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui relasi dan tindakan nyata. Sedangkan buahnya adalah kontribusi yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Perspektif tersebut memperkuat pesan bahwa kehidupan berjemaat bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana iman diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sosial.

Mengubah Paradigma Eksploitatif Menjadi Regeneratif

Pesan lain yang menjadi perhatian dalam materi Fenetson adalah pentingnya perubahan paradigma dari pendekatan eksploitatif menuju regeneratif.

Model eksploitatif cenderung mengejar hasil jangka pendek dan menggunakan sumber daya tanpa cukup memperhatikan keberlanjutan.

Sebaliknya, pendekatan regeneratif menekankan keberlanjutan, pemberdayaan manusia, kontribusi sosial dan investasi terhadap sumber daya manusia.

Dalam kepemimpinan, paradigma regeneratif diwujudkan melalui servant leadership, yakni kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan pemberdayaan jemaat maupun anggota.

Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya diukur dari seberapa besar hasil yang diperoleh hari ini, tetapi juga dari kemampuan menciptakan kehidupan, manusia dan kekuatan baru untuk masa depan.

“Rawat Akarnya, Lindungi Pohonnya”

Pada bagian akhir materi, Fenetson mengajak peserta untuk tidak hanya terpaku pada “buah” yang terlihat, tetapi memberikan perhatian serius terhadap akar sebagai sumber kehidupan.

Pesan tersebut dirangkum dalam ungkapan:

“Rawat Akarnya, Lindungi Pohonnya.”

Ungkapan tersebut menjadi refleksi bahwa keberhasilan jangka panjang membutuhkan proses dan fondasi yang sehat.

Akar yang kuat akan menghasilkan pertumbuhan yang kokoh. Pohon yang sehat akan menghasilkan buah. Sementara buah yang baik dapat kembali menjadi sumber kehidupan bagi orang lain dan generasi berikutnya.

Karena itu, “Berakar, Bertumbuh dan Berbuah” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah proses kehidupan.

Berakar berarti membangun fondasi yang kuat. Bertumbuh berarti bersedia menjalani proses, belajar dan berubah. Sedangkan berbuah berarti menghasilkan dampak yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Dari GBI El-Shaddai Kupang, pesan tersebut menjadi ajakan untuk membangun kehidupan dan jemaat yang tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga kuat secara spiritual, matang dalam karakter, sehat dalam kehidupan bersama serta mampu menghadirkan manfaat nyata bagi Allah, sesama, gereja, masyarakat dan lingkungan.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement